Kamis, 19 Juni 2025, menjadi hari yang penuh semangat di SD Islam Hidayatullah 02. Bagaimana tidak? Hari itu sekolah kami menggelar Ekhibisi Akhir Tahun Ajaran 2024/2025, sebuah acara yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa dan guru. Anak-anak tampil dengan percaya diri membawakan penampilan terbaik mereka—unik, autentik, dan menggemaskan.
Saya mendapat amanah sebagai pengendali murid tampil, bertugas memastikan setiap penampilan siap sebelum tampil di panggung. Selain itu, saya juga membantu mendandani murid-murid kelas 2 yang akan tampil—kelas yang saya asuh sepanjang tahun ini. Untungnya saya tidak sendiri. Ada Bu Iin, guru baru yang sigap mendampingi anak-anak selama saya bertugas.
Pagi itu, nasi kotak dibagikan lebih awal agar para guru dan staf sempat sarapan sebelum acara dimulai. Saya pun menyempatkan diri untuk makan sebentar di kelas. Namun, baru beberapa suap, sebuah pesan masuk ke grup WhatsApp dari Bu Wiwik.
“Jam 7 anak-anak langsung diarahkan untuk duduk di depan panggung, doa bersama, dan pembekalan, njih, Bapak/Ibu.”
Bu Iin segera mendampingi anak-anak ke depan panggung. Sementara itu, saya menyelesaikan sarapan di kelas. Doa bersama pun dimulai. Dari dalam kelas, saya turut mengaminkan.
Tak lama, Tristan datang tergesa-gesa. Napasnya tampak tersengal-sengal, mungkin karena menyadari teman-temannya sudah berkumpul lebih dulu.
“Bu, saya doa di mana?” tanyanya.
“Di sini saja. Teman-teman sudah selesai. Setelah itu langsung bergabung ke depan panggung, ya,” jawab saya.
Tanpa banyak bicara, Tristan mengambil tempat di sudut kelas, mengangkat tangan, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Saya terdiam sejenak, memperhatikan kekhusyukannya yang begitu tulus.
Beberapa menit kemudian, dua gadis datang—Elora dan Inara. Mereka juga tampak terburu-buru, mengenakan busana putih bersih untuk penampilan mereka.
“Bu Yunita, doa di mana?” tanya mereka.
“Di sini saja, di depan papan tulis.”
“Oke, Bu.”
Mereka segera mengangkat tangan, menundukkan kepala, dan mulai berdoa. Tapi beberapa detik kemudian, mereka mendekati saya.
“Bu, awal doanya gimana, ya?” tanya mereka lirih.
“Robbi zidnī `ilmā ….”
“Oh, iya!”
Mereka kembali berdoa, lalu bergabung bersama teman-teman di depan panggung.
Hati saya dipenuhi rasa haru dan bangga. Walau datang terlambat dan dalam keadaan tergesa, mereka tidak lupa untuk berdoa. Kebiasaan baik yang selama ini ditanamkan oleh Bapak/Ibu guru ternyata melekat kuat dalam diri mereka. Bahkan saat lupa, mereka tidak malu untuk bertanya.
Itulah momen sederhana namun penuh makna yang saya dapati hari ini. Anak-anak ini mengajarkan bahwa kebaikan, meskipun kecil, jika dibiasakan dengan teladan, akan terus tumbuh dan berbuah.
Terima kasih, Tristan, Elora, dan Inara. Kalian hebat!
