“Terima kasih, Mas Bintang, sudah mengambilkan meja dan peraga,” ucap Bu Eva sembari berjalan menuju meja ngaji yang sudah disiapkan muridnya.

Seringnya, Bintang yang mengambilkan dan menyiapkan meja ngaji dan peraga jilid untuk gurunya. Sesekali Tristan atau Shaqueena.

“Teman-teman diluruskan dulu, yuk, mejanya dirapatkan. Mbak Nafiza, Mbak Shaqueena, maju lagi,” perintah Bu Eva.

Itu dilakukan supaya guru mudah menjangkau dan mendengar dengan jelas pelafalan murid-muridnya.

“Siapa yang tadi malam sudah belajar?” tanya Bu Eva.

Dua anak mengangkat tangan, dua anak lagi diam.

“Terima kasih yang sudah belajar. Teman-teman yang belum belajar, semoga nanti malam berusaha belajar, ya.”

“Kalau belajarnya sore boleh nggak, Bu?” tanya Shaqueena.

“Boleh, dong! Pagi, siang, malam, boleh semua.”

“Kapten, silakan memimpin doa,” lanjut Bu Eva.

Kapten Tristan memimpin. Sesekali kapten memanggil anak yang belum sesuai: belum baik duduknya, belum mengangkat tangan, atau belum menunduk.

“Nafiza! … Shaqueena!” seru kapten.

Tandanya kapten melihat sesuatu yang belum siap dari Nafiza dan Shaqueena.

“Berdoa mulai,” ajak kapten.

Selesai berdoa, anak-anak murajaah surah yang pernah dihafal. Lalu lanjut ke hafalan baru, yakni surah Al-Bayyinah setengah ayat di ayat kesatu terlebih dahulu. Mengingat satu ayatnya cukup panjang untuk anak-anak.

Guru memberi contoh dulu, baru anak-anak melafalkan sendiri. Setelah beberapa kali diulang, anak-anak sudah mulai hafal. Bu Eva mengetes satu per satu.

“Susah, Bu,” keluh Tristan.

“Semuanya mudah, Mas Tristan, kalau kita mau belajar, ya?”

“Iyaa …,” jawab Bintang dan Shaqueena.

Meski beberapa kali tertatih ketika melafalkan, dan sempat dibantu temannya, akhirnya Tristan berhasil menyusul Shaqueena dan Bintang. Ia mulai hafal meski belum begitu lancar. Proses setiap anak memang berbeda-beda. Bu Eva harus menyadari hal itu.

Nafiza sedari tadi hanya diam. Nafiza memang anak yang pendiam di kelas jika bersama teman-temannya.

“Sekarang giliran Mbak Nafiza, ya, Mbak Nafiza sudah hafal?” selidik Bu Eva.

Nafiza menggelengkan kepala.

“Oke, kalau begitu Mbak Nafiza bareng Bu Eva, yuk! Dua, tiga!” seru Bu Eva.

Suaranya masih lirih. Ia tampak belum percaya diri. Bu Eva berusaha mengajak Nafiza untuk mau melafalkan lagi. Ia tidak mau. Bu Eva mencoba merayu, lagi-lagi gagal. Kemudian di hari itu (16/01/2024) Nafiza ngambek tidak mau mengaji sampai waktunya selesai. Bu Eva merasa bersalah. Mungkinkah ia terlalu memaksa atau suasana hati Nafiza yang sedang tidak baik?

****

Masih di hari yang sama, pergantian pelajaran. Saat pelajaran ketiga, Nafiza tidak fokus ikut pelajaran.

Bu Eva mencoba mengajak Nafiza untuk mengaji, menggantikan yang tadi. Ternyata Nafiza menerima ajakan Bu Eva. Kala itu tampaknya suasana hatinya sudah lebih baik.

“Kita ke ruang TU aja, yuk, Naf. Nafiza ambil tas ngaji-nya, ya,” ajak Bu Eva.

“Oke!” sahutnya semangat.

Lantas Bu Eva meminta izin kepada Bu Amik, yang sedang mengisi kelas saat itu. Bu Amik mengizinkan.

Selama mengaji di ruang TU, Bu Eva terheran. Nafiza lebih lantang suaranya. Bacaannya juga lebih lancar. Ia lebih percaya diri meski di ruang TU ada Bu Nika dan Ustaz Aruf. Ia tampak santai. Bu Eva mengapresiasi Nafiza.

“Terima kasih, ya, Mbak Nafiza sudah mau mengaji hari ini. Mbak Nafiza ngaji-nya keren!”

Nafiza membalas dengan senyum.

“Terus sekarang ngapain?” ujarnya.

“Sekarang Mbak Nafiza bergabung dengan teman-teman, belajar di kelas lagi, ya,” jawab Bu Eva.

“Oke deh,” pungkasnya.

***

Keesokan harinya, Nafiza hampir ngambek lagi.

“Mbak Nafiza, nanti setelah ngajar, Bu Eva ada rapat. Jadi, Bu Eva belum bisa memberi tambahan seperti kemarin. Bu Eva tolong dibantu, ya, Nak. Nafiza ngaji-nya sekarang aja, ya, bareng teman-teman,” bujuk Bu Eva, memelas.

Tanpa menjawab, tetiba Nafiza mengubah posisi duduknya. Seolah ia menunjukkan siap mengaji. Alhamdulillah Nafiza mau mengaji di hari itu.

Keesokan harinya, Kamis (18/01/2024) hal yang serupa terjadi. Kali ini Bu Eva memelas lagi. Berharap Nafiza bisa diajak bekerja sama lagi.

“Mbak Nafiza, hari ini Bu Eva ngajar-nya full dari pagi sampai siang karena Bu Wiwik kan nggak masuk. Setelah ngajar, Bu Eva juga ada rapat lagi. Jadi, belum bisa memberi tambahan seperti kemarin untuk Mbak Nafiza. Ngaji-nya sekarang aja, ya, Nak.”

Setelah beberapa kali dibujuk, alhamdulillah, Nafiza mau ikut mengaji bersama-sama di hari Kamis.

Pasti tidak mudah menjadi Nafiza. Ia hebat, anak sekecil itu sudah bisa memerangi suasana hatinya selama dua hari. Dan berhasil. Jangankan bagi anak-anak, terkadang bagi orang dewasa pun tidak mudah memerangi suasana hati yang sedang tidak baik.

Apa yang dilakukan Nafiza bukan karena menyengaja. Ia memang mudah tersentuh hatinya. Buktinya, keesokan harinya, di hari Jumat, Nafiza mau mengaji tanpa ngambek lagi. Terima kasih, Mbak Nafiza sudah mau berjuang bersama Bu Eva dan teman-teman sekelompok.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *