Pelajaran SBdP kali ini, Bu Wiwik punya kejutan baru: membuat kincir angin. Semua alat dan bahan sudah tersedia. Ternyata, kincir-kincir ini hasil belanjaan Bu Wiwik di marketplace. Ide beliau memang tiada habisnya.

Saya jadi teringat masa kecil. Dulu saya juga diajari membuat kincir. Tapi versi hemat: pakai kertas HVS atau karton biasa. Digunting, ditempel, dan ditiup pelan-pelan agar berputar. Sederhana tapi membahagiakan.

Kali ini berbeda. Kincir yang disiapkan Bu Wiwik jauh lebih cantik.
Kertasnya tebal, berwarna, dengan gambar yang bisa diwarnai. Gagangnya pun terbuat dari plastik. Tinggal rangkai, jadi!

Langkah pertama: anak-anak mewarnai dulu bagian kincirnya. Setelah itu, baru dirakit. Dan seperti biasa, antusiasme anak-anak tak pernah setengah-setengah. Kesibukan pun dimulai.

Arka menjadi yang paling cepat menyelesaikan kincirnya. Tapi bukan cuma itu, ia juga berhasil menemukan sendiri cara merakit kincir itu. Dengan sigap, Arka ikut membantu teman-teman yang kesulitan merakit.

“Arka, dari sana lari ke sini, ya Bu Wiwik rekam,” ujar Bu Wiwik sambil bersiap dengan kamera.

Arka mengangguk. Ia menuruti, meski wajahnya sedikit malu-malu. Tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Kincirnya berputar indah tertiup angin. Anak-anak yang lain pun langsung ikut menyala semangatnya.

Satu demi satu, kincir pun selesai dibuat. Kelas berubah jadi taman bermain mini. Kincir warna-warni diputar, ditiup, dibawa lari. Bahkan sampai jam istirahat. Ups, bahkan sampai waktu pulang.

Tapi seperti biasa, beberapa anak memilih untuk tetap tinggal di Sekolah. Main dulu, belum mau langsung pulang.

Tiba-tiba Nadhif berlari ke arah saya.

“Bu Eva, Gabi nangis!”

“Di mana, Nadhif?”

“Ayo, Bu, ikut saya!” katanya panik sambil berlari kecil.

Benar saja. Di atas lantai, Gabi terduduk sambil memegangi kincirnya yang sudah bercecer. Wajahnya sembab.

Sebelum saya sempat bertanya, Adys menyahut, “Tadi kita lari-lari, Bu, balapan kincir, terus Gabi jatuh.”

Saya segera menenangkan Gabi. Di saat bersamaan, Kaisar juga datang menghampiri. Ia duduk di depan Gabi, matanya penuh perhatian.

“Saya mau bantu pasang kincirnya Gabi, ya, Bu,” ujar Nadhif, sambil mengambil kincir Gabi yang rusak.

“Gabi, ikut aku, yuk. Kita main ke lapangan,” bujuk Kaisar dengan nada meyakinkan.

Dan alhamdulillah, dua anak itu berhasil.

Gabi mulai tenang dan mengiyakan ajakan Kaisar. Kincirnya juga kembali berputar berkat tangan sigap Nadhif.

Siapa sangka, dari kincir sederhana itu, anak-anak belajar banyak hal.
Bukan sekadar prakarya untuk mainan, tapi juga banyak kebaikan yang hadir bersamaan.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code