Pekan kedua semester 2. Bu Ambar, Bu Layla, dan Pak Kukuh telah berjajar di teras Sekolah. Ketiganya siap menyambut kedatangan murid-murid. Beberapa anak dari kelas 1, 2, dan 3 bersedia menjadi sukarelawan yang turut menyambut kedatangan teman-temannya.
Pukul 06.57, bel berbunyi. Anak-anak berbaris di selasar kelas masing-masing. Kapten kelas memimpin barisan. Dua lajur barisan mengular. Lajur kanan merupakan barisan anak putri. Sementara anak putra berada di lajur kiri. Tak butuh waktu lama, barisan sudah lurus dan tertib. Kapten memilih barisan yang ia anggap lebih tertib untuk memasuki kelas terlebih dahulu.
Murid-murid kelas 2 memasuki kelas sesuai urutan barisan. Tak lupa, anak-anak salim kepada Bu Layla, Bu Yunita, dan saya. Kami berdiri di depan pintu kelas. Menyambut uluran tangan anak-anak. Mereka lantas duduk melingkar di karpet.
Kapten memimpin doa. Murid-murid mengikuti doa dengan khusyuk. Setelah berdoa, Bu Layla mempersilakan anak-anak menuju tempat tahfiz masing-masing. Sejak akhir semester 1, pelaksanaan tahfiz pagi menggunakan pola yang berbeda. Basisnya tidak lagi kelas, tetapi kelompok. Tiap-tiap kelompok diupayakan beranggotakan anak-anak dengan capaian hafalan dan level kognitif yang sama. Anggota kelompoknya bisa berasal dari kelas yang berbeda, asalkan memenuhi kedua syarat tersebut. Bahkan, Nadia, Langit (kelas 3), dan Icha (kelas 2) menjadi mentor bagi “murid(-murid)” mereka.
Saya bertugas mendampingi tahfiz Rafa, Vano, Rama, Bintang, Rara, Inara, dan Aya. Kami memanfaatkan ruangan kosong di sebelah ruang Kepala Sekolah. Dari kelas 2, ruangan kosong tersebut hanya berjarak beberapa langkah saja. Saya membuka pintu kelas, menuju ruang tahfiz. Rafa dan teman-temannya mengekor di belakang saya.
“Aya, tutup pintunya!” seru Rafa.
Aya belum memahami permintaan temannya itu.
“Aya, kamu, kan, yang terakhir. Jangan lupa tutup pintunya,” ulang Rafa.
Aya menyadari kealpaannya. Ia berbalik, lalu menutup pintu kelas. Aya melakukannya dengan tenang, tanpa beban, dan tidak ada sedikit pun ekspresi penolakan.
Baca juga: Penting Tak Penting
Kepedulian Rafa terhadap lingkungan patut diacungi jempol. Ia juga telah berhasil memaknai dan mengamalkan kesepakatan yang telah dibangun sejak kelas 1: saling mengingatkan. Pun Aya, jiwa besarnya tak diragukan lagi. Ia bersedia memperbaiki kesalahannya tanpa merasa terhakimi.
Ketulusan keduanya begitu mengesankan bagi saya. Saya merasa sangat beruntung berkesempatan menyaksikan kejadian itu. Dapatkah saya meneladan sikap terpuji mereka? Anak-anak kecil yang berhati besar. (A2)
