Langit gelap menyelimuti kota Semarang bagian bawah. Angin sepoi pun menyapa dengan ramah. Ternyata, Nafi (adik saya) sudah menunggu di depan rumah. Menunggu saya untuk berangkat sekolah. Semoga mendung di pagi itu banyak mengandung berkah. Amin.

Sekitar pukul 05.50, saya berangkat bersama Nafi. Dia masih kelas 7 di SMP Negeri 6 Kota Semarang. Hampir setiap hari kami berangkat bareng. Sekolahnya beralamat di Jl. Pattimura. Bisa saya ampirkan dulu melewati jalan opsi ketiga saya. Karena memang saya punya tiga opsi jalur menuju sekolah. Yaitu lewat Sigar Bencah, Lamper, atau Kaligawe.

Hari itu saya terjadwal piket penyambutan. Sehingga saya berangkat lebih gasik dari biasanya. Biasanya saya berangkat sekitar pukul 06.05. Sepanjang jalan, gerimis mengguyur perjalanan saya. Karena saya rasa tidak terlalu membasahi badan, saya sengaja tak memakai jas hujan. Dan benar, sampai sekitar jalan Dr. Wahidin (Java supermall naik sedikit) gerimis pun reda. Alhamdulillah.

Sesampainya di sekolah karena memang masih gasik, belum banyak siswa maupun guru yang datang. Waktu menunjukkan pukul 06.21. Lampu pun masih menyala sebab memang kondisi cahaya di luar gedung masih redup karena mendung. Saya masuk ke ruangan dan meletakkan tas serta melepas jaket coklat kesayangan. Saya pun segera beranjak mengecek bel apakah sudah dinyalakan atau belum. Ternyata perangkat bel sudah ready. Sehingga saya langsung menuju depan lobi untuk piket penyambutan.

Saat melewati pintu lobi, terpantau Pak Teguh—staf fungsional Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah Semarang—hadir dengan motor kesayangan beliau. Menghadiahkan senyum untuk saya sembari menuju tempat perekam sidik jari. Saya pun berjalan menuju depan lobi sambil menengok jam tangan. Terlihat waktu menunjukkan pukul 06.31. Lalu menempatkan diri untuk penyambutan.

Satu demi satu siswa datang dan bel masuk pun berdering. Kegiatan belajar mengajar saya hari itu tidak terlalu padat. Saya mengajar 4 jam pelajaran. Yaitu pelajaran BAQ saja. Saat BAQ kelas 1 ada sesuatu yang menjadi perhatian saya.

“Ustaz, tadi saya menyiapkan mejanya Ustaz,” lapor Adys.

“Masyaallah, terima kasih, ya,” respons saya.

“Sebenarnya saya mau menyiapkan dulu, Ustaz, tapi keduluan Adys,” celetuk Celline dengan wajah setengah sedih.

“Owh, iya, ndak pa-pa, Celline. Niat Celline untuk menyiapkan meja Ustaz sudah dicatat sebagai pahala oleh Allah, jangan sedih, ya!” bujuk saya.

Celline mengangguk dan mulai tersenyum. Saya pun menjelaskan kepada anak-anak bahwa walaupun kita baru berniat untuk berbuat baik, Allah sudah mencatatnya sebagai kebaikan, dan kita mendapatkan pahala. Wajah anak-anak pun berseri-seri.

Sikap Celline bukanlah hal yang bisa kita anggap remeh. Suatu hal yang luar biasa. Seorang anak kelas 1, sudah tertanam pada dirinya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Bahkan untuk kepentingan belajar Al-Qur’an. Meskipun Celline belum menyadari sepenuhnya. Dan paham betul value yang terkandung di dalamnya.

Kini, setiap BAQ hendak dimulai, ada saja yang melapor. Ada saja anak yang menyiapkan peralatan BAQ. Seperti meja, peraga, hingga buku prestasi yang ditata rapi. Masyaallah, dari satu anak yang sedih karena keduluan menyiapkan meja untuk saya, anak-anak yang lain menjadi tertular. Sehingga menjadi budaya yang positif dalam pembelajaran BAQ.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code