“Teman-Teman, tadi ketika mau makan siang, apakah piringnya sudah ditata di rak?” umpan saya sambil tersenyum penuh makna.
“Belum!” seru murid-murid dengan suara polos.
Biasanya, kami—guru-guru—yang menatanya. Tapi hari ini saya sengaja membiarkan rak kosong karena sebuah misi kecil yang sudah saya rancang. Sebelumnya, memang pernah beberapa anak yang datang paling pagi saya tawari membantu menata. Bukannya merasa terbebani, mereka justru tampak senang.
“Lalu, apa yang terjadi dengan piringnya?” selidik saya lagi, dengan nada menggiring.
“Belum ditata,” jawab seorang anak dengan wajah datar.
“Piringnya masih basah,” sambung Zavier. Ia mulai menangkap arah pertanyaan saya.
“Betul, Mas Zavier,” sahut saya sambil mengangguk.
“Kalau piringnya masih basah dan airnya masih nempel, lalu dipakai untuk makan, kira-kira gimana?”
“Nanti makannya bisa kecampur sabun!” teriak Zahra.
“Bisa sakit perut!” timpal Fahmi dengan suara serius.
Lalu meledaklah celoteh-celoteh spontan khas anak-anak.
“Kalau begitu, harusnya bagaimana?” pancing saya lagi.
“Ditata,” jawab Khalif mantap.
“Yang menata siapa?” uji saya lagi.
“Bu guru,” jawab mereka, polos sekali.
Saya pura-pura menghela napas panjang, lalu berkata pelan, “Anak-anak bersyukur saat ini piringnya masih dicucikan oleh Pak Har. Satu pekan kemarin juga Bu Guru yang menata piringnya. Kemudian Mas Abee, Mas Hafidz, dan Mas Khalif juga pernah membantu. Tapi apakah Bu Guru terus yang menata? Bu Guru, kan, tidak ikut makan pakai piring itu, kira-kira siapa yang bertanggung jawab menata?” tanya saya.
“Anak-anak,” jawab semua anak.
“Kalau begitu, sepakat?” tanya saya sambil mengangkat alis.
Mereka diam. Tidak ada yang menjawab.
“Anak-anak setuju?” ulang saya sambil menatap mereka satu per satu.
“Setujuuu!” akhirnya terdengar jawaban bulat itu. Alhamdulillah, misi saya mulai berhasil.
“Caranya bagaimana?” lanjut saya.
Mereka terdiam. Beberapa tampak bingung.
“Baik, kalau begitu, Bu Eva dan Bu Yeni akan mengajak anak-anak membuat jadwal piket. Jadi, nanti setiap Senin sampai Jumat akan ada lima anak yang menjadi petugas piket setiap harinya. Nah, tugas piketnya apa saja?”
Saya tuliskan perlahan di papan tulis:
Anak-anak membaca bersama-sama.
“Sekarang anak-anak boleh memilih mau piket di hari apa. Yang Bu Eva tunjuk, silakan maju, lalu tuliskan namamu di papan tulis sesuai hari piket yang diinginkan.”
Satu per satu mereka maju. Ada yang dengan percaya diri langsung menulis namanya. Ada pula yang masih ragu dan berpikir lama, menimbang-nimbang harinya. Wah, keren sekali! Di balik raut wajah serius itu, mereka sedang belajar membuat keputusan—hal yang tidak mudah bahkan untuk orang dewasa.
Sampai akhirnya, hari Jumat tersisa satu nama. Arsyila tidak masuk hari ini.
“Teman–Teman, Bu Eva izin menulis nama Arsyila di hari Jumat, ya,” kata saya sambil melirik ke arah nama-nama yang sudah tertulis.
Keesokan harinya, rak piring masih kosong. Dan pagi itu, hanya sedikit anak yang sudah datang.
“Siapa yang hari ini piket?” tanya saya.
“Saya, Bu,” jawab Emmer sambil mengangkat tangan.
Petugas piket hari Jumat: Kaysha, Arka, Malik, Emmer, dan Arsyila.
Beberapa menit kemudian, muncullah Arka. Saya dan Emmer mengangkat keranjang piring yang sudah dicuci untuk diletakkan di dekat rak. Emmer dan Arka mulai menata satu per satu.
Seena datang. Meski tidak terjadwal piket, ia ikut membantu.
Tak lama, Malik datang. Setelah menata isi tasnya dengan rapi, ia langsung menyusul teman-temannya di dekat rak.
Setiap anak yang di kelas pagi itu saya tanya. Yang membuat saya tersenyum, mereka ingat hari piketnya!
Siang selepas salat Zuhur, meski belum ada guru di kelas, beberapa anak putri langsung menata katering makan siang.
Saya teringat kelas yang saya ampu tahun sebelumnya. Meski jadwal piket dipajang selama berbulan-bulan, anak-anak masih sering lupa jadwal piketnya.
Tapi kali ini berbeda. Mungkin karena mereka dilibatkan langsung. Mereka memilih sendiri harinya. Sehingga keputusan itu datang dari mereka. Maka, rasa tanggung jawabnya pun ikut tumbuh. Semoga, ya. Amin.
