“Duh, saya baru baca . Untunglah Valda sudah mandiri, saya kaget tadi pas di sepeda motor, kok tasnya gendut banget? Ternyata ada setelan seragam batik di dalamnya. Diikat pakai sabuk. Saya yang bingung sempat nanya, ‘Buat apa dibawa, kan, hari ini pakai baju olahraga sampai pulang?’.”
Saya tergelitik membaca pesan tersebut. Pak Rifki—ayah Valda—yang mengirimkannya ke grup kelas 4. Sehari sebelumnya, Bu Tantri—wali kelas 4—menyampaikan pengumuman di grup yang sama. Mulai tahun ajaran ini, anak-anak harus berganti seragam setelah olahraga. Oleh karenanya, mereka diminta membawa seragam batik hijau.
Setidaknya, ada dua hal yang membuat saya tergelitik sekaligus kagum. Saya tergelitik dengan kecerdikan Valda. Ia mengikat seragamnya menggunakan ikat pinggang. Saya membayangkan, bagaimana Valda berpikir kritis agar seragamnya tetap aman meski terlipat di dalam tas.
Kemandirian Valda membuat saya kagum. Beberapa bulan ini, ibundanya berdinas di Jakarta. Praktis, Valda di rumah hanya bersama ayah dan kakak laki-lakinya saja. Meski demikian, Valda tak tinggal diam. Atau larut dalam kesedihan karena ditinggal ibundanya. Bahkan, Valda menjadi garda terdepan bagi dirinya sendiri. Meski tak disiapkan atau diingatkan oleh orang tuanya, Valda menunjukkan kemandirian dan kedewasaan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapkan sendiri kebutuhannya.
Baca juga: Menghitung Hari
Keesokannya, saya bertugas piket penyambutan. Seorag gadis kecil datang dengan membawa dua tas. Satu tas punggung dan sebuah tas jinjing. Di lehernya, melingkar selembar gulungan kacu pramuka. Ia mengulurkan tangan kanannya. Lalu mencium punggung tangan kanan saya dengan hidungnya.
“Mbak Valda hebat. Kemarin menyiapkan baju ganti olahraga sendiri, ya?” sapa saya sembari menyambut uluran tangan mungilnya.
Valda merespons dengan sipu dan senyum simpul.
Ternyata Valda tak hanya seorang pengamat ulung. Ia pun laik mendapat julukan (tambahan) baru: si cerdik. (A2)
