Dua pertiga masa liburan kenaikan kelas sudah berlalu. Sepekan lagi sekolah memulai tahun ajaran baru. Selain murid-murid lama yang naik ke jenjang kelas berikutnya, kehadiran murid-murid baru akan turut kembali meriuhkan suasana sekolah setelah 3 pekan lengang.
Menyambut tahun ajaran baru, tentu sekolah sudah menyiapkan program dan kegiatan untuk dieksekusi setahun ke depan. Semua dirancang sebagai strategi untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan sekolah. Dapat dipastikan, Dapat dipastikan, semuanya—visi, misi, tujuan, program, dan kegiatan sekolah—didedikasikan untuk kepentingan murid.
Sesempurna apa pun rancangan program dan kegiatan sekolah, eksekusinya tidak selalu semulus yang dirumuskan. Sekolah bukan aktor tunggal. Untuk merealisasikan program sekolah, dibutuhkan peran serta seluruh pemangku kepentingan. Orang tua atau wali murid menjadi salah satu pemangku kepentingan yang tidak bisa diremehkan kontribusinya dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan program sekolah.
Menyadari hal tersebut, SD Islam Hidayatullah 02 pada Sabtu, 5 Juli 2025, menggelar PGOTW (pertemuan guru dan orang tua/wali murid) kelas 1. Sebanyak 21 orang tua/wali hadir. Ada yang hadir lengkap, ibu dan ayah. Ada yang hanya perwakilan, ibu atau ayah saja. Tidak sedikit pula yang datang bersama putra/putrinya.
Dari pihak Sekolah hadir lengkap: seluruh guru dan tenaga kependidikan (GTK), kecuali tenaga lapangan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, PGOTW kali ini dihadiri dua kepala sekolah sekaligus. Untuk diketahui, pergantian Kepala SD Islam Hidayatullah 02 turut mewarnai pergantian tahun ajaran. Pak Kambali, yang menjabat sejak 2021, digantikan oleh Bu Ratna Arumsari, yang sebelumnya Kepala SMP Islam Hidayatullah (2020—2025) dan Kepala SD Islam Hidayatullah (SD 01; 2015—2020). Selain Bu Nana—sapaan akrab Bu Ratna Arumsari—tampak juga sejumlah wajah baru. Memang, tahun ini Sekolah menambah beberapa guru dan tenaga kependidikan. Sayang, Ketua Komite Sekolah berhalangan hadir.
Pertemuan yang dilangsungkan di ruang kelas 1 itu dipandu oleh Bu Dian, guru Al-Qur’an yang didapuk sebagai pewara. Setelah pembukaan, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an memecah keheningan pagi. Bu Shoffa, guru kelas 3 cum hafizah, memandu tahfiz surah Al-Insyirah. Berikutnya, Kepala Sekolah mendapat giliran untuk menyampaikan sambutan.

“Saya yakin, setiap anak punya potensinya masing-masing,” ujar Bu Nana, mengawali sambutannya. “Oleh karena itu, kami mohon Bapak/Ibu berkenan membantu kami menggali potensi tersebut,” sambungnya.
Bu Nana tidak hanya berbicara kepada orang tua/wali murid. Kehadiran anak-anak tidak disia-siakan. Mereka tak luput disapa.
“Coba, di sini siapa yang suka menggambar?” selidiknya.
Beberapa anak mengangkat tangan, tanda pengakuan sebagai pemilik hobi yang ditanyakan.
“Siapa yang suka berenang?”
Ada anak yang mengangkat tangan meski terlihat malu-malu.
Bukan Bu Nana kalau tidak tampil interaktif di depan anak-anak. Beliau melanjutkan bertanya, “Mengaji?”
Wow, … anak-anak terlihat sangat antusias merespons. Banyak yang mengangkat tangan tinggi-tinggi. Cinta Al-Qur’an menjadi salah satu standar mutu lulusan Sekolah. Kegemaran mengaji yang sudah dimiliki anak-anak tentu menjadi modal sangat berharga.
Menutup sambutan, tidak lupa Bu Nana menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada ibu/bapak yang telah memberikan kepercayaan kepada SD Islam Hidayatullah 02 sebagai sekolah pilihan bagi putra/putri tercinta.
Meski sudah tidak berdinas di SD Islam Hidayatullah 02, Pak Kambali masih ketiban sampur. Beliau didaulat untuk memaparkan program Sekolah. Sesi ini diawali dengan perkenalan. Tidak hanya guru-guru yang mengempu kelas 1 yang diperkenalkan, tapi semua GTK yang hadir. Memang, di sini berlaku dalil “semua GTK adalah guru bagi semua murid”.
Pak Kambali menyampaikan paparan secara runtut. Visi Sekolah dikenalkan. Indikator ketercapaian visi dijabarklan menjadi tujuh butir standar mutu lulusan. Di sana tergambar profil lulusan yang dicita-citakan. Tiap-tiap butir standar mutu lulusan melahirkan program sebagai strategi untuk mencapainya.
Program-program tersebut bukan sekadar rumusan mimpi di awang-awang. Masing-masing “diturunkan ke bumi” menjadi sejumlah kegiatan operasional. Kini giliran Bu Wiwik, Wakil Kepala Sekolah, untuk memaparkan rencana kegiatan Sekolah.
Setiap program mengejawantah dalam berbagai kegiatan. Ada yang bersifat kurikuler, ada yang nonkurikuler. Ada yang akademik, ada yang non akademik. Ada pembiasaan rutin, kegiatan berkala, dan kegiatan tematik yang terprogram tahunan.
Melengkapi paparannya, Bu Wiwik menampilkan dokumentasi beberapa aktivitas murid-murid pada tahun-tahun ajaran sebelumnya.
“Ini contoh saat anak-anak mencuci piring,” terangnya, sambil menayangkan foto kegiatan anak-anak usai makan siang. “Dan mereka mengantre, Bapak/Ibu. Padahal, tidak ada Bapak/Ibu Guru yang mengawasi secara langsung,” imbuhnya.
Bu Wiwik tidak ngecap. Kemandirian dan tanggung jawab anak-anak dalam membereskan perabot makan itu sempat dipergoki oleh seorang pemerhati pendidikan dari luar Sekolah. Pengalamannya itu kemudian dituangkan pada tulisan ini.

Untuk menyerap aspirasi orang tua/wali murid, dibuka sesi tanya jawab. Seorang ibu memanfaatkan kesempatan ini.
“Saat mendaftar, kami mendapat info bahwa Jumat anak-anak pulang pukul 10.30. Itu menjadi salah satu alasan kami untuk akhirnya memilih SD Islam Hidayatullah 02,” akunya polos.
“Namun, tadi dalam paparan disampaikan bahwa Jumat anak-anak pulang pukul 14.00,” lanjutnya.
Si ibu pun lalu bertanya, “Mohon penjelasannya, mengapa demikian? Kemudian bila pulangnya pukul 14.00, bagaimana salat Jumatnya?”
Orang tua murid yang satu ini sepertinya tidak ingin pulang membawa kebimbangan. Beliau menggenapkan pertanyaannya, “Anak saya alumni TK Islam Hidayatullah. Apakah ngaji-nya melanjutkan atau mulai dari awal?”
Pertanyaan terakhir itu dijawab langsung oleh Bu Nana. Beliau menyampaikan, “LPI Hidayatullah menerapkan konsep one roof education. Insyaallah, Ananda nanti tinggal melanjutkan capaian mengaji yang terakhir diperoleh di TK.”
Semua satuan pendidikan LPI Hidayatullah memakai kurikulum pendidikan Al-Qur’an yang sama. Dari jenjang PAUD sampai SMA, standar isinya sama. Standar prosesnya sama. Standar penilaiannya sama. Standar pendidiknya pun sama. Jadi, hasil penilaian akhir di jenjang sebelumnya otomatis menjadi dasar penentuan start pelajaran Al-Qur’an pada jenjang sekolah berikutnya.
Sementara itu, Pak Kambali kebagian tugas untuk menjawab pertanyaan terdahulu. Beliau menjelaskan riwayat perubahan jam kepulangan anak-anak pada hari Jumat. Kemudian Pak Kambali menguraikan kegiatan anak-anak pada jam zuhur hari Jumat.
“Murid laki-laki dan murid perempuan menjalankan kegiatan terpisah. Anak-anak perempuan melaksanakan salat Zuhur secara berjemaah. Yang laki-laki melakukan simulasi salat Jumat. Ada yang jadi khatib. Ada yang jadi muazin. Ada yang jadi imam,” terangnya. “Semuanya diperankan oleh murid-murid,” pungkas Pak Kambali.
Sinergi antara sekolah dan keluarga memegang peran kunci bagi keberhasilan pendidikan. PGOTW menjadi forum pembuka, wahana untuk mempertemukan visi sekolah dengan aspirasi orang tua murid. Kedua pihak punya tanggung jawab untuk merajut sinergi secara berkelanjutan. Berbagai saluran komunikasi, tatap muka dan virtual, didayagunakan secara optimal.
Di rumah, anak-anak merupakan investasi sekaligus amanah bagi orang tuanya. Di sekolah, murid-murid menjadi tanggung jawab sekaligus ladang pahala bagi guru-gurunya. Sinergi antara rumah dan sekolah menentukan kualitas proses dan hasil pengembangan potensi holistik anak-anak. ***
