“Allāhul kāfī rabbunal kāfī qaṣadnal kāfī wajadnal kāfī likulli kāfin kafānal kāfī wani’mal kāfī alḥamdulillāh,” bunyi bel, pertanda pergantian jam pelajaran.

Berbeda dengan yang di gedung lama, bunyi bel di gedung baru menggunakan selawat “Allāhul kāfī”. Salah satu alasan diganti karena letak gedung baru yang bersebelahan dengan SDIH 01. Bel penanda pergantian jam pelajaran di SDIH 01 sama dengan yang di gedung lama: selawat “Jibril”.

Tak berselang lama setelah bel berbunyi, anak-anak segera bersiap-siap untuk pelajaran selanjutnya: BAQ. Anak-anak keluar kelas. Berhamburan. Mencari tempat mengajinya masing-masing.

Jadwal saya saat itu: BAQ kelas 2 dan 3. Saya segera menuju musala—tempat mengaji kelompok BAQ saya. Sebagian besar ternyata sudah ada yang datang. Mereka menyiapkan diri dengan menata meja dan posisi tempat duduk. Tak hanya mengambil dan menata mejanya sendiri, mereka juga mengambilkan meja untuk saya. Tak ketinggalan juga tiang peraga. Tak berselang lama, semua sudah datang. Sudah full squad. Saya segera memulai pelajaran.

Saat hendak saya mulai, tiba-tiba Langit berjalan ke arah saya. Ia menuju ke tiang peraga. Kemudian mengangkat tiang peraga itu.

“Taz, saya izin untuk menggeser ke arah situ, ya,” pinta Langit.

“Oh, iya, silakan, tidak apa-apa,” balas saya.

Saat tiangnya diangkat Langit, peraga jilid yang menempel di tiang itu lepas. Ternyata, tak semudah yang ia kira. Tak sesuai yang ia harapkan. Peraga jilid yang lepas dari tiangnya, membuat Langit makin kesulitan.

“Hayo, loh,” teriak beberapa anak, dengan nada seperti menyalahkan.

Langit tampak panik. Kebingungan.

“Eh, jangan begitu. Ayo dibantu!” ujar saya.

Tanpa menunggu saya tunjuk, Adit dan Qaleed berdiri. Menuju ke tiang peraga. Kemudian membantu Langit memasang peraga ke tiangnya.

Atas kerja sama yang baik, peraga itu terpasang kembali di tiangnya. Akhirnya keinginan dan niat Langit bisa terwujud. Memindahkan peraga ke tempat yang lebih nyaman untuk dipandang. Membuat pelajaran di waktu itu menjadi lebih efektif dan nyaman.

Inisiatif anak-anak yang datang lebih dahulu kemudian mengambilkan peraga ialah niat dan perbuatan yang baik. Prakarsa Langit untuk menggeser tiang peraga ke tempat yang lebih nyaman dipandang, walau ada kendala yang harus dihadapi, juga niat dan perbuatan yang baik. Spontanitas Adit dan Qaleed, yang membantu Langit saat kesulitan tanpa menunggu ditunjuk, juga niat dan perbuatan yang baik. Itulah yang namanya tim. Kelompok. Harus kompak. Saling membantu. Dengan kekompakan dan sikap ringan tangan, kendala yang ada teratasi dengan cepat dan tepat. Belajar menjadi lebih efektif dan nyaman.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code