“Tasdik bersama,” aba-aba Ustazah Layla.
“Ṣadaqallāhul`aẓīm,” jawab anak-anak majelis Ustazah Layla.
“Anak-Anak, silakan meja ngaji dikembalikan ke tempat semula,” komando Ustazah Layla.
“Mas Abri dan Mas Aldric, Ustazah minta tolong alat peraga diletakkan di sebelah sana!” tambah Ustazah Layla.
Ustazah Layla meninggalkan kelas 1. Anak-anak mengembalikan buku mengaji ke dalam loker masing-masing.
“Bu Indah, kalau di Arab, mencuri, tangannya dipotong?” tanya Muti.
Saya menutup laptop dan merespons pertanyaan Muti.
“Iya, di negara Arab, barang siapa yang mencuri maka hukumannya adalah dipotong tangannya,” jawab saya.
“Hah, nanti tidak punya tangan, dong?”
“Iya, maka dari itu, kita harus menggunakan tangan kita dalam hal kebaikan.”
Muti mengangguk dan saya menganggap bahwa ia mengerti.
“Hayo, tadi Ustazah Layla bepesan apa sama Mas Abri dan Mas Aldric?”
Abri dan Aldric tidak menjawab, tetapi segera memindahkan alat peraga ke sebelah meja Bu Eva.
“Jī-na,” ucap Abri sambil menunjuk tulisan Ummi jilid 3.
“Jī-na,” ucap Aldric mengikuti Abri.
“Hī-na.”
“Hī-na.”
Pandangan saya tertuju kepada Abri dan Aldric. Abri memperagakan persis seperti ustaz. Aldric juga seolah-olah seperti murid yang mendengarkan Ustaz. Saya mengabadikan momen itu dengan jepretan kamera ponsel. Anak-anak yang lain pun ikut memperhatikan.
“Kalian difoto sama Bu Indah,” celetuk Muti.
Abri dan Aldric seolah tidak memedulikan hal itu. Mereka tetap asyik beperan sebagai ustaz dan murid.
Sekarang giliran Aldric beperan sebagai ustaz dan Abri sebagai murid. Aldric menunjuk buku Ummi jilid 3 halaman 14. Aldric mencontohkan cara membaca dan Abri menirukan.
Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Tidak perlu waktu lama mereka dapat menirukan. Aldric dan Abri contohnya. Mereka berdua lihai mempraktikkan peran sebagai ustaz dan murid. Setiap anak adalah peniru yang andal. Oleh karena itu, penting untuk memberikan contoh yang baik.
Baca Juga: Saya Bukan Aku
