Suasana kelas mulai terdengar riuh karena peralihan kegiatan dari makan siang ke pelajaran berikutnya. Sambil masih menunggu beberapa teman yang belum selesai makan, anak-anak mencari kegiatan sendiri. Ada yang memakai kaus kaki, ada yang membersihkan karpet, ada yang berjalan-jalan tidak bersegera memakai kaus kaki, dan ada juga yang bergurau.

Setelah libur panjang Lebaran, memang perlu membangun bonding kembali dengan anak-anak. Seperti halnya selepas libur semester. Penguatan seperti menjadi kewajiban.

Setelah menuntaskan makan dan memakai kaus kaki, semua anak berdoa setelah makan. Lalu Bu Eva memberikan bintang apresiasi kepada tujuh anak yang telah membersihkan karpet tanpa diperintah: Mika, Rafa, Aza, Inara, Keenan, Vira, dan Gibran. Hari sebelumnya, Bu Eva mengajak anak-anak membersihkan karpet. Maka, hari itu (23/04/2024) Bu Eva merasa bahwa murid-muridnya berhak mendapat bintang atas kepekaan yang dimiliki.

Tujuh stiker bintang telah diserahkan. Waktunya pelajaran Bahasa Indonesia. Terjadwal Bu Amik yang mengajar. Tetapi, Rama dan Vano masih bercanda secara berlebihan. Suaranya level 3. Sedari pagi sudah diingatkan, tetapi masih belum berubah. Maka, alternatif terakhir, harus dituntaskan dulu hasrat bermainnya.

“Rama dan Vano kalau masih mau main atau bercanda boleh di luar dulu,” pinta Bu Eva.

Vano menurut. Ia mengambil sandal lalu berdiri di ambang pintu menunggu Rama. Rama terdiam. Sempat menolak, tapi juga tak bersegera duduk. Setelah diberi nasihat, Rama bersedia keluar kelas. Bu Eva membebaskan keduanya di luar. Rama dan Vano duduk di selasar.

“Rama dan Vano boleh main sepuasnya di luar. Nanti kalau sudah merasa siap belajar, boleh masuk lagi ke kelas. Tapi syaratnya harus bisa menjaga diri.”

Rama dan Vano mengangguk. Tersirat penyeselan di raut wajah Vano. Rama tampak agak menahan senyum.

Bu Eva masuk lagi ke kelas. Selang beberapa menit, Bu Eva menengok ke luar. Mereka masih duduk di selasar.

Lo, kok gak main?” tanya Bu Eva.

Vano hanya menggelengkan kepala.

“Aku mau main, Bu. Tapi, gak jadi deh,” sahut Rama.

Gak pa-pa, yang penting Rama sama Vano puas dulu mainnya. Supaya nanti pas belajar udah siap. Bu Eva serius, gak marah kok,” terang Bu Eva.

Kala itu memang Bu Eva tidak berniat menghukum. Hanya memberi kesempatan.

“Enggak, ah, Bu,” Vano menyahut.

“Ya sudah. Bu Eva tinggal ke toilet dulu, ya. Nanti kalau sudah siap, boleh masuk,” pesan Bu Eva.

Sebelum ke toilet, Bu Eva sengaja mampir ke TU untuk mengintip Vano dan Rama dari jendela. Terpantau tidak ada pergerakan apa pun dari keduanya. Mereka hanya berdiam diri sembari mengapurancang. Tidak mengobrol tidak pula bercanda. Mungkinkah mereka benar-benar menyesal?

Setelah Bu Eva kembali dari toilet, Vano sudah tak tampak di selasar. Ternyata ia sudah masuk kelas. Tersisa Rama yang masih di luar.

Kurang dari 10 menit setelahnya, Rama masuk ke kelas. Artinya, Rama dan Vano sudah siap belajar. Bu Eva mengamati, keduanya lebih tertib sampai waktunya pulang. Vano juga turut aktif menjawab pertanyaan saat pelajaran. Alhamdulillah, Vano dan Rama berhasil berkomitmen pada diri mereka sendiri.

Bagikan:
One thought on “Berkomitmen”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *