Kakak saya melambaikan tangannya. Saya yang dituju. Saya bergegas mendekati beliau. Saya hendak memperjelas: apa yang beliau butuhkan dari saya.

Baru saja mendekat, belum sempat menanya, saya terperanjat oleh kehadiran orang di samping kakak saya. Jelas sekali siapa orang tersebut. Ya, di sebelah kakak saya ada Pak Kasmu. Tanpa menanya, saya sudah paham apa yang dikehendaki kakak saya saat melambaikan tangannya. Saya hendak dipertemukan dengan guru favorit saya, Pak Kasmu.

Saya mendekati Pak Kasmu. Salim sembari cium tangan. Saya masih dikasih bonus pelukan dari guru saya. 

Selasa (28/05/2024) dini hari itu saya bermaksud mengantarkan kakak saya berangkat haji. Titik kumpul keberangkatan di Masjid Darussalam, Kedungjati. Dari Masjid itu, rombongan akan menuju pendopo Kabupaten Grobogan. Setelah upacara di pendopo Kabupaten, barulah rombongan haji menuju Donohudan. Saya hendak mengantarkan kakak saya hingga di pendopo Kabupaten.

Ternyata di Masjid Darussalam, Kedungjati, saya mendapat keuntungan tak terduga, bertemu dengan guru yang sangat menginspirasi saya. Itu sekitar pukul 01.00 dini hari.

“Pak Kasmu berangkat tahun ini?”

“Enggak, saya ikut nganter keberangkatan Pak Ikin.”

Nuwun sewu, kadose Pak Kasmu sampun purna?”

“Sudah. Saya sudah pensiun. Tapi kita kan sudah lama berteman. Jadi, saya ingin ikut nganter beliau.

Pak Ikin tinggal di Kedungjati. Pak Kasmu tinggal di Ginggangtani. Kedungjati hingga Ginggangtani berjarak kurang lebih 15 km. Walaupun jauh, tengah malam, dan sudah tidak sekantor lagi, Pak Kasmu tetap menyempatkan mengantar Pak Ikin.

Pak Ikin (paling kanan)

Momen bertemu dengan Pak Kasmu di malam itu sangat mengesankan bagi saya. Setelah memeluk saya, Pak Kasmu bergegas memperkenalkan saya kepada orang-orang di sekitar beliau. Saya disebut sebagai murid beliau. Sebagai peraih nilai sempurna (10 pada skala nilai 0—10) saat ujian akhir SMP—tahun ajaran 1995/1996. Mata pelajaran Matematika. Pada ujian tersebut, itulah satu-satunya nilai 10 di Kabupaten Grobogan. Bahkan di ijazah SMP, saya pun diberi nilai 10 untuk mata pelajaran Matematika. 

Berulang-ulang Pak Kasmu menceritakan nilai 10 kepada teman-teman beliau yang saya temui malam itu. Tentu saya merasa mendapat penghormatan yang luar biasa dari beliau. Lebih dari itu, yang paling membahagiakan saya, Pak Kasmu masih mengakui saya sebagai murid beliau. Itu status yang sangat membanggakan saya. 

Baca juga: Tanpa Penjelasan

Juli 1995 saya naik kelas 3 SMP. Tepatnya di kelas 3D SMPN 1 Kedungjati. Wali kelas 3D: Pak Kasmu. Sekaligus beliaulah yang mengajar Matematika. Saat itu saya merasa senang sekaligus khawatir. Senang, karena merasa tertantang. Pak Kasmu dikenal sebagai guru yang sangat disiplin. Sampai-sampai sebagian teman-teman menyebutnya sebagai guru “galak”. Di kelas 1 dan 2, saya belum pernah diajar oleh Pak Kasmu. Jadi, saya hanya mendengar saja, bahwa Pak Kasmu sangat disiplin. Memang saya pernah melihat langsung, saat beliau memergoki muridnya yang tidak memakai kaus kaki. Dengan sangat tegas, beliau memperingatkan. Murid itu begitu ketakutan, dan bergegas memakai kaus kaki.  Khawatir, karena saya ragu, apakah saya bisa mengikuti pola kedisiplinan Pak Kasmu. 

Sejak tahu Pak Kasmu yang mengajar Matematika, secara otomatis saya mempersiapkan diri dengan belajar lebih sungguh-sungguh. Hampir selalu saya belajar Matematika mendahului materi yang diajarkan. Bila besok akan masuk materi bab kedua misalnya, hari ini saya sudah mempelajarinya. Tak sekadar membaca teori, tetapi juga mengerjakan soal-soal latihan yang mengiringinya. Semuanya, tanpa kecuali. Bahkan, tak jarang, saya tambahkan mengerjakan latihan soal dari buku lain. Kebetulan saya sering diberi buku Matematika yang beda penerbit oleh Kakak. 

Bahkan, saya belajar tak mengenal waktu dan tempat. Saat cari rumput untuk makan kambing, saya sering bawa soal Matematika. Apalagi kalau disuruh jaga gabah yang sedang dijemur—supaya tidak habis dimakan ayam—saya hampir selalu bawa buku. 

Ya, saat itu aura Pak Kasmu begitu terasa dalam kehidupan saya. Tak hanya saat di Sekolah, di rumah pun saya merasakannya. Kesungguhan saya dalam belajar meningkat pesat. Saya juga merasa termotivasi dan bersemangat. Maka, saat di akhir tahun saya diberi kemudahan mendapat nilai 10, itu sebenarnya kehebatan Pak Kasmu dalam mendidik muridnya. 

Inspirasi dari Pak Kasmu begitu luar biasa. Bahkan saat bertemu beliau di malam itu, saya masih merasakan pengaruh positif beliau terhadap motivasi dan semangat saya. Terima kasih, Pak Kasmu, atas ilmunya, motivasinya, inspirasinya, dan semuanya. Saya tak mampu membalas apa pun. Hanya ketulusan doa yang bisa saya lakukan, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat untuk Pak Kasmu sekeluarga. 

Ya, ternyata saya merasakan dan mengalami sendiri, betapa pengaruh guru sangat besar terhadap keberhasilan muridnya. Kini, saya mendapat amanah sebagai guru. Sudah semestinya, guru menginspirasi muridnya. Bagaimana caranya? Itu PR saya dan para guru SDIH 02. Semoga Allah menganugerahkan cara tersebut kepada guru-guru SDIH 02. (A1)

Baca juga: Pengaruh Guru

Bagikan:
2 thoughts on “Pertemuan Tak Terduga”
  1. MasyaAllah, semoga kami semua dipermudah dalam menuntut ilmu dan kemudahan dalam menjalankan kebaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *