Pekan ini, KBM sudah berjalan normal. Jadwal reguler mulai diberlakukan. Sepekan sebelumnya, anak-anak mengikuti MPLS. Namun, guru masih diberi keleluasaan jika masih membutuhkan waktu lebih lama untuk penguatan budaya sekolah. Jam wali kelas dapat dimanfaatkan untuk menuntaskan penguatan budaya sekolah. Akomodatif, sesuai kebutuhan.
Rabu (23/07/2025), saya mendapat kabar bahwa murid-murid kelas 4 diminta mengikuti kegiatan donasi untuk Palestina di musala SDIH. Segera saya cek jadwal. Di waktu yang bersamaan, murid-murid kelas 4 terjadwal BAQ. Saya sempat bimbang. BAQ diliburkan atau tetap dilaksanakan. Jika diliburkan, saya tidak perlu merekayasa jadwal sedemikian rupa. Jika BAQ tetap berjalan, masih ada opsi yag bisa dipilih.
“Bu Na’im, hari Jumat besok anak-anak kelas 4 diminta mengikuti kegiatan di musala SDIH. Insyaallah, mulai pukul 07.30. Bu Na’im menghendaki tetap ada BAQ atau BAQ-nya diliburkan dulu?” tutur saya di ujung gawai.
Bu Na’im ialah koordinator BAQ SDIH 02. Beliau mulai bertugas sejak 1 Juli 2025. Saya memandang perlu untuk mengomunikasikan kepada Bu Na’im. Terkait kegiatan BAQ Jumat itu. Sebenarnya, saya sudah punya kecenderungan. Namun, saya juga mesti meminta pendapat dari Bu Na’im.
“Kalau diliburkan, kok, eman-eman, nggih, Bu Wiwik,” respons Bu Na’im.
“Alhamdulillah. Nggih, Bu. Insyaallah, BAQ bisa tetap berjalan. Namun perlu ditukar jamnya dengan kelas 3. Bagaimana jika demikian, Bu?” usul saya.
Bu Na’im sepakat dengan usul saya.
Bel sekolah berbunyi. Anak-anak bergegas berbaris di selasar kelas. Saya menuju kelas 4 di lantai 2. Ustaz Aruf memimpin pendampingan doa pagi. Usai berdoa, Ustaz Aruf memberikan kesempatan kepada saya. Saya pun mengambil alih kendali kelas.
“Teman-Teman, mari kita murajaah surah Al-Fātiḥah,” komando saya.
“Tasdiq.”
“Teman-Teman, setelah ini silakan berbaris di dekat tempat wudu lantai 1. Sepatunya dibawa. Kita akan menyambut tamu dari Palestina. Nanti Anak-Anak akan dikasih bendera. Jaga diri, ya. Ikuti arahan Bapak/Ibu Guru yang ada di sana,” terang saya.
Tak lagi perlu banyak penjelasan. Anak-anak sudah paham. Bu Tantri—wali kelas 4—pasti sudah menjelaskan detail kegiatannya.
Anak-anak diberi bendera. Ada yang mendapat bendera Indonesia, ada pula yang memperoleh bendera Palestina. Bendera plastik dengan tongkat sedotan. Di bagian bawah tongkat terdapat peluit. Peluit itu dilepas dan dikumpulkan. Rupanya ada beberapa bendera yang peluitnya belum dikumpulkan. Saya lupa bendera siapa saja.
“Mas, peluitnya dilepas, ya. Dikumpulkan.”
“Jangan, Bu,” rengek beberapa anak putra.
“Oke, Bu Wiwik percaya kalian bisa jaga diri. Selama kegiatan di musala, peluitnya jangan ditiup, ya.”
“Iya, Bu. Janji.”
Baca juga: Dapat Dipercaya
Tamu yang dinanti pun tiba. Dua orang anak berwajah khas Timur Tengah. Namanya Majdi dan Abdurrahman Annas Al-Masrih. Dilihat dari tampilan fisiknya, saya memperkirakan mereka seusia dengan anak-anak sekolah dasar. Setelah menyambut di lapangan, anak-anak menuju musala di lantai 3. Mereka duduk bersila dalam tiga lajur. Putra di depan, putri di belakang.
Saya mendampingi anak-anak putra. Bersyukur, mereka masih menunaikan janjinya. Tidak meniup peluit. Setelah beberapa lama, saya pun mundur ke belakang. Saya terlena dengan meriahnya acara. Pun anak-anak. Mereka tampak antusias menyimak orasi dari kedua tamu istimewa itu.
Di belakang, Langit menyiapkan diri untuk mewakili Sekolah menyerahkan donasi.
“Saya kalah ganteng, Bu,” celoteh Langit.
Celoteh Langit itu saya balas dengan senyuman. “Anak ini, ada saja idenya,” senandika saya.
Tiba saatnya kembali ke Sekolah. Saya baru menyadari akan janji anak-anak tadi. Kesadaran saya tergugah saat Iqbal meniup peluitnya sembari menuruni tangga. Meski acara sudah selesai, saya tetap mengingatkan Iqbal untuk tidak meniup peluitnya dulu. Iqbal menurut.
Saya kagum dengan kesungguhan anak-anak memegang janji. Mereka berhasil menahan diri dan menepati janji. Selama kurang lebih 2,5 jam, anak-anak menunggu untuk bisa meniup peluit yang ada di tangan mereka. Nyatanya berhasil. Mereka membuktikan bahwa mereka bisa dipercaya. Di tengah riuhnya acara, mereka bisa saja meniup peluit tanpa ketahuan. Namun, itu sama sekali tidak mereka lakukan. Ah, lagi-lagi saya belajar dari guru-guru kecil saya. (A2)
