Malam itu Bu Yunita sulit tidur. Beliau gelisah. Paginya (Jumat, 7 Maret 2025) akan menghadapi situasi baru.
Sebetulnya Bu Yunita sudah merasakan situasi baru itu. Yakni di hari pertama (Kamis, 6 Maret 2025). Justru Jumat itu hari kedua. Tetapi rasa hari pertama. Mengapa?
Ya, di hari pertama Bu Yunita masih ditemani oleh Bu Layla—guru senior. Nah, di hari kedua, Bu Yunita tidak lagi ditemani Bu Layla. Apa yang akan terjadi? Bisakah Bu Yunita melaluinya? Mampukah Bu Yunita mempraktikkan apa yang telah dicontohkan Bu Layla? Persiapan apa lagi yang perlu Bu Yunita lakukan? Itulah yang menjadikan Bu Yunita gelisah malam itu.
Ya, sejak Kamis itu Bu Yunita memang mengampu BAQ dengan kelompok baru. Sebelumnya, kelompok Bu Yunita hanya ada empat anak. Sekarang kelompok Bu Yunita terdiri dari sembilan anak. Pun anaknya berbeda dari kelompok sebelumnya. Demikian pula capaian anaknya. Kali ini lebih menantang.
Jumat pukul 10.00—10.50 Bu Yunita menghadapi tantangan itu. Bagaimanakah Bu Yunita melaluinya? Berhasilkah? Atau justru sebaliknya?
Selepas salat Jumat, saya mendengar apa yang diceritakan Bu Yunita. Cerita itu juga didengar sejumlah pengabdi lain. Ternyata, Bu Yunita berhasil menghadapi tantangan itu. Pembelajaran berjalan dengan baik. Anak-anak dapat mengikuti sebagaimana mestinya. Bahkan di akhir pembelajaran, Bu Yunita seakan tak percaya dengan apa yang telah beliau alami.
Saya menilai kegelisahan Bu Yunita sebagai wujud tanggung jawab beliau. Bagaimana mengupayakan agar anak-anak tetap belajar dengan baik. Di sisi lain, Bu Yunita butuh adaptasi terhadap situasi baru. Bukankah menghadapi situasi baru sewajarnya butuh adaptasi?
Saya salut dengan tanggung jawab Bu Yunita atas murid-muridnya. Semoga Bu Yunita menikmati proses yang beliau alami. (A1)
Baca juga: Butuh Proses
