Keceriaan terpancar di wajah mungil murid-murid kelas 1. Senyum semringah tersungging di bibir mereka. Kurang lebih pukul 11, dua mobil Lembaga tiba di Sekolah. Rombongan baru saja menyelesaikan kunjungannya ke Perpusda.

Bu Wiwik sempat heran, murid-murid tidak mengeluh lapar saat berkegiatan di Perpusda. Padahal, kegiatan tersebut selesai melebihi jam istirahat harian di Sekolah.

“Enggak, Bu. Soalnya tadi seru, jadi enggak terasa lapar,” timpal Fathir saat ditanya Bu Wiwik.

Murid-murid menikmati bekal mereka dalam perjalanan pulang. Di dalam mobil. Sembari bergurau, mereka menikmati perjalanan dan kudapan dengan ceria.

Setibanya di Sekolah, murid-murid antre mencuci tangan dan dipersilakan istirahat selama 15 menit. Oleh sebab tadi sudah makan bekal di kelas, mereka memanfaatkan waktu istirahat untuk bermain. Kegiatan pun dilanjutkan dengan bercerita dan tebak-tebakan.

“Sebutkan ruangan yang berada di depan RBM (Rumah Belajar Modern), di sebelah kanan tangga!” pancing Bu Wiwik mengawali tebak-tebakan.

“Perpustakaan?” jawab Vira ragu.

“Kurang tepat, Mbak Vira.”

Rara mengangkat tangannya.

“Ruang untuk menyusui, tapi saya lupa namanya.”

“Iya, betul. Namanya ruang laktasi. Satu bintang untuk Rara,” terang Bu Wiwik.

“Teka-teki berikutnya. Siapa yang masih ingat nama buku yang digunakan oleh orang yang tidak dapat melihat?”

Tampak sebagian besar murid berpikir keras untuk mengingat.

“Apa tadi, ya. Lupa, Bu!” seru Gibran.

Bu Wiwik menulis huruf “B” di papan tulis.

“Depannya ‘B’. Ada tujuh huruf.”

“Namanya susah, Bu. Jadi enggak ingat,” celetuk Rafa.

Nyerah?”

Murid-murid masih berusaha menjawab. Namun, kata yang diminta tak kunjung keluar dari lisan mereka.

“Jawabannya adalah B-r-a-i-l-l-e,” Bu Wiwik mengeja huruf demi huruf sembari melanjutkan melengkapi huruf “B” yang telah ditulis sebelumnya.

“Nah, itu!” sergap Vano gemas.

Tak terasa, waktu untuk persiapan wudu telah tiba. Murid-murid bersegera melipat lengan baju dan celana masing-masing. Rangkaian salat Zuhur berjemaah pun terlaksana.

Kapten memimpin doa sebelum makan. Setelah mengucapkan terima kasih, murid-murid menyantap kudapan mereka. Rama mendatangi meja Bu Wiwik. Ia tak mendapati nampan biru di meja gurunya. Rama mengambil nampan itu dari rak sudut baca. Ia lantas meletakkan beberapa ekor udang miliknya di atas nampan. Nampan itu lalu ditaruh di meja Bu Wiwik.

“Terima kasih, Mas Rama sudah mengambilkan nampannya.”

Nampan itu khusus disediakan untuk menaruh kudapan makan siang (lauk atau buah) yang tidak disukai murid-murid. Jika ada murid lain yang hendak mengambil, disilakan. Dengan syarat, makanan murid tersebut sudah habis.

Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi kemubaziran dan semangat berbagi. Hampir setiap hari, makanan yang ada di nampan itu habis diambili murid-murid yang suka. Pun hari itu. Ada beberapa murid yang meletakkan udang dan jus melon mereka di atas nampan. Bersyukur, makanan-makanan itu dimanfaatkan oleh murid-murid lainnya.

Sebagian besar murid telah menyelesaikan makan siang mereka. Shaqueena memperlihatkan lepak kateringnya.

“Alhamdulillah, nasinya tinggal sedikit, Bu. Tapi, sayurnya masih.”

“Alhamdulillah. Mbak Shaqueena sudah kenyang?”

Gadis kecil itu mengangguk.

“Kalau begitu, lepaknya dikembalikan, ya, Nak.”

Saat Shaqueena hendak berbalik, Bu Wiwik melirik ke arah nampan biru. Ia segera menghentikan muridnya itu.

“Nak, Bu Wiwik minta tolong, ya. Tolong cucikan nampan ini.”

Shaqueena mengangguk dan meletakkan lepaknya di atas nampan biru. Ia bergegas menuju selasar. Shaqueena menata lepaknya di atas meja yang disediakan. Ia kemudian mencuci nampan biru itu.

Rama telah selesai makan sebelum Shaqueena. Ia juga sudah memakai kaus kakinya. Bersama Elora, Rama dan Shaqueena tergabung dalam kelompok yang sama: Es Krim. Saat hendak duduk di kursinya, Rama mendapati botol minum Shaqueena masih di atas meja. Tanpa berpikir panjang dan banyak bicara, Rama mengambil botol berwarna merah jambu itu. Sambil berjalan berjingkat, ia membawa dan meletakkannya di atas meja biru–meja tempat galon dan jajaran botol minum murid-murid.

Bu Wiwik menyaksikan kejadian itu. Senyum tipis tersungging dari kedua sudut bibirnya.

“Terima kasih, Mas Rama,” ucap Bu Wiwik sambil mengacungkan ibu jari tangan kanannya.

Rama tersipu.

Nampan dan meja biru menjadi saksi kebaikan Shaqueena dan Rama. Shaqueena rela membantu gurunya, meski dengan risiko terlambat mengikuti kegiatan berikutnya. Namun, Bu Wiwik sudah memperhitungkan hal itu. Bu Wiwik memastikan Shaqueena tidak akan terlambat.

Pun demikian dengan Rama. Dengan entengnya dia berbuat baik. Tanpa ba-bi-bu, kepedulian Rama nyata adanya. Memang terlihat sepele: hanya mengembalikan botol. Namun, tak semua anak—bahkan orang dewasa pun—ringan melakukannya. (A2)

Bagikan:
4 thoughts on “Nampan dan Meja Biru”
  1. masyaallah semoga bisa menjadi contoh untuk teman teman yang lainnya aamiin

  2. MasyaAllah, dua anak ini bisa menjadi contoh yg baik bagi teman lainnya. Semangat syaqueena dan rama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *