Libur telah tiba. Bagi pengabdi nonmagang. Pengabdi magang tetap masuk. Hari ini saya terjadwal piket. Pak Kambali telah mengatur jadwal pengasuhan PID (Program Induksi Dasar) bagi pengabdi magang. Ada Bu Yeni, Bu Iin, Bu Aza, Bu Wilda, Bu Dian, Bu Tantri, Bu Nisa, dan Pak Kholis. Sementara pengasuhnya adalah Pak Kambali, Bu Eva, Bu Shoffa, Bu Puput, Pak Adhit, Pak Aruf, dan saya. Meski libur, pengasuhan PID tetap berjalan. Bisa online maupun offline.
Kami mengawali kegiatan dangan membaca Al-Qur’an di ruang TU. Selain itu, hari ini saya juga terjadwal mengaji dengan Bu Yeni, Bu Iin, dan Bu Aza. Waktunya belum ditentukan. Bu Iin mendapat tugas ke UPGRIS. Sehingga, ngaji kali ini hanya bertiga. Kamis (26/06/2025) pagi, Bu Yeni dan Bu Aza menemui saya.
“Bu, hari ini ngaji-nya jam berapa?” tanya Bu Yeni.
“Nanti siang bakda Zuhur, gimana, Bu? Biar Bu Yeni dan Teman-Teman fokus bikin aransi dulu.”
“Nggih, Bu.”
“Kalau bakda Zuhur, ngaji-nya di musala saja, ya, Bu?” pinta saya.
Bu Yeni dan Bu Aza sepakat. Keduanya lantas pamit untuk melanjutkan kegiatan masing-masing.
Bakda Zuhur berjemaah, kami bertiga mulai mengaji. Di sudut kiri musala terdapat tumpukan dampar. Biasanya dipakai anak-anak.
“Mengajinya pakai dampar saja, Bu,” saran saya.
Kami bertiga mengambil meja lipat masing-masing.
“Șadaqallahul’aẓīm.”
Ngaji diakhiri.
“Saya saja yang mengembalikan, Bu,” pinta Bu Yeni, setengah memaksa.
Saya pun menyerah. Tidak jadi melipat meja kecil itu.
Apa yang dilakukan Bu Yeni, mengingatkan saya pada Arka. Murid kelas 1 yang pada 19 Juni lalu resmi naik kelas 2.
Suatu hari, Arka melihat ada tas temannya yang jatuh dari gantungannya. Tanpa berpikir panjang, Arka memungut tas tersebut. Ia lantas menggantungkannya di tempat yang seharusnya. Enteng saja Arka melakukan itu. Setelahnya pun, Arka tak memamerkan kebaikannya kepada siapa pun. Ia juga tak tahu kalau saya memergoki kebaikannya itu.
Selain ini, kepedulian-kepedulian Arka telah teruji di banyak peristiwa. Sebagian besar Catatan Anekdot di rapornya mendeskripsikan bukti kepedulian Arka. Maka, layaklah jika ia dinobatkan sebagai salah satu murid yang paling peduli.
Keteladanan Arka dan Bu Yeni autentik. Datang dari hati. Tanpa ekspektasi untuk dipuji. Apalagi dihadiahi. Semua murid, semua guru. Begitu kata mutiara yang pernah saya dengar. Bu Yeni dan Arka bukan saja murid saya. Keduanya sekaligus menjadi guru saya. (A2)
