Perbincangan bimbingan PIL (Program Induksi Lanjutan) sore hari di ruang Kepala Sekolah, diakhiri dengan pembahasan ban yang masih tergeletak seusai digunakan anak-anak bermain.

“Silakan, saya serahkan nanti kesepakatannya baiknya bagaimana menurut Bu Shoffa dan Bu Eva,” pungkas Pak Kambali.

 “Semoga besok bisa tersampaikan,” batin Bu Eva.

Pagi-pagi setelah BAQ, sebelum pembelajaran, dirasa waktu yang tepat untuk membahas sesuatu.

”Teman-Teman, adakah yang merasa bermain pakai ban kemarin?” selidik Bu Eva.

“Saya main, Bu, sama Gibran sama Vano waktu main bola, tapi sudah dikembalikan,” sahut Rafa.

“Alhamdulillah, terima kasih, Mas Rafa dan teman-teman sudah bertanggung jawab.” Bu Eva merasa lega atas kejujuran Rafa.

“Kemarin, Pak Kambali dan Bapak Ibu Guru melihat ada ban yang belum dikembalikan selesai bermain,” sambung Bu Eva.

“Itu kayaknya kakak kelas, Bu,” lapor beberapa anak.

“Mungkin, ya, Nak. Tapi Bu Eva ingin berpesan, khusus kelas 1, kalau selesai bermain ban, langsung dikembalikan dan ditata di tempatnya, ya.”

“Oke, Bu,” sahut beberapa anak.

“Kalau kelas 2 yang pakai gimana, Bu?” tanya Rafa.

“Sementara diingatkan aja gak pa-pa, Nak. Bu Eva belum tahu nanti kesepakatannya kakak kelas bagaimana. Atau kalau kalian mau membereskan juga boleh, malah bisa dapat pahala, berbuat baik,” terang Bu Eva.

Biasanya, anak-anak menggunakan ban sebagai sarana pengganti gawang ketika bermain bola.

Ban yang digunakan anak-anak untuk gawang.

Kesepakatan telah dibuat hari Selasa (16/01/2024), tinggal mengamati saja bagaimana implementasinya. Dilanjutkan pelajaran Bahasa Indonesia.

Bel istirahat sudah berkumandang. Jam istirahat pertama sebagian anak bermain di luar, sebagiannya lagi di dalam kelas. Waktu istirahat tersisa 3 menit.

“Teman-Teman, persiapan wudu,” pinta Bu Eva.

Salah seorang anak meneriaki teman-temannya yang masih bermain di luar supaya segera masuk untuk persiapan wudu.

Bu Eva belum beranjak dari kursinya. Ia masih menunggu murid-muridnya bersiap dan duduk di karpet. Tetiba Rafa menghampiri, ia melapor.

“Bu, tadi nggak ada yang mau beresin ban. Ya udah, saya yang beresin.”

Bu Eva mengapresiasi atas apa yang dilakukan Rafa. Berarti Rafa mendengarkan nasihat dengan baik. Tak hanya mendengar, ia juga mengimplementasikan. Memang itu tujuannya, implementasi nyata.

Tapi tak selesai di situ. Pengamatan mesti dilakukan setiap hari. Beberapa kali, anak-anak melaksanakan tugasnya dengan baik. Selesai digunakan, langsung dibereskan. Mereka juga telah diasyikkan bermain stik es krim sehingga jarang menggunakan ban.

Beberapa hari setelahnya, di siang hari, jam kepulangan anak-anak. Masih tersisa tiga atau empat murid kelas 2 yang belum dijemput.

“Fal, jangan lupa, ya, ini piket kita, lo, beresin ban,” teriak Qaleed kepada Naufal.

Kejadian itu membuktikan adanya implementasi nyata dari kakak kelas 2. Alhamdulillah.

Bu Eva mengangguk paham. Ia baru paham kenapa selalu ada ban yang terpasang di lapangan. Ternyata, kesepakatan kelas 2, dibuat ada petugas yang piket setiap hari khusus membereskan ban. Wajar jika ada ban yang masih terpasang di lapangan saat jam pelajaran. Jadi tak perlu lagi bertanya-tanya setiap hari.

Meskipun ada dua kesepakatan yang berbeda, tujuannya tetap sama, untuk ajang belajar bertanggung jawab.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *