Seperti biasa, pembelajaran diawali dengan doa dan tahfiz. Hari ini Ustazah Layla berhalangan hadir karena sedang ada rapat pukul 07.00. Jadi, saya dan Bu Yunita mendampingi doa dan tahfiz.

“Anak-Anak, cek-cek semangat dulu, ya. Mana semangatmu?” ucap saya.

“Ini semangatku,” jawab anak kelas 2.

Loh, kok masih ada yang lemas. Bu Indah ulangi lagi. Mana semangatmu?”

“Ini semangatku.”

“Mana-mana-mana?”

“Ini-ini-ini.”

“Alhamdulillah.”

Tidak seperti biasa, Salma terlihat lemas dan bersedih. Saya menahan diri untuk bertanya kepada Salma dan menunggu tahfiz selesai.

“Salma, kenapa? Tumben hari ini terlihat tidak semangat?” tanya saya.

Salma masih enggan menjawab.

“Salma boleh duduk di kursi untuk menenangkan diri.”

“Bu Indah, Nafiza nangis, Bu,” lapor Shaqueena.

“Elora, tolong ajak Nafiza duduk di kursi untuk menenangkan diri,” pinta saya ke Elora.

Saya memberikan waktu kepada Salma dan Nafiza untuk menenangkan diri. Kemudian menertibkan anak-anak kelas 2 yang lain untuk duduk di karpet. Bu Yunita sedang bersama Inara di luar kelas. Inara sepertinya juga sedang bersedih.

“Ini kenapa, pagi-pagi sudah bersedih?” tanya saya sambil menggoda Salma.

Salma tertawa. Sepertinya suasana hatinya sudah lebih tenang.

“Nafiza, Bu,” ucap Salma.

Loh, Nafiza kenapa? Sama besti kok saling diam.”

“Nafiza tidak mau duduk di samping saya, Bu. Ada Elora, jadi saya membelakangi saja.”

“Ada salah paham?”

Salma geleng kepala.

“Baik, setelah ini Bu Indah akan coba bertanya kepada Nafiza dulu, ya.”

Salma menggangguk.

“Nafiza sudah tenang?” tanya saya.

“Jika sudah tenang, yuk bicara dulu dengan Bu Indah,” imbuh saya.

Nafiza menolak.

“Kita bicara di belakang, supaya teman-teman yang lain tidak melihat,” bujuk saya.

Nafiza bersedia dan ikut saya duduk di belakang meja.

“Sekarang, Nafiza coba cerita, kenapa pagi-pagi sudah bersedih?”

“Tidak bisa berangkat gasik,” jawab Nafiza.

Oh, jadi Nafiza sedih karena tidak bisa berangkat gasik. Tadi Nafiza berangkat ke sekolahnya terlambat, tidak?”

“Tidak.”

“Oke, tidak mengapa hari ini belum bisa berangkat gasik, masih ada hari Kamis dan Jumat besok semoga Allah memudahkan Nafiza berangkat gasik. Yang penting Nafiza berangkat ke sekolahnya tepat waktu. Jadi, Nafiza masih berusaha untuk berangkat gasik.”

Nafiza hanya menganggukkan kepala.

“Nafiza tahu tidak? Salma sedih karena Nafiza, loh.”

          “Tidak tahu,” ucap Nafiza.

“Salma, sini duduk samping Bu Indah,” pinta saya kepada Salma.

“Nafiza. Salma tadi sedih. Salma kira, Nafiza tidak mau duduk di samping Salma,” terang saya.

“Salma, tadi itu Nafiza tidak mau duduk di sebelah Salma karena Nafiza sedang bersedih. Nafiza tidak bisa berangkat gasik. Jadi, bukan karena sedang marah dengan Salma.”

“Nafiza, Salma ternyata mengira Nafiza sedang marah, loh. Sehingga Salma sedih,” terang saya.

“He-he,” Nafiza tersenyum kecil.

Nah, ternyata ada kesalahpahaman antara Nafiza dan Salma. Salma mengira Nafiza sedang marah. Ternyata Nafiza sedang sedih karena tidak bisa berangkat gasik. Sekarang Salma berbaikan dulu, ya. Sama besti tidak baik jika saling diam.”

Saya meminta Nafiza dan Salma saling bersalaman. Namun, ternyata mereka tidak bersalaman. Mereka saling menatap lalu tertawa bersama. Melihat pemandangan itu, saya senang. Dua sahabat yang sudah berbaikan kembali.

Baca juga : Botol Minum

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code