Ini kali kedua saya tersindir begitu mendalam. Serasa dipukul dengan pukulan yang telak.

Kamis (20/02/2025) pukul 07.40 terkirim pesan di salah satu grup. Memuat link YouTube. Tampak gambar salah satu menteri. Ya, Menteri Agama, K.H. Nasaruddin Umar. Demi melihat foto tersebut, saya segera membuka link tersebut. Berhasil.

Wow, panjang sekali durasi video itu! Ups, alhamdulillah, ada cuplikan di bagian paling awal. Durasi 1 menit 56 detik. Alhamdulillah, akhirnya saya nyicil melihat video itu. Bagian cuplikannya. Video itu berisi pidato Menteri Agama di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Saya dapati kalimat yang sangat mengesankan. “Apakah kita mampu menghadirkan Tuhan di benak anak kita, di benak mahasiswa kita?”

Saya memang tidak hadir di forum pidato itu. Artinya, saya tidak mungkin sebagai khiṭāb pembicaraan beliau. Dari sisi itu, mudah dipahami siapa khiṭāb-nya. Para dosen UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Namun, faktanya, saya merasa tersindir. Entahlah, mengapa bisa demikian. Bisa jadi saya memahami relasi dosen-mahasiswa sama dengan relasi guru-murid. Jika dosen mempunyai tanggung jawab untuk menghadirkan Tuhan dalam benak mahasiswanya, guru pun tentu demikian terhadap muridnya. Lebih-lebih guru SD. Usia murid SD kategori usia emas. Apa yang tertanam di usia itu berpeluang lebih besar menjadi fondasi perilaku anak di usia dewasa.

Dula, saat awal menjadi guru SD, saya pernah mendengar ini: tugas utama guru SD itu mengenalkan Tuhan kepada murid-muridnya. Saya sangat setuju dengan hal tersebut. Setidaknya, secara pemahaman. Dalam praktiknya, saya merasa kesulitan menjalankannya. Saya merasa sangat kikuk dan gagal melakukannya. Akhirnya, saya terhenti di tataran teori. Praktiknya masih sangat jauh.

Namun, saya beruntung. Lambat laun saya dipertemukan dengan sejumlah guru yang mahir mengimplementasikan teori itu. Saya merasa mendapat contoh dan model. Saya belajar kepada beliau-beliau. Alhamdulillah, secara perlahan saya bisa mengikuti jejak beliau-beliau. Meskipun belum bisa semahir beliau-beliau.

Begitu ditugaskan di sekolah baru—SD Islam Hidayatullah 02—ini, saya bertekad untuk menguatkan tugas utama guru tersebut. Mengenalkan Tuhan kepada murid-muridnya. Atau meminjam istilah yang digunakan Pak Menteri, menghadirkan Tuhan dalam benak murid-muridnya.

Kini sudah hampir empat tahun saya bertugas di SD Islam Hidayatullah 02, tetapi saya merasa belum tuntas menguatkan tugas utama guru tersebut. Bahkan, cenderung seperti formalitas belaka. Saya pidatokan di awal tahun. Dan berhenti di situ saja. Astagfirullah.

Terima kasih, Pak Menteri, telah mengingatkan saya. Sepertinya tidak berlebihan jika saya merasa menjadi salah satu khiṭāb Pak Menteri. Dan ini kali kedua saya merasa tersindir.

Sebelumnya, saya merasa tersindir dalam hal yang sama. Itu saat saya membaca tulisan Bu Shoffa berjudul “Serba Baru”.

Saat menjawab pertanyaan muridnya, Bu Shoffa sangat mahir menggunakan momen itu untuk menghadirkan Allah dalam benak murid-muridnya. Hasilnya, masyaallah, sungguh luar biasa.

Membaca tulisan Bu Shoffa itu, saya merasa bangga. Bu Shoffa—guru SD Islam Hidayatullah 02—telah mempraktikkan tugas utama guru SD. Namun, di sisi lain saya merasa malu. Betapa saya mengakui, saya belum melakukannya secara optimal. Astagfirullah.

Tentu, bagaimana pun juga, saya sangat bersyukur. Kehadiran Bu Shoffa, yang telah mengupayakan hadirnya Tuhan dalam benak murid-murid, sangat saya butuhkan. Terutama untuk penguatan motivasi diri saya dan teman-teman guru lainnya.

Saya meyakini, niat baik akan dimudahkan pelaksanaannya. Bukan karena kehebatan kita sebagai eksekutornya, melainkan karena anugerah dan kehendak Allah Swt. (A1)

Baca juga: Minta Izin

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code