Masuk ruang musala, tampak anak-anak sudah duduk rapi. Pak Kambali juga sudah berada di atas sajadahnya. Beliau duduk bersila. Azan pun sedang dikumandangkan. Saat itu yang mengumandangkan azan adalah Fillio. Bu Amik mencari sajadah dan mukena di kontainer, tempat biasa menyimpan mukena. Namun, tidak menemukan.

Bu Amik melihat sekeliling ruang musala. Sajadah ternyata telah tergelar di antara Nadia dan Kalynn. Bu Amik segera menuju ke tempat tersebut. Kemudian duduk dan memakai mukena.

“Siapa yang menata sajadah Bu Amik?” tanya Bu Amik.

“Saya sama Kalynn,” jawab Nadia.

“Terima kasih, ya Mbak Nadia,” ucap Bu Amik.

“Terima kasih, ya Mbak Kalynn,” ucap Bu Amik kepada Kalynn kemudian.

Kalynn hanya tersenyum sebagai jawabannya.

Selesai azan dikumandangkan, anak-anak segera berdiri. Pak Guru dan Bu Guru juga berdiri. Semua hendak melaksanakan salat kabliah. Meski masih kelas 1 dan 2, di SD Islam Hidayatullah 02 sudah dibiasakan salat kabliah dan bakdiah Zuhur.

Begitu tak terlihat lagi yang masih salat kabliah, Pak Kambali mempersilakan  petugas untuk mengumandangkan ikamah. Petugas pun segera berdiri dan mengumandangkan ikamah. Lā ilāha illallāh, kalimat terakhir itu menandakan semua yang ada di musala siap untuk melaksanakan salat Zuhur.

Salat Zuhur dilaksanakan dengan khusyuk. Yang menjadi imam salat Pak Kambali. Pak Slamet dan Pak Satpam pun ikut salat Zuhur berjemaah. Gerakan salat anak-anak sudah sesuai dengan yang diajarkan. Semua mengikuti salat Zuhur berjemaah dengan tertib.

Usai salam ke kanan dan ke kiri, mereka bersalam-salaman dengan jemaah yang terdekat. Kemudian dilanjutkan berdoa bersama. Setelah selesai berdoa, dilanjutkan salat bakdiah. Semua berdiri untuk melaksanakannya.

 Terdengar suara pelan dari Ustazah Layla, “Mbak Naren, yuk, bakdiah!”

Naren pun segera berdiri.

Bu Amik berdiri hendak melaksanakan salat bakdiah. Namun terhenti sejenak, melihat Nadia yang belum juga salat bakdiah. Sebenarnya Bu Amik ingin ajak Nadia untuk salat. Karena Nadia terlihat masih menengadahkan tangan, khusyuk berdoa, Bu Amik mengurungkan niatnya. Bu Amik pun salat bakdiah.

Teman-teman telah banyak yang selesai salat bakdiah. Anak putri merapikan mukena. Anak putra melipat sajadahnya. Pak Guru dan Bu Guru juga telah selesai. Nadia akhirnya selesai salat bakdiah. Ia merapikan mukena.

Ada rasa penasaran di hati Bu Amik, melihat Nadia yang berdoa melebihi khusyuknya teman-teman. Sampai-sampai salat bakdiahnya tidak bersamaan dengan teman-temannya. Akhirnya Bu Amik bertanya juga,“Tadi Nadia berdoa apa?”

“Semoga saat pra munaqasyah dan munaqasyah bisa lulus,” jawab Nadia.

“Terus, apa lagi?”

“Semoga sehat-sehat selalu.”

“Terus apa lagi?”

“Semoga dikumpulkan dengan keluarga, besok kalau di surga.”

“Terus apa lagi?”

“Sudah,” jawab Nadia

“Subhanallah!”

Nadia, doanya seperti doa orang dewasa. Tidak lagi berdoa semoga mama papanya membelikan mainan bagus atau makanan yang lezat. Ia ingin ke surga bersama keluarga.

Bagikan:

By Suparmi

One thought on “Doa Nadia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *