“Teman-Teman, pada hari Senin nanti, kita akan belajar di luar kelas. Kita akan belajar sekaligus bermain,” wara saya.
“Hore …!” seru anak-anak, yang sontak bergembira.
“Ke mana, Bu?” tanya beberapa anak.
“Ke Kampoeng Kopi Banaran.”
“Oh, kaya pas kelas 1, Bu. Kita dulu ke Taman Kelinci,” ucap salah seorang murid.
“Iya, betul.”
Demikian penggalan cerita hari Jumat (01/11/2024) yang lalu.
***
Senin (04/11/2024) adalah hari yang dinantikan kelas 2. Hari ini, kelas 2 SDIH dan SDIH 02 akan bermancakrida di Kampoeng Kopi Banaran. Di sana, mereka akan belajar sekaligus bermain. Kegiatannya terdiri dari: ice breaking, keliling kebun kopi dengan kereta wisata, out bound, keliling kebun untuk mengamati aneka tanaman buah, dan menjajal permainan tradisional. Permainan tradisional dibagi menjadi dua. Permainan tradisional 1, yaitu bermain bola beracun; dan permainan tradisional 2, yaitu bermain congklak, lompat tali, monopoli, ular tangga, dan bola bekel. Sistem bermainnya bergiliran per kelas. Pesertanya terdiri dari kelas 2A, 2B, 2C, 2D SDIH, dan kelas 2 SDIH 02.
Kelas 2 SDIH mendapat giliran untuk bermain permainan tradisional 1. Setelah itu, dilanjutkan naik kereta wisata untuk mengelilingi kebun kopi. Saat itu, saya, Bu Ambar, Shaqueena, dan Icha menjadi penumpang terakhir kereta wisata. Sepanjang perjalanan, kami menikmati pemandangan kebun kopi. Terdapat beberapa papan informasi yang terpajang di tepi jalan. Papan informasi ini berisi pengetahuan seputar sejarah kebun kopi, jenis kopi, dan sejarah tanaman kopi yang menjadi salah satu tanaman yang diberlakukan pada sistem tanam paksa. Sesekali Shaqueena dan Icha membaca informasi yang tertulis di papan.
“Tahun 1830, VOC membuat kebijakan Sistem Tanam Paksa. Salah satu tanaman yang dianjurkan adalah kopi,” ujar Icha, mengeja tulisan di papan informasi.
“Maksudnya bagaimana, Bu?” tanya Icha.
“Jadi, saat bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda, orang Belanda itu membuat kebijakan yang bernama Sistem Tanam Paksa, yaitu setiap desa wajib menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami beberapa tanaman yang ditentukan oleh orang Belanda. Salah satu tanamannya adalah kopi, Mbak Icha. Lalu, hasil panennya dijual ke luar negeri,” terang saya.
“Terus, upahnya diberikan kepada rakyat, tidak, Bu?” lanjut Icha penasaran.
“Iya, diberikan. Tetapi tidak seimbang dengan tenaga yang para buruh kerahkan. Jadi, diberi upahnya sedikit, Mbak Icha,” lanjut saya.
“Oh, begitu? Kasihan, ya, Bu?” sahut Icha.
“Iya, makanya Mbak Icha dan Mbak Shaqueena harus bersyukur. Sekarang bangsa Indonesia sudah merdeka. Tidak dijajah lagi. Tidak ada peperangan lagi. Mbak Icha dan Mbak Shaqueena bisa makan, belajar, dan bermain dengan tenang. Iya, kan?” timpal saya.
Icha dan Shaqueena mengangguk. Dugaan saya, mereka mencerna informasi yang saya sampaikan.
Hari ini saya senang sekali. Ini kali pertama saya membersamai anak-anak dalam kegitan widyawisata. Saya merasakan banyak manfaat dari kegiatan ini. Tidak hanya bermain, mereka juga belajar. Pembelajaran di luar kelas ini tidak hanya mengembangkan kecakapan motorik kasar dan kemandirian dalam menyelesaikan tantangan saja, tetapi juga mengenalkan pengetahuan baru yang anak-anak belum ketahui. Salah satunya tentang sejarah bangsa Indonesia pada zaman dahulu.
