Pak Teguh kembali berdiri, lalu mendekat ke papan tulis.

“Saya sering memakai slogan ‘Kelasku Surgaku’ untuk membangkitkan impian kelas ideal,” katanya sambil menorehkan ujung spidol pada papan tulis.

Tidak begitu jelas kata apa yang ia tulis. Tampaknya audiens dipaksa menebak coretan dua baris itu berbunyi “Kelasku Surgaku”. Dua coretan itu lalu dibingkai dengan lingkaran yang tidak bulat.

“Bagaimana suasana surga?” tanyanya kemudian.

“Murid-muridnya” menjawab bersahut-sahutan.

“Nyaman!”

“Damai!”

“Seru!”

“Aman!”

“Tertib!”

“Bersih!”

Setiap ada jawaban terlontar, Pak Teguh menempelkan ujung spidol pada papan tulis, lalu menariknya ke kanan, ke kiri, naik, turun. Sepertinya ia hendak menulis kata-kata yang disebut para guru. Namun, tak satu pun terbentuk rangkaian huruf penyusun kata. Konon ia punya alasan untuk tulisannya yang tidak terbaca itu: demi menghormati cita-cita ibunya. Semasa kecil ia sering dikudang ibunya agar kelak jadi dokter. Nah, karena gagal jadi dokter, ia mengabadikan cita-cita ibunya itu dalam bentuk tulisan yang sulit dibaca.

Kata-kata yang mendeskripsikan ciri-ciri suasana surga itu ditulis melingkar di tepi lingkaran.

“Anak-anak kelas 1 pun sudah tahu gambaran suasana surga. Biarkan mereka menyebut ciri-ciri surga sebanyak-banyaknya. Tulis saja semuanya,” lanjut Pak Teguh.

Suasana suatu tempat merupakan produk, hasil ciptaan para penghuninya. Suasana nyaman, misalnya, tercipta oleh perilaku penghuninya. Murid-murid kemudian diajak mengidentifikasi perilaku-perilaku yang harus dimiliki penghuni kelas untuk menciptakan suasana kelas surgawi. Pesan Pak Teguh, tulis saja semua perilaku yang disebut anak-anak. Tidak perlu dipersoalkan jika satu perilaku muncul di banyak suasana. Juga tidak perlu guru membuat klasifikasi perilaku berdasarkan suasana yang dihasilkan.

“Kita cukup membuat daftar saja, yang berisi perilaku surgawi yang teridentifikasi bersama anak-anak. Perilaku yang muncul di banyak suasana cukup ditulis satu kali.”

Rasa memiliki ditumbuhkan pada murid-murid. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat digunakan untuk memantik sense of belonging. Siapa pemilik kelas ini? Siapa yang ingin kelasmu menjadi “surga”? Siapa yang tidak terima kalau kelasmu menjadi “neraka”? Siapa yang ingin kelasmu nyaman? Siapa yang tidak terima kalau kelasmu ribut? Siapa yang ingin kelasmu damai? Siapa yang tidak terima kalau kelasmu kacau? Siapa yang ingin kelasmu bersih? Siapa yang tidak terima kalau kelasmu kotor? Siapa yang ingin kelasmu rapi? Siapa yang tidak terima kalau kelasmu berantakan? Siapa yang ingin kelasmu aman? Siapa yang tidak terima kalau kelasmu rusuh? Dan seterusnya.

Terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu, anak-anak digiring untuk menjawab “saya”, bukan “kita”. “Saya” menimbulkan efek kepemilikan personal, pun kelak membangkitkan tanggung jawab personal (fardu ain). Sebaliknya, “kita” cenderung menimbulkan efek kepemilikan kolektif dan kelak membentuk persepsi fardu kifayah.

Setelah bergelora spirit rumangsa handarbeni, berikutnya ditumbuhkan tanggung jawab (wajib melu hangrungkebi). Lagi, pertanyaan beruntun dapat dimanfaatkan untuk menggugah tanggung jawab anak-anak. Siapa yang harus menjadikan kelas ini “surga”? Siapa yang harus membuat kelasmu nyaman? Siapa yang harus menjaga ketenangan kelasmu? Siapa yang tidak boleh membuat keributan di kelasmu? Siapa yang harus berbicara santun di kelasmu? Siapa yang tidak boleh berteriak-teriak di kelasmu? Siapa yang tidak boleh berkata kasar di kelasmu? Siapa yang tidak boleh berkata saru di kelasmu? Dan seterusnya.

Seperti sebelumnya, jawaban “kita” tidak boleh diterima.

Tiap-tiap murid memimpikan kelasnya menjadi kelas surgawi. Tiap-tiap murid—penghuni kelas—mendambakan ciri-ciri surga menjelma dalam suasana kelasnya. Tiap-tiap murid bertanggung jawab untuk menciptakan suasana surgawi di kelasnya. Tiap-tiap murid bertanggung jawab untuk menjaga perilakunya agar tercipta suasana kelas surgawi.

Impian suasana kelas surgawi dan perilaku yang menjadi tanggung jawab murid itu melahirkan kontrak sosial. Satu lembar kontrak sosial memuat satu ciri kelas surgawi dan daftar perilaku yang harus dan yang tidak boleh dilakukan murid. Dokumen kontrak sosial tidak cukup hanya dikompilasi dan disimpan oleh guru. Murid-murid perlu terpapar pedoman perilaku itu sesering dan semudah mungkin. “Murid-murid” Pak Teguh adalah guru-guru muda. Pasti mereka cukup energik dan kreatif untuk membuat dan memajang poster-poster kontrak sosial yang eye-catching.

Dalam banyak kasus, perilaku pengejawantahan karakter lebih mudah dinyatakan dan dipahami dengan ungkapan negatif. Perilaku cerminan karakter jujur, misalnya, dijabarkan menjadi (1) tidak berbohong, (2) tidak menipu, (3) tidak curang, (4) tidak menyontek, (5) tidak mencuri, dan sebagainya. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya menyusun redaksi pernyataan positif untuk menggantikan ungkapan tidak menipu. Pasti jadinya kalimat panjang dan sulit dipahami. Jadi, tidak haram dokumen kontrak sosial memuat pedoman perilaku berupa ungkapan negatif sebagai definisi karakter penghuni kelas surgawi.

Kontrak sosial menjadi acuan dalam mengorek keyakinan (tahap ketiga restitusi) pelaku pelanggaran disiplin. Ciri-ciri suasana kelas surgawi diidentifikasi sendiri oleh anak-anak. Perilaku-perilaku yang mesti menjadi amalan penghuni kelas untuk menciptakan suasana kelas surgawi didefinisikan sendiri oleh anak-anak. Tiap-tiap anak mengaku mendambakan punya kelas surgawi. Tiap-tiap anak mengaku siap berperilaku luhur demi menciptakan suasana kelas surgawi. Di sinilah jawaban “saya” memiliki dampak lebih powerful daripada “kita”.

Sekilas, kontrak sosial mirip dengan peraturan kelas. Produk fisiknya, ya. Yang membedakan adalah proses produksinya. Peraturan kelas lazim diproduksi sepihak: guru. Murid-murid diposisikan sebagai objek. Mereka semata-mata dikenai aturan. Kontrak sosial diproduksi oleh murid-murid sendiri. Guru hanya berperan sebagai fasilitator: merapikan redaksi, menginduksi impian (sense of belonging), dan menumbuhkan tanggung jawab (responsibility). Kelas surgawi didaku sebagai impiannya. Perilaku surgawi diterima sebagai tanggung jawabnya. Jika terjadi pelanggaran, ya, tinggal ditagih saja.

Pak Teguh mewanti-wanti bahwa membangun disiplin positif memerlukan proses panjang. Internalisasi nilai tidak dapat berlangsung secara instan. Namun, kalau suatu nilai sudah berurat berakar, kelak buah karakternya awet dan ajeg sepanjang hayat. Selama periode Makkah, dakwah Rasulullah ﷺ pun berkutat dengan penumbuhan akidah, keyakinan. Buahnya baru dinikmati setelah hijrah (periode Madinah).

Karakter seseorang tidak diukur berdasarkan perilakunya di lingkungan yang dikondisikan. Karakter yang asli akan tampak pada perilaku spontan dalam situasi baru. Karakter yang asli akan teruji ketika seseorang menghadapi konflik nilai. Megawati Hangestri Pertiwi, atlet bola voli yang sedang naik daun itu, layak diangkat sebagai contoh orang berkarakter. Dalam beberapa tayangan video, dia tertangkap kamera ketika minum pada kesempatan time out. Sementara pemain-pemain lain minum sambil berdiri, “Megatron” konsisten minum sambil berjongkok. Di situ ada konflik nilai: nilai etis versus nilai pragmatis yang bersekutu dengan budaya lokal. Perempuan kelahiran Jember itu mempertahankan nilai etis yang sudah menjadi keyakinannya: minum, … ya duduk.

Di sela-sela diskusi, Pak Teguh sempat menegaskan pesan Pak Kambali dalam sambutan pengantar. Term manajemen kelas bukan sebatas teknik-teknik memulihkan stamina belajar murid. Bukan pula sekadar model-model memusatkan perhatian murid. Manajemen kelas merujuk kepada strategi mengelola perilaku kelas: orang (murid dan guru), aktivitas pembelajaran (kurikuler dan nonkurikuler), tempat berlangsungnya pembelajaran (indoor dan outdoor), dan suasana (hasil interaksi antarorang dan orang dengan lingkungan).

Jika kelas diibaratkan kendaraan, manajemen kendaraan tidak hanya menyangkut tindakan yang perlu diambil ketika kendaraan mogok di jalan. Manajemen kendaraan meliputi perlakuan terhadap kendaraan sebelum berangkat, selama perjalanan, sesampai di tujuan, dan ketika tidak digunakan. Itulah mengapa penjualan kendaraan (baru) selalu disertai buku petunjuk pemakaian dan perawatan. Untuk menjamin optimalisasi kinerja kendaraan, pemilik atau pengemudi mesti memahami dan mematuhi prosedur pemakaian dan perawatannya.

Demikian pula manajemen kelas. Ia menyangkut perilaku kelas—dengan seluruh cakupannya—sejak sebelum, selama, dan setelah aktivitas kelas berlangsung. Dus, implementasi kontrak sosial memerlukan prosedur-prosedur operasional yang berlaku pada situasi, tempat, atau waktu tertentu. Yang tidak boleh dilupakan, semua prosedur operasional mesti berpijak pada keyakinan nilai-nilai. Juga harus diingat bahwa murid-murid dilibatkan dalam penyusunan prosedur.

Kontrak sosial diikuti prosedur operasional baku (SOP—standard operating procedure). Selesaikah tugas guru dalam menyiapkan implementasi manajemen kelas? O, masih ada tugas yang utama: menjadi teladan. Di akhir perbincangan, Pak Teguh mengutip pesan yang didengarnya dari Ustaz Haris—mantan Direktur LPI Hidayatullah: “Guru tidak boleh hanya memberikan contoh. Guru harus menjadi contoh.”

Perbincangan seputar manajemen kelas usai. Sebentar lagi guru-guru—peserta bincang-bincang—itu akan membersamai murid-murid menyulam mimpi “kelasku surgaku”.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code