“Kami sangat bersyukur sekali. Insyaallah, kami melibatkan anak-anak dalam kegiatan ini dengan segala peran dan keunikannya. Semata-mata untuk edukasi anak-anak. Dan bahkan kami pun harus mengakui, ternyata anak-anak lebih berhasil daripada gurunya.”

Itulah sepenggal kalimat pembuka Pak Kambali saat sesi peluncuran buku pada acara Ekshibisi Akhir Tahun sekolah kami.

Sedianya, kami meluncurkan lima buku tulisan murid-murid dan lima buku tulisan para guru. Rencana tinggallah rencana. Hingga detik terakhir acara peluncuran, buku tulisan guru belum naik cetak. Buku tulisan anak-anak-lah yang disajikan secara langsung dalam acara tersebut.

Cukup kecewa. Namun, saya menyadari sepenuhnya bahwa kegagalan ini akibat kesalahan kami juga. Yang terpenting, kami jadikan ini sebagai bahan evaluasi dan nantinya tertindaklanjuti. Semoga.

Sepulang sekolah, saya merebahkan diri. Kegiatan hari ini cukup menguras energi. Meski lelah, ada kepuasan tersendiri. Anak-anak telah berupaya menampilkan versi terbaik mereka.  Sembari rebahan, saya membuka aplikasi WhatsApp. Saya klik “updates”. Masyaallah, senyum semringah merekah.

“Literasi anak-anak nggak cuma belajar rajin membaca. Juga rajin menulis yang setiap tahun dibuatkan kumpulan cerita anak-anak. Isinya lucu-lucu. Cerita ala-ala anak-anak. Nggak mungkin melewatkan cerita mereka. Satu demi satu (dibaca) dengan (membayangkan) kepolosan anak-anak. Semangat menulis, Nak saleh salihah ,” tulis Bunda Fillio.

“Suka banget sama buku ‘Goresan Kisahku’. Isinya tulisan anak-anak saleh salihah. Masyaallah, lucu-lucu banget tulisan polos anak-anak,” tulis Bunda Rafka (kelas 1) dan Deva (kelas 3) sebagai takarir foto buku yang dilampirkan.

Lain lagi dengan Bunda Arka (kelas 1), beliau menulis caption yang menggelitik.

“Lucunyaaa. Anak-anak menulis cerita. Ciri khas anak-anak (yang) baru setahun lulus TK. Masyaallah. Singkat, padat, dan kadang nggak jelas . Ahh, tapi keren anak-anak, nih. Dan sama Sekolah dijadikan buku ini, tulisan tangan anak-anak. Banyakin lagi, Buuu, anak-anak nulis ceritanya . Boleh juga disuruh nulis cerita yang bikin sedih, yang bikin marah. Itung-itung release emosi .”

Hilang sudah rasa kecewa yang sempat menggelayut. Berganti rasa haru dan syukur. Saya teringat bagaimana perjuangan teman-teman guru mewujudkan buku-buku sederhana itu. Terlebih, anak-anak, yang rela direvisi berkali-kali.

“Capek, Bu.”

“Saya bingung mau nulis apa, Bu.”

Berkali-kali rengekan itu terdengar. Para guru bergeming. Mereka tetap konsisten mengawal anak-anak berproses. Dan benar saja, proses tak mengkhianati hasil. Meski sederhana, tulisan-tulisan itu akan menjadi prasasti. Bukti proses anak-anak bertumbuh. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code