“Ustaz, Fatih-nya nggak ada,” ujar Al-Fatih setelah doa bersama BAQ.

“Oh, iya, … ya. Fatih di mana, ya?” respons saya seketika.

“Biar saya cari, ya, Ustaz,” tanggap Al-Fatih menawarkan diri.

“Mmm, iya, minta tolong Fatih dicari, ya,” pinta saya.

Beberapa saat kemudian Al-Fatih kembali masuk ke musala. Namun, Fatih tak ada bersamanya. Saya akhirnya turun tangan mencari Fatih. Anak-anak saya pesan untuk memulai BAQ dengan murajaah hafalan dulu.

Saya menduga Fatih berada di kantin. Eh, ternyata benar. Dia duduk manis di tengah-tengah kelompok mengajinya Bu Eva. Saya bujuklah Fatih untuk ke tempat mengaji yang sebenarnya, yaitu kelompok saya.

“Ayo, Fatih. Ustaz hitung sampai tiga harus sudah ke musala, ya!” instruksi saya.

Dengan wajah yang setengahnya tertutup masker—sehingga hanya terlihat kedua matanya saja—ia menunjukkan ekspresi yang tak mengenakkan. Saya pun menghitung sampai tiga dan berjalan menuju musala. Sampai di musala, kok tak ada yang mengikuti saya? Saya pun menengok ke belakang dan berjalan perlahan keluar musala. Terlihat Fatih ndelosor di lantai dengan badan tengkurap.

“Astagfirullah, Fatih!” respons saya kaget.

Saya pun segera menghampiri Fatih. Saya pegang tangannya lalu saya tarik sedikit untuk mengajaknya bangun.

“Ayo, Fatih, teman-teman sudah menunggu!” bujuk saya.

Badannya yang besar cukup menyulitkan saya untuk membangunkannya. Akhirnya saya pakai jurus yang sudah saya pelajari.

“Fatih, Ustaz telepon Ummi, ya?” ujar saya.

“Jangan …,” responsnya.

“Ok, kalau tidak mau, berarti harus bersegera!” bujuk saya lagi.

Tanpa ada jawaban, Fatih pun segera berdiri dan menuju musala.

Saya belum tahu pasti alasan Fatih ingin ikut mengaji dengan Bu Eva. Cukup saya berasumsi, di kelompok saya Fatih kurang nyaman. Entah karena cara saya mengajar, atau kurang nyaman dengan teman-temannya. Jika memang dia kurang nyaman dengan cara saya mengajar, saya harus berpikir kembali bagaimana cara mengajar yang menyenangkan.

Pembelajaran BAQ saya akhir-akhir ini memang terasa kurang maksimal. Tentunya dalam hal “menyenangkan”. Apakah karena sudah mendekati akhir semester, sehingga saya fokus pada target capaian pembelajaran? Atau ada hal lain? Saya harus muhasabah.

Sampai suatu hari saat mengikuti PTT (Penguatan Tahsin Tilawah) saya mendapat pesan WA dari Pak Kambali. Beliau mengingatkan untuk tidak terlalu ambisius mengejar target capaian mengaji anak-anak. Saya harus fokus pada upaya agar anak-anak senang mengaji.

Masyaallah. Terima kasih, Fatih. Terima kasih, Pak Kambali. Lagi-lagi saya lupa akan niat saya mengajar Al-Qur’an. Yaitu menjadikan anak-anak cinta terhadap Al-Qur’an. Bukankah jika saya menekan anak-anak untuk mengejar target akan berdampak pada kemauannya mengaji? Astagfirullah.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code