“Bu Layla, ada yang hendak disampaikan?” tanya Pak Kambali, usai tadarus Al-Qur’an bersama di ruang Kepala Sekolah.
Yap. Pak Kambali berusaha untuk selalu mengajak para guru dan karyawan untuk meluangkan waktu tadarus bersama di sekolah. Ruangannya pun silih berganti. Baca juga: Mengecilkan Ekspektasi.
Kali ini, Bu Layla ditunjuk sebagai ketua panitia Tarhib Ramadan. Kebetulan, acara tersebut akan berlangsung keesokan harinya. Bu Layla pun menyampaikan apa saja yang sudah siap dan belum siap.
Koordinasi berjalan mengalir. Tanpa terasa jarum jam menunjukkan pukul 08.03. Itu artinya, kami terlambat lima menit untuk membersamai anak-anak baris dan doa pagi.
Beberapa guru masih melanjutkan koordinasi. Lainnya dipersilakan untuk membersamai anak-anak di kelas masing-masing.
Dan, benar saja. Anak-anak sudah menunggu di selasar. Mereka sudah baris. Beberapa di antaranya ada yang gelisah—bolak-balik berjalan dari kelas menuju ruang Kepala Sekolah. Melihat gurunya tidak kunjung keluar dari ruangan.
“Teman-Teman, tadi Bapak/Ibu Guru mohon maaf, ya, terlambat membersamai saat anak-anak baris. Sekarang, silakan tahfiz dulu,” tutur saya, selesai doa pagi.
Anak-anak berhamburan menuju tempat tahfiz yang sudah ditentukan. Begitu pula saya. Dengan segera, saya beranjak ke lantai 2 untuk membersamai anak-anak kelas 3 tahfiz pagi. Dari luar musala terdengar suara riuh. “Astagfirullah, gara-gara saya telat, nih,” batin saya menyesal.
Namun, tak disangka. Saat membuka pintu musala, saya terkejut. Bukan hanya terkejut lagi. Tapi dibuat takjub. Masyaallah. Bagaimana tidak. Anak-anak sudah berkelompok masing-masing. Tampak tiga kelompok: Qaleed dan Ken; Rayya, Adit, dan Naren; serta Daffa dan Fillio. Mereka duduk di sebarang tempat. Di mana tempat tersebut diyakini nyaman. Antarsuara tidak mengganggu satu sama lain. Karena hanya di satu ruangan yang sama: musala.
Mereka murajaah hafalan surah Al-Fajr. Yang sudah setor hafalan mengajari dan menyimak hafalan teman-temannya yang belum setor. Qaleed menyimak hafalan Kennard. Adit dan Naren membantu ziadah hafalan Rayya. Sedangkan Daffa menyimak hafalan Fillio.
Dengan cepat, saya langsung mengambil gawai dan mengabadikannya. Tak ingin ketinggalan momen berharga ini. Sungguh, momen langka.
Tak ingin merusak suasana. Saya singgah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Ingin melihat, sejauh mana anak-anak ini berbagi ilmu dengan teman-temannya.
“Bu, ini Fillio sudah setoran dua kali. Mau setoran sama Bu Shoffa,” tutur Daffa, saat saya singgah di kelompok Qaleed dan Ken.
“Menurut Daffa, hafalannya Fillio bagaimana?” tanya saya.
“Yang pertama enggak lancar, Bu. Yang kedua alhamdulillah sudah mendingan,” akunya.
“Oke. Bu Guru percaya sama Daffa. Lanjutkan surah selanjutnya, ya!” perintah saya.
“Yeay …” sorak Fillio girang. “Ayo, Daff!” sambungnya.
Saya mendengarkan dengan saksama hafalan Ken. Beberapa kali Ken diingatkan Qaleed karena tidak teliti hafalannya. Beberapa kali juga Ken terbalik-balik antarhurufnya.
“Sampai beberapa ayat dulu gak pa-pa, Leed. Biar enggak terbalik-balik,” jelas saya.
“Oke, Bu.”
“Tadi yang mulai ngajak kayak gini siapa, sih?” tanya saya penasaran.
“Enggak tahu, Bu,” jawab Qaleed.
“Kayaknya Qaleed sama Adit, deh, Bu,” sambung Ken.
“Masa, sih?” elak Qaleed.
“Tadi, kan, kamu yang ngajak. ‘Ayo ngaji, yo! Siapa yang kemarin belum setoran?’” tiru Ken menyerupai suara Qaleed.
“O, iya, ya. Saya lupa, Bu,” ujar Qaleed malu-malu.
Masyaallah. Ini anak benar-benar lupa atau sengaja melupakan kebaikannya, sih? Anak seusia mereka biasanya malah menyebutkan kebaikannya. Padahal itu kebaikan teman-temannya.
Lima menit sebelum bel. Saya mengajak anak-anak untuk merefleksi tahfiz pagi ini. Tak lupa saya juga menyampaikan rasa syukur dan bangga dengan apa yang sudah saya lihat pagi ini.
Kemudian, saya mengajak mereka melanjutkan hafalan surah Al-Fajr dengan metode sambung ayat. Sebenarnya, saya ingin tahu hafalan anak-anak yang belum saya dengarkan secara langsung.
Dan, masyaallah. Sesuai dengan laporan para penyimak. Terima kasih, Qaleed, Ken, Fillio, Daffa, Adit, Rayya, dan Naren! Kalian telah menyirnakan dugaan gurumu ini. Semoga semangat kalian terus menginspirasi satu sama lain. Dan kebaikan ini terus berkembang dalam diri kalian. Amin.
