Senin (12/01/2025) hari pertama dilaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan diawali dengan apel pagi, doa bersama, lalu tahfiz. Saya salah satu pengampu tahfiz di kelas 2. Terdapat empat kelompok tahfiz di kelas 2. Kelompok 1 bersama Ustaz Adhit, kelompok 2 bersama Bu Wiwik, kelompok 3 bersama saya, dan kelompok 4 bersama Icha. Anggota saya terdiri dari Mika, Tristan, Dea, Nafiza, dan Vira. Saya kurang hafal masing-masing anggota kelompok Ustaz Adhit dan Bu Wiwik. Sementara, Azza menjadi satu-satunya anggota kelompok Icha.

Setelah doa bersama, anak-anak menuju tempat tahfiz masing-masing. Kelompok Bu Wiwik bertempat di ruang Waka. Kelompok saya, Ustaz Adhit, dan Icha bertempat di kelas 2. Kelompok Ustaz Adhit di karpet, kelompok saya duduk di kursi, dan kelompok Icha juga duduk di kursi.

Saya berjalan lima langkah dari tempat duduk saya menuju tempat kelompok tahfiz. Pas sekali. Meja dan kursi yang ditempati kelompok saya ada lima. Tinggal kurang kursi untuk saya. Saya ambil kursi kecil berwarna biru. Setelah itu, tahfiz saya mulai.

***

Hari Selasa, setelah doa bersama di kelas, anak-anak menuju tempat tahfiz masing-masing. Saya tengah duduk di kursi guru, sembari menunggu anak-anak siap. Saya melihat Mika mengambil kursi biru yang kemarin saya duduki untuk tahfiz, lalu meletakkannya persis di posisi saya duduk kemarin.

“Apakah ada yang meminta Mika menyiapkan tempat duduk saya? Atau ini atas inisiatifnya?” batin saya.

Tahfiz saya mulai.

As-salāmu ˋalaikum wa ramatullāhi wa barakātuh,” ucap saya.

Wa ˋalaikumus-salām wa ramatullāhi wa barakātuh,” jawab anak-anak.

“Bagaimana kabar Anak-Anak yang saleh-salihah, kelompok tahfiz Bu Yunita, pada pagi hari ini?” lanjut saya.

“Alhamdulillah, luar biasa, tetap semangat, Allahu Akbar, yes, yes, jos,” jawab anak-anak dengan nada khas mereka.

“Tadi, siapa yang menyiapkan kursi untuk Bu Yunita?” usut saya.

“Mika, Bu,” jawab anak-anak

“Wah, terima kasih, Mika. Sudah menyiapkan kursi untuk Bu Yunita.”

“Sama-sama, Bu,” balas Mika dengan tersenyum malu.

Hari Rabu, Kamis, dan Jumat, saya melakukan hal yang sama. Usai doa bersama, saya duduk sejenak sembari menunggu anak-anak siap. Saya amati, tidak ada yang meminta Mika menyiapkan kursi, tetapi Mika istikamah menyiapkan kursi biru itu untuk saya. Jadi, dari keistikamahan Mika, saya yakin bahwa itu atas inisiatifnya.

Saya jadi terkesan dengan sikap Mika. Ia melakukan hal sederhana itu atas inisiatifnya. Ini salah satu wujud bahwa Mika menghormati guru dengan menyiapkan kursi. Saya bangga. Semoga Mika selalu istikamah dalam melakukan kebaikan. Dan kebaikan Mika bisa diikuti oleh teman-teman. Terima kasih, Mika.

 

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code