“Bu Iin, mohon membimbing Fatih untuk English Conversation, nggih.”
Pesan tersebut dikirim Bu Wiwik pukul 13.37 WIB. Di grup wali kelas. Saat itu saya masih mengajar di kelas 4. Saya tidak memegang ponsel pintar saya. Untung saja, ada Bu Tantri. Beliau yang meneruskan informasi tersebut kepada saya.
Saat informasi tersebut sampai kepada saya, ada banyak pertanyaan di kepala saya.
“Membimbing English Conversation? Kenapa? Apakah untuk persiapan lomba? Atau untuk apa?” batin saya.
Saya langsung menelepon Bu Wiwik untuk memastikan. Ternyata Fatih sudah menunggu di kelas 2. Namun, saya belum menemukan jawaban atas pertanyaan saya. Karena saat menelepon, Bu Wiwik sepertinya masih ada percakapan dengan orang lain juga. Kami mengakhiri percakapan via telepon.
Waktu menunjukkan pukul 13.50 WIB. Saatnya anak-anak berkemas-kemas lalu bersiap pulang. Saya mengakhiri pelajaran bahasa Inggris pada hari itu. Saya menyilakan Bu Tantri untuk mengambil alih.
Saya bergegas menuju kelas 2. Namun, langkah saya terhenti di depan ruang meeting. Di situ ada Bu Wiwik yang hendak masuk ruangan. Saya meminta waktu beliau sebentar. Untuk menghapus rasa penasaran saya.
“Bu Wiwik, mohon maaf, ini saya mengajak Fatih ngobrol dalam bahasa Inggris untuk persiapan kegiatan apa, nggih, Bu?” tanya saya.
“Hanya diajak mengobrol biasa, Bu. Biasanya setiap hari Senin, Fatih bertemu Bu Nana untuk ngobrol dalam bahasa Inggris. Namun, ini saya sama Bu Nana ada rapat. Jadi, minta tolong, nggih, Bu Iin,” jawab Bu Wiwik.
“Oh, baik, Bu Wiwik. Saya kira untuk persiapan lomba atau apa,” ucap saya.
Alhamdulillah, rasa penasaran saya sudah terjawab. Saya menuju kelas 2. Di sana sudah ada Fatih yang sedang menunggu. Ia sedang duduk di karpet. Saya langsung menyapanya.
“Hi, Mas Fatih. How is your day?” sapa saya.
“I’m good,” jawabnya.
“How do you feel today?” tanya saya.
“Emmm, …, just good,” jawabnya.
“Are you happy? Sad? Or just so so?” selidik saya.
“So so,” jawabnya singkat.
“What are you doing today?” tanya saya.
“I learned something with Bu Balqis, Bu Puput, and Bu Yunita, too,” jawabnya.
Entah kenapa, saya merasa bahwa Fatih belum terlihat antusias. Ia terlihat agak murung. Saya masih belum menemukan topik yang membuatnya antusias.
“Aaaa, … what did you learn?” selidik saya.
“Fikih with Bu Balqis, Bahasa with Bu Puput, and PP with Bu Yunita,” jawabnya sembari melihat jadwal kelas 2.
“What is PP?” tanya saya.
“PP is Pendidikan Pancasila,” jawabnya.
“Ah, I see,” ucap saya.
Masih terjadi tanya jawab singkat antara saya dan Fatih. Saya masih mendominasi percakapan. Sampai pada akhirnya ada pertanyaan dari Fatih. Ia terlihat begitu antusias menanyakannya.
“Why we call orange is orange? But the color isn’t orange?” tanya Fatih penasaran.
“Pardon me?” ucap saya karena masih bingung dengan pertanyaan Fatih.
“Why, …” ucap Fatih.
“Uhum, …” respons saya.
“We call orange is orange, but the color is not orange, is tangine,” ucapnya samar.
“What is tangine? Is that kind of colors?” tanya saya.
“Yes,” jawabnya penuh semangat.
“Miss Iin don’t know about that. Let’s try to find it, first,” ajak saya sembari membuka aplikasi safari di ponsel saya.
Saya mengira itu adalah suatu warna yang tidak saya ketahui. Karena sebenarnya ada banyak sekali jenis warna. Jadi saya memilih mencari tahunya terlebih dahulu.
“Could you spell it?” pinta saya.
“Yes, …, T-A-N-G-E-R-I-N-E,” eja Fatih sembari saya tirukan dan saya ketik di ponsel.
“Aa, …, tangerine. Is not tangine, but it’s tangerine,” terang saya.
Saya sangat salut dengan pelafalan Fatih dalam bahasa Inggris. Ia begitu fasih mengucapkan kata per kata dalam bahasa Inggris. Namun, kali ini ia tidak begitu yakin dengan pelafalan kata “tangerine”. Benar saja, ada sedikit kesalahan pengucapan. Namun, saat dieja, ia bisa mengejanya dengan benar.
“You know what? Tangerine is jeruk keprok in Bahasa. It means tangerine is kind of jeruk, too,” ucap saya.
“Yes, but look at this. The color of orange is neon orange, not orange,” ucap Fatih sembari menunjuk color palette yang ada di layar ponsel saya.
Akhirnya saya sadar. Fatih, anak yang sangat kritis. Ia berhasil mengkritisi sebuah warna benda. Saya pun menjelaskan menggunakan bantuan spidol dan papan tulis.
“Ah, I see. Mas Fatih, this one is jeruk,” ucap saya sembari menggambar sebuah jeruk. Lalu saya beri tanda “=” dan di sampingnya saya beri tulisan “jeruk”. “Why we call the color of jeruk is orange?” lanjut saya sembari menggambar tanda panah dilanjutkan kata “orange?”.
“Why?” tanya Fatih.
“Wait. And why it’s not tangerine or neon orange?” tambah saya sembari menulis kata “tangerine?” di atas kata “orange?”. Dan kata “neon orange?” di bawah kata “orange?”.
“Ya, why?” tanyanya penasaran.
“Because orange is more general while tangerine and neon orange are more specific,” jelas saya sembari menggambar tanda panah dilanjutkan dua kata “more general” di samping kata “orange?”. Serta tanda panah dilanjutkan dua kata “more spesific” di samping kata “orange?”.
“But why it’s not light orange or dark orange?” kejarnya.
“It’s same. Light orange and dark orange are more spesific, too,” jawab saya. “Let’s see the color palette,” lanjut saya sembari meminta Fatih melihat color palette di layar ponsel saya.
Saya jelaskan kembali menggunakan bantuan color palette yang ada di layar ponsel saya. Saya pilih color palette berbentuk lingkaran. Lingkaran tersebut terbagi menjadi beberapa bagian. Seperti potongan kue. Tiap potongan memiliki warna yang berbeda. Dari bagian terluar sampai ke bagian terdalam pun berbeda. Mulai dari gelap ke terang.
Saya menemukan bagian warna orange. Dengan gradasi dari gelap ke terang. Saya menjelaskan kembali ke Fatih bahwa ada berbagai macam warna orange yang lebih spesifik. Akhirnya penjelasan saya bisa diterima oleh Fatih.
“Look at this, Mas Fatih. We can’t say orange or jeruk with neon orange, light orange, or dark orange. Because there are so many types of orange color. Therefore, to make it easier and more common we use orange,”
“That’s why there are so many different colors of oranges in the garden or on the farm?” tanyanya memastikan.
“Yash, of course. There are many different types of oranges in different countries, too. Like in Indonesia, we have oranges with a greenish orange color. We can’t call it greenish orange. We still call it orange,” jelas saya. “Okay?” tanya saya sekadar memastikan.
“Okay,” jawab Fatih sembari menganggukkan kepala.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Ternyata kami sudah mengobrol kurang lebih satu jam. Fatih sudah dijemput. Saya persilakan ia berkemas.
“So every Monday, Mas Fatih has a schedule to talk with Mrs. Nana using English?” tanya saya.
“Yes,” jawabnya singkat sembari mengemasi barang-barangnya.
“Where?” selidik saya.
“In her room,” jawabnya.
“Ah, okay. If you want to speak English with me, you can come to my room in class 3 anytime,” ucap saya.
“Okay, but can you speak English?” tanya Fatih.
Pertanyaan terakhirnya membuat saya geli. Bagaimana bisa ia bertanya apakah saya bisa berbicara bahasa Inggris. Padahal dengan kondisi kami sedang berbicara menggunakan bahasa Inggris.
“But, why Mrs. Nana love English so much?” tanya Fatih.
“I don’t know. Maybe because Mrs. Nana studied English at university. You can ask her tomorrow,” jawab saya.
“Okay, see you,” ucap Fatih sembari melambaikan tangan dan menuju ke luar kelas.
“See you,” balas saya sembari melambaikan tangan kepada Fatih.
Begitulah percakapan kami berlalu. Ada rasa senang dan bangga. Dan saya jadi menyadari beberapa hal. Terkadang kita sebagai seorang guru mendapatkan ilmu baru bukan hanya dari berbagai pelatihan. Bukan hanya dari berbagai narasumber hebat. Melainkan bisa jadi dari anak-anak yang selama ini kita didik.
Berkat Fatih, saya jadi mengenal lebih banyak warna secara spesifik. Berkat pemikiran Fatih yang sangat kritis, saya juga turut berpikir lebih kritis. Berkat Fatih, saya belajar lebih banyak mengenai hal yang mungkin bahkan tidak terpikirkan. Berkat Fatih, hari itu hati saya terasa penuh. Terima kasih, Fatih.
