Seorang gadis kecil mengetuk pintu. Tak lupa mengucap salam. Gadis itu lantas mendekati meja saya. Wajahnya tampak menyiratkan kegalauan. Sebelumnya, saya mendengar ia bertanya kepada salah seorang guru di selasar. Ia menanyakan keberadaan Meisya—kakak kelasnya.

“Ada apa, Mbak Muti?” tanya saya.

Ya, gadis kecil yang tengah kebingungan itu ialah Mutiara. Tak hanya Mutiara, Kirana juga turut masuk ke ruangan saya.

“Mbak Meisya di mana, Bu Wiwik?” tanya Muti.

“Mbak Meisya di kelasnya, Nok. Di SD 1. Kenapa Mbak Muti mencari Mbak Meisya?” selidik saya.

“Saya mau mengambil jam tangan saya, Bu.”

“Jam tangan Muti dipinjam Mbak Meisya?”

“Enggak, Bu. Tadi saya titipkan waktu sedang wudu.”

Saya tak tega melihat kesenduan di wajah Muti. Beruntung, saya mengetahui kelas Meisya. Saya pun mengajak Muti menjumpai kakak kelasnya itu di kelas 5A. Sejak pagi hingga Zuhur tadi, Meisya mengikuti latihan nembang macapat di SDIH 02. Selepas Zuhur, ia kembali ke kelasnya.

Ups, Kirana mengusulkan diri.

“Saya boleh ikut, Bu?” pinta Kirana.

“Boleh. Yuk!”

Kami bertiga mengambil sandal. Muti dan Nana—sapaan akrab Kirana—mengekor di belakang saya. Saya mengajak mereka lewat tangga selatan.

“Ini ruangannya Pak Kambali,” jelas saya sembari menunjuk ruangan pertama di sisi kanan setelah tiba di lantai dua.

Mau salim sama Pak Kambali?” tawar saya.

Keduanya mengiakan dengan semangat.

Saya memperlambat langkah saya. Menengok dari kaca pintu. Pak Kambali tidak berada di ruangan. Kami pun melanjutkan perjalanan. Saya ajak dua gadis itu menuruni tangga menuju kantin. Kami lantas naik ke lantai 3. Akhirnya kami sampai di ruang kelas 5A. Saya mengetuk lalu membuka pintu. Di dalam kelas, ada Miss Line yang sedang berbicara di depan kelas. Didampingi Miss Rizqa.

Miss Line berasal dari Denmark. Ia didatangkan ke Hidayatullah untuk menjadi guru tamu Bahasa Inggris. Dua pekan ini, ia membersamai murid-murid SD Islam Hidayatullah. Setelahnya, akan berpindah ke SD Islam Hidayatullah 02.

Miss Rizqa menghampiri saya.

“Excuse me, can we see Meisya for a while?” pinta saya.

“Of course!” jawab Miss Rizqa.

Meisya segera menghampiri kami. Ia menyerahkan sebuah jam tangan kepada Mutiara.

“Tadi aku lupa mau mengembalikan,” terang Meisya.

“Iya. Enggak pa-pa, Kak,” respons Muti.

Kami pun lantas pamit. Kembali ke Sekolah.

Saya ajak Muti dan Nana lewat musala SDIH. Kami menuju Sekolah melalui jalan penghubung SDIH dengan SDIH 02. Setibanya di ujung tangga lantai satu, saya menitipkan sandal saya kepada Kirana. Dengan senang hati Kirana bersedia mengembalikan sandal wudu yang saya pinjam ke raknya.

“Terima kasih, ya, Mbak Nana.”

“Iya, Bu. Sama-sama.”

Saya sempat menunda langkah saya. Beberapa detik. Menunggu sesuatu dari Mutiara. Ternyata, Mutiara sudah bertolak menuju rak sandal. Saya pun berlalu. Melangkahkan kaki menuju ruangan saya.

Baca juga: Pembelajar Tangguh 

Saya melanjutkan pekerjaan saya. Sengaja, laptop tidak saya matikan saat mengantar Muti. Selang beberapa menit, Mutiara mengetuk pintu. Kali ini, ia sudah menggendong tas punggungnya.

“Assalamualaikum, Bu Wiwik.”

“Waalaikum salam, Mbak Muti.”

“Bu Wiwik, makasih, ya, tadi saya sudah diantar mengambil jam di kelasnya Mbak Meisya,” ucap Mutiara.

Ini dia yang tadi saya tunggu! Alhamdulillah. Berdesir hati saya. Mutiara menyempatkan diri mampir ke ruangan saya untuk mengucapkan terima kasih. Sebuah frasa pendek, namun sarat makna. Terima kasih kembali, Mutiara. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code