Liburan sekolah tinggal tersisa kurang dari sepekan. Tahun ajaran baru sudah tampak di depan mata. Bagi guru dan tenaga kependidikan (GTK), tahun ajaran baru identik dengan tugas-tugas baru. Pelaksanaan tugas-tugas itu mesti dipersiapkan satu demi satu.

Selasa, 8 Juli 2025, seluruh GTK SD Islam Hidayatullah (SDIH) 02 mulai masuk. Para guru berkumpul di ruang kelas 2. Ada dua “penyusup”: Pak Kambali dan Pak Teguh. Pak Kambali outside insider. Beliau menjadi orang luar karena sejak awal bulan ini tidak lagi berdinas di SDIH 02. Namun, sebenarnya beliau orang dalam lantaran beliaulah yang menakhodai SDIH 02 selama 4 tahun sejak berdiri. Jadi, orang dalam yang sedang berada di luar. Sedangkan Pak Teguh orang asing yang sudah usang. Orang asing karena ia tidak pernah menjadi bagian dari SDIH 02. Sudah usang lantaran masa tugasnya sudah akan berakhir dalam hitungan hari.

Semua yang hadir duduk lesehan membentuk formasi huruf U. Sisi depan, sejajar dengan papan tulis, dibiarkan kosong. Pak Teguh duduk di penjuru kiri. Di sebelah kanannya ada Pak Kambali. Keduanya di sisi timur, menghadap ke pintu. Disusul Ustaz Aruf dan Ustaz Adhit, menghadap ke papan tulis. Selang beberapa jengkal, berturut-turut ada Bu Indah, Bu Eva, dan Bu Tantri. Bu Iin menyambung, tetapi menghadap ke timur. Di sebelah kanannya ada Bu Shoffa, Bu Yeni, Bu Yunita, dan Bu Wiwik. Lalu disambung Bu Puput dan ditutup Bu Naim di ujung kanan.

Tepat pukul 07.35, forum dibuka. Bu Wiwik—guru paling senior dan baru saja dinobatkan sebagai Wakil Kepala Sekolah—memandu acara. Sudah menjadi tradisi Sekolah, setiap forum diawali dengan tahfiz Al-Qur’an. Ustaz Aruf memandu seluruh hadirin bersama-sama melafazkan surah Al-Insyirah dan At-Tīn. Kalam suci mengalun khidmat. Suasana pagi menjadi hangat.

Bu Wiwik kemudian menyilakan Ustazah Naim untuk memperkenalkan diri. Beliau mendapat amanah baru sebagai Koordinator BAQ. Sebelumnya, Ustazah Naim guru BAQ di SDIH 01 (SD Islam Hidayatullah).

“Di sini biasanya memanggilnya Pak/Bu, Ustaz/Ustazah, atau apa, ya?” tanya Ustazah Naim membuka perkenalan.

“Mbak saja. Mbak Naim,” celetuk Pak Teguh spontan.

Seketika hadirin tertawa lepas. Tercipta suasana cair, lebih santai, dan penuh canda.

Usai perkenalan Ustazah Naim, Pak Kambali diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan pengantar. Memang, kegiatan ini direncanakan ketika Pak Kambali masih menjabat Kepala Sekolah.

“Saya sempat bimbang saat merencanakan pelatihan ini,” ujar Pak Kambali membuka sambutan.

“Kalau diadakan pada hari libur, ‘Libur-libur kok disuruh pelatihan!’ Kalau diadakan pada hari efektif KBM, ‘Lagi banyak pekerjaan kok pelatihan!’ Serba sulit,” sindirnya, yang disambut tawa pengiyakan dari para guru.

“Akhirnya kami putuskan mengambil waktu liburan,” lanjutnya. “Sedianya kita jadwalkan tanggal 23 dan 24 Juni. Namun, karena kita harus mengikuti kegiatan SD 01 dan QLC, akhirnya kita geser ke hari ini,” terangnya.

“Ada yang belum lulus SD atau MI?” tanya Pak Teguh, begitu tiba gilirannya berbicara. “Di IPA SD/MI ada pelajaran tentang perkembangbiakan makhluk hidup. Ada berapa cara perkembangbiakan makhluk hidup?” lanjutnya.

Para guru terlihat bengong, belum bisa menerka arah pertanyaan Pak Teguh. Juga banyak yang mengernyitkan dahi. Mencoba mengingat-ingat pelajaran yang didapat belasan tahun sebelumnya.

Akhirnya ada yang menjawab, “Ada tiga, Pak. Bertelur, melahirkan, dan bertelur-melahirkan.”

“Terlalu cepat menjawabnya,” komentar Pak Teguh. “Padi, kan, tidak bisa bertelur maupun melahirkan?”

Ustaz Adhit cepat tanggap. “Dua. Vegetatif dan generatif,” sambarnya.

Pak Teguh lalu membahas perkembangbiakan generatif dan vegetatif pada tumbuhan. Masih seperti guru SD. Sampailah pada pertanyaan yang kembali membuat dahi berkerut: apa keunggulan dan kelemahan pohon mangga cangkokan dibandingkan pohon mangga hasil tanam biji?

“Mangga cangkokan lebih cepat berbuah. Kalau yang ditanam dari biji, prosesnya lama,” jawab Bu Eva, sigap.

“Ya, betul sekali. Apa lagi?”

Pak Teguh berdiri, mencari-cari spidol di sekitar papan tulis dan meja guru. Bu Indah cekatan. Dia bangkit dan berjalan ke salah satu meja di belakang tempat duduknya. Sejurus kemudian sebatang spidol—baru, masih berselimut plastik—sampai di tangan Pak Teguh.

Sambil menggambar di papan tulis, Pak Teguh mengajak para guru—yang sedang menjadi “murid-muridnya”—membedakan perakaran antara pohon hasil tanam cangkokan dan hasil tanam biji. “Murid-murid” pun manggut-manggut. Tidak sekadar ingat, tapi mereka juga paham. Pohon hasil cangkokan hanya punya akar serabut. Batangnya rentan terhadap terpaan angin. Sedangkan pohon hasil tanam biji punya akar tunggang yang menghunjam ke dalam tanah. Batangnya jadi kuat menahan terjangan angin.

Tapi, apa hubungannya dengan manajemen kelas—topik obrolan pagi itu? O, ternyata Pak Teguh hendak melunasi utangnya. Sepekan sebelumnya, Bu Eva mengajukan pertanyaan: kalau anak-anak tidak boleh dipaksa, lalu bagaimana kita menanamkan kebiasaan baik kepada mereka? Pertanyaan ini terkait manajemen kelas. Sementara, topik perbincangan hari itu asesmen pembelajaran. Maka, Pak Teguh menunda menjawabnya. Ia berjanji untuk membahasnya dalam pertemuan berikutnya, yang mengangkat topik manajemen kelas.

Penanaman disiplin melalui paksaan itu ibarat tanaman hasil cangkokan. Rapuh ketika ketanggor konflik nilai. Sebaliknya, disiplin akan kokoh dalam segala situasi bila tumbuh dari nilai-nilai yang menghunjam menjadi keyakinan. Kebiasaan yang berurat berakar pada keyakinan nilai-nilai keutamaan itulah akhlak. Proses dari penanaman nilai hingga pembentukan kebiasaan itu butuh waktu lama, tapi awet. Berbeda dengan hasil pemaksaan, yang cepat membuahkan perilaku positif tetapi mudah goyah oleh kebutuhan pragmatis sesaat.

Oalah, botani ala SD itu digunakan sebagai analogi saja. Ibarat belaka. Tamsil semata. Baru sekejap kerutan alis “murid-muridnya” mengendur, Pak Teguh kembali melontarkan pertanyaan, “Lalu apa pangkal tolak akhlak dan adab itu?”

Kembali sunyi. Tidak kunjung muncul jawaban.

“Apa yang terjadi setelah Eyang Adam ʽalaihi as-salām memakan buah dari pohon yang mendekatinya saja dilarang?” tanyanya kemudian.

Ustazah Naim menyahut cepat, “Seketika pakaiannya lepas.”

“Lalu apa yang dilakukan Nabi Adam?” kejar Pak Teguh.

“Memunguti dedaunan untuk menutupi tubuhnya,” jawab seorang guru.

“Kenapa? Berarti, Nabi Adam merasa apa?”

“Malu.”

O, iya. Di dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan beberapa imam hadis lainnya terekam sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia dari kalam nubuat sejak dahulu kala adalah ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”

Akhlak manusia berpangkal tolak pada rasa malu. Seseorang tidak akan tega berbuat dosa selagi masih punya malu. Sebaliknya, ketika sudah kehilangan rasa malu, orang merasa aman-aman saja untuk berbuat apa pun.

Ketika sudah menginternalisasi suatu nilai tertentu—menjadi keyakinan hidup yang menghunjam dalam hati—seseorang akan mengidentifikasikan dirinya pada nilai tersebut. Ia malu untuk melakukan perbuatan yang menyelisihi nilai tersebut. Malu untuk menjadi bukan dirinya sendiri.

“Selesai. Silakan kalau ada yang perlu disampaikan. Kalau sudah tidak ada, kita pulang,” seloroh Pak Teguh.

Pelitnya mulai kumat. “Dukun”—julukan yang sering ditahbiskan oleh yang bersangkutan sendiri dan baru-baru ini ditashihkan oleh Bu Shoffa—yang satu ini memang terkenal sulit mengobral pengetahuan. Ia lebih suka membedah persoalan berdasarkan kebutuhan audiens.

Secara bergantian, para guru “mengadukan” pengalamannya. Cerita-cerita empiris—perilaku murid dan cara penanganannya—mengalir satu per satu. Masing-masing dibedah dengan “pisau” manajemen disiplin positif. Tiap pendapat divalidasi sejauh mana efikasinya dalam membentuk akhlak yang konsisten dan spontan.

Dalam sharing itulah Pak Teguh memperkenalkan segitiga restitusi. Dianne Gossen menawarkan restitusi sebagai strategi penanganan pelaku pelanggaran disiplin. Restitusi dipromosikan menjadi alternatif bagi dua pendekatan yang lebih dulu populer: sanksi dan konsekuensi.

Diskemakan dengan segitiga karena restitusi ditempuh melalui tiga tahap. Pertama, menstabilkan identitas. Diakui atau tidak, pelaku pelanggaran disiplin pasti merasa bersalah. Bisa saja dia tidak mengakui kesalahannya, tapi itu semata-mata demi menghindari dakwaan yang berujung sanksi atau konsekuensi. Artinya, dia harus menyangkal perasaannya sendiri karena berada dalam posisi tidak nyaman. Jika menghendaki pengakuan jujur, konselor—atau guru apa pun yang melakukan konseling terhadap murid—harus terlebih dulu menetralisasi emosi konseli.

Menstabilkan identitas berarti membuat pelaku kesalahan merasa diterima sebagaimana wajarnya manusia. Bukankah manusia memang “pabrik” kesalahan dan kelalaian? Konselor mesti menenteramkan perasaan konseli. Kepada konseli perlu diperdengarkan ungkapan tulus yang membesarkan hati semisal “Semua orang pernah berbuat salah.” Kalau perlu, konselor boleh bersandiwara: “Pak Guru dulu juga pernah melakukan kesalahan seperti yang kaulakukan.” Di sini berlaku kaidah serupa dengan yang lazim dipegang hakim: konselor tidak boleh menangani murid bermasalah selagi ia menaruh emosi terhadap si murid.

Tahap kedua, memvalidasi kebutuhan. Tidak ada perbuatan yang dilakukan tanpa tujuan, motif, atau niat. Bukankah ada hadis populer yang menyatakan bahwa sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya? Motif perbuatan dipicu oleh kebutuhan. Jadi, pada tahap ini konselor menggali kebutuhan yang mendorong (menjadi motif) konseli melakukan pelanggarannya.

William Glasser membagi kebutuhan dasar manusia menjadi lima golongan: (1) keamanan, (2) kebebasan, (3) kesenangan, (4) kepemilikan, dan (5) kekuasaan. Keamanan berkaitan dengan kebutuhan untuk bertahan hidup. Semua kebutuhan dalam golongan ini bersifat fisiologis (jasmaniah). Sementara, empat kelompok yang lain mencakup kebutuhan-kebutuhan psikologis (rohaniah). Setiap perbuatan manusia—positif atau negatif—dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan pada salah satu atau lebih kelompok kebutuhan dasar tersebut.

Validasi kebutuhan menjadi modal penting bagi konselor. Dengan memahami kebutuhan yang menjadi motif perbuatan konseli, kelak konselor dapat menawarkan alternatif perilaku yang tepat. Artinya, konseli punya pilihan tindakan untuk memenuhi kebutuhannya dengan tetap memegang teguh nilai keutamaan yang sudah menjadi keyakinannya.

Tahap ketiga, mengorek keyakinan. Konselor menanyakan keyakinan konseli akan nilai-nilai keutamaan yang sudah diterima sebagai prinsip hidup. Kemudian konseli mengidentifikasi nilai yang dilanggar dalam perbuatannya. Lalu, konselor memfasilitasi konseli untuk memikirkan alternatif perilaku. Yakni, perilaku lain yang bisa menjadi alternatif untuk menyalurkan hasrat demi memenuhi kebutuhannya, tetapi selaras dengan nilai-nilai keutamaan yang diyakini. Bila dipandang perlu, konselor bisa menawarkan alternatif-alternatif untuk dipilih.

Teranglah bahwa restitusi berorientasi pada restorasi perilaku. Berbeda dari sanksi dan konsekuensi yang berbau “penebusan dosa”, restitusi menekankan pertobatan. Restitusi tidak mempermalukan “pendosa” di depan orang lain, tetapi memfasilitasi pelaku untuk “bercermin” pada nilai-nilai yang menjadi keyakinannya sendiri. Ketika menyadari kelalaiannya, dia tidak malu kepada orang lain, tetapi malu kepada dirinya sendiri. Mirip Nabi Adam ketika tersingkap auratnya, bukan?

Restitusi mendorong pelaku pelanggaran disiplin untuk belajar dari kesalahannya. Dengan memetik pelajaran dari kesalahannya yang lalu, murid menemukan sendiri cara memperbaiki perilakunya. Pertobatan melalui self-regulated learning ini lebih berpeluang menjadi wahana penguatan karakter. Bukankah ini mirip pertobatan Nabi Adam atas kezalimannya terhadap dirinya sendiri?

Pengenalan restitusi membuka wawasan baru dalam hal strategi pembentukan disiplin positif. Kunci keberhasilan restitusi terletak pada keyakinan akan nilai-nilai keutamaan. Nilai-nilai kebajikan yang diterima, diyakini, dan dihayati sebagai prinsip hidup. Nilai-nilai yang tertanam kuat sebagai identitas diri yang layak untuk diperjuangkan.

Lalu, bagaimana agar anak-anak memperoleh keyakinan akan nilai-nilai luhur itu? Inilah pertanyaan yang tampaknya masih bergelayut di benak para partisipan perbincangan hari itu.

(Bersambung)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code