“Itaf, minta tolong temenin Langit duduk di kursi dulu, ya!” perintah Bu Shoffa.

Tampak raut wajah Langit yang masih tegang dengan suasana tadi. Tak segan, Itaf segera menggandeng Langit menuju tempat duduk.

“Haqqi dan Rayya tetap di sini,” ucap Bu Shoffa sembari menunjuk ke karpet.

Jarum jam menunjukkan pukul 08.55. Pertanda waktu masih sepuluh menit. Setelah itu, ganti pelajaran BAQ. Lima menit berlalu, para murid disilakan persiapan BAQ.

Bu Shoffa mendekati Haqqi dan Rayya, yang masih duduk di karpet.

“Tadi aku tuh giniin tangan Rayya, Bu,” ungkap Haqqi sambil meragakan menjawil tangannya sendiri. “La Rayya langsung ndorong Langit!” lanjutnya.

La kamu ngapain jawil tangan Rayya?”

“He-he. Aku iseng, Bu,” jawab Haqqi.

“Astagfirullah. Haqqi, Haqqi …. Kamu tahu akibatnya tadi apa?” tanya Bu Shoffa sembari menyembunyikan mimik geli melihat tingkah muridnya.

“Tahu! Langit jadi kena. Padahal Langit enggak ngapa-ngapain,” jawab Haqqi terkekeh.

Nah, itu tahu! Kan, kasihan Langit! Haqqi kalau iseng kayak gitu aslinya mau ngapain, sih?”

“He-he. Mau ngajak ngobrol, Bu.”

Ooo. Haqqi udah tahu kesepakatannya, kan?”

“He-he. Iya! Ketika istirahat sama jam pulang!”

Nah! Lain kali jaga diri, ya, Haqqi! Biar temen-temen semua saling nyaman.”

Informasi dari Haqqi cukup. Bu Shoffa pun bergantian menggali informasi dari Rayya.

“Rayya, tadi bener ndorong Langit?”

“Iya!” jawab Rayya dengan nada menyesal.

“Tadi ndorongnya pelan apa keras, Nak?”

“Keras!”

La, kenapa Rayya langsung ndorong Langit?”

“Biasanya dia suka usilin aku!”

Saat duduk di karpet, kelompok Haqqi (Palestina), kelompok Langit (Jepang), dan kelompok Rayya (Korea Selatan) berdampingan. Posisi Haqqi tepat di kiri Langit, sedangkan Rayya di kanan depannya. Ketika tangannya dijawil Haqqi, Rayya mengira Langit yang melakukannya. Tak pelak, Langit menjadi sasaran pembalasan Rayya.

Oke. Bu Shoffa tanya, selama Ramadan, Langit ngusilin kamu, enggak?”

“Mmm. Enggak!”

Sang guru terkejut dengan pengakuan muridnya. Pasalnya, saat hari-hari biasa ada saja tingkah laku muridnya, Langit. Bu Guru tak sabar ingin menggali informasi dari Langit.

“Rayya, lain kali kalau merasa tidak nyaman saat belajar, Rayya langsung angkat tangan aja, ya!”

Rayya mengangguk.

Haqqi dan Rayya menghampiri Langit, yang masih duduk di kursi. Mereka meminta maaf atas kejadian tadi.

Haqqi berlalu, pertanda sudah dimaafkan Langit. Namun, Rayya masih berdiri di depan Langit. Sepertinya Langit belum memaafkan Rayya.

Gak pa-pa, Rayya. Langit masih mau nenangin diri dulu. Nanti kalau Langit sudah tenang, Rayya minta maaf lagi, ya.”

Rayya menggangguk. Ia pun berlalu, menuju tempat BAQ.

Bu Shoffa menghampiri Langit. Kemudian mengajak mengobrol.

“Langit tahu, enggak? Kenapa Rayya langsung ndorong Langit? Padahal Langit gak ngapa-ngapain?”

“Karena memori!” jawab Langit dengan ciri khasnya.

“Kenapa memori?”

“Karena dulu, dulu, dulu aku sering ngusilin Rayya.”

Wiiih, hebat! Jadi, selama ini Langit tahu? Kalau suka ngusilin Rayya?”

“He-he.”

O, ya. Selama Ramadan Langit ngusilin Rayya, gak?”

Enggak! Kan, lagi puasa, Bu Shoffa. Kalau aku berbuat dosa, nanti dosaku berlipat-lipat. Aku juga enggak usil sama temen-temen,” jelas Langit.

Wiiih, masyaallah. Keren, ah! Semoga …”

Belum sampai terucap oleh Bu Guru, Langit langsung menyahut. Ia tahu apa yang akan diucapkan gurunya.

“Semoga setelah Ramadan Langit usil lagi. He-he,” kelakar Langit dengan khas candaannya.

Ini hanyalah salah satu kejadian lucu para murid setiap harinya. Tak dimungkiri, peristiwa serupa dapat terulang lagi dan lagi. Saya teringat pesan Pak Kambali waktu pertama kali saya masuk di SDIH 02. Beliau memberikan wejangan, “Tugas guru ada empat: belajar, belajar, belajar, dan mengajar.”

Bagikan:
2 thoughts on “Sadar Diri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *