Seorang gadis kecil mengetuk pintu.
“Assalāmu’alaikum,” ucapnya ramah.
“Wa’alaikumussalām, Mbak Adys,” jawab saya sembari menerima uluran tangan gadis itu.
“Pagi sekali sudah datang. Diantar siapa tadi?” tanya saya.
“Aku, eh, saya tadi diantar mama.”
“Oh. Lalu mama langsung berangkat kerja?” selidik saya.
“Iya,” jawab Adys.
“Mbak Adys sudah salat Subuh?”
“Belum,” jawab Adys malu-malu.
“Kalau begitu Mbak Adys salat dulu, ya. Di sini enggak pa-pa,” pinta saya.
Adys mengangguk. Ia melepas kaus kaki dan menggulung lengan bajunya. Adys lantas membaca niat wudu. Saudara kembar Adys—Gabi—menyusul ke ruangan saya. Saya menduga, Gabi juga belum salat Subuh. Dan ternyata benar. Tanpa basa-basi, saya minta Gabi mengikuti Adys. Keduanya pun berwudu.
Adys selesai wudu lebih dahulu. Saya minta Adys menunggu Gabi. Namun, rupaya Gabi cukup lama di kamar mandi. Saya pun mempersilakan Adys salat “Subuh” tanpa menunggu Gabi. Saat Adys tahiat akhir, Gabi telah selesai berwudu dan masuk ke ruangan saya. Saya meminta Gabi melaksanakan salat.
Bel masuk berbunyi. Adys telah menyelesaikan salatnya sebelum bel. Ia lantas memakai kembali kaus kakinya. Adys pamit untuk kembali ke kelas.
“Alhamdulillah, Mbak Gabi sudah salat Subuh.”
Gabi tersenyum sambil salim. Ia lantas bergegas memakai kaus kaki dan menuju kelas.
***
Jam istirahat pertama, Adys kembali menyambangi saya. Sekadar mengobrol ringan. Salah satunya tentang kucing kesayangannya. Tiba-tiba Adys mengutarakan sesuatu yang membuat saya terharu.
“Besok, saya mau salat Subuh di rumah,” janji Adys.
“Masyaallah. Iya, Bu Wiwik doakan semoga Allah mudahkan Adys dan Gabi, ya.”
Keesokan paginya, Adys mengetuk pintu ruangan saya.
“Bu, tadi pagi saya sudah salat Subuh di rumah,” lapor Adys sembari salim.
“Masyaallah, anak salihah,” respons saya sambil mengusap kepala Adys.
“Gabi juga salat?” selidik saya.
“Iya. Sekarang saya mau salat Duha, seperti Aqilaa dan Azka,” lanjut Adys penuh semangat.
Baca juga: Duga yang (Sempat) Tertunda
Semoga kebaikan yang dilakukan Adys dan teman-temannya menjadi kebiasaan yang menetap. Tentunya dengan rida Allah Swt.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran:8)
