Pukul 11.40. Anak-anak kelas 1 dan 2 keluar dari kelas masing masing. Mereka berjalan berurutan menuju tempat wudu. Mereka akan wudu untuk melaksanakan salat Zuhur. Anak-anak sudah terbiasa tertib, baik kelas 1 maupun kelas 2. Yang mendapat kesempatan wudu di awal, mereka melaksanakan dengan baik. Yang mendapat kesempatan berikutnya menunggu dengan tertib. Mereka menunggu dengan duduk di bok sekitar tempat wudu.

Sultan, anak kelas 2, sedang menunggu giliran. Biasanya saat menunggu antrean wudu, Sultan tidak duduk seperti teman-temannya. Yang sering ia lakukan adalah jalan-jalan di sekitar sekolah. Melihat Sultan menunggu giliran, Bu Amik berinisiatif mengajak ngobrol. Berharap Sultan sabar menunggu giliran. Bu Amik menyapa Sultan lebih dahulu.

“Sultan, bagaimana kabar Mas Kai?” sapa Bu Amik.

“Mas Kai, baik,” jawab Sultan.

Mas Kai adalah kakak Sultan yang bersekolah di SD Islam Hidayatullah (01). Nama lengkapnya Muhammad Kaisar Priyan Habibie. Sultan biasa memanggil Mas Kai. Saat ini ia duduk di kelas 5A.

Tidak lama kemudian, Sultan bercerita,

“Tadi, Bu Shoffa menyuruh Sultan untuk menulis keinginannya.”

Bu Amik menanggapi yang disampaikan Sultan dengan balik bertanya, “Keinginan yang ditulis Sultan, apa?”

“Sultan menulis untuk seluruh bumi,” jawab Sultan.

“Maksudnya?”

Sultan tidak langsung menjawab, tetapi mendekatkan mulutnya ke telinga Bu Amik sambil berbisik, “Sultan punya keinginan, orang-orang di bumi selamat dan masuk surga.”

“Masyaallah!” seru Bu Amik.

Tidak pernah terpikirkan, Sultan mempunyai keinginan seluhur itu.  Usianya baru 6,5 setengah tahun. Sering kali, perilakunya menjadi perhatian Bapak Ibu Guru. Tidak jarang ia bersikap agak nyeleneh. Bahkan ketika akan wudu pun biasanya “drama” terlebih dahulu.

Namun beberapa hari terakhir ini, ia terlihat tertib. Saat akan berwudu, ia melipat lengan baju, menggulung celana, menuju keran lalu berwudu. Semua itu dilakukannya sendiri. Meskipun untuk kesempurnaan wudu, tetap diawasi oleh Ustaz Aruf.

Siapa menyangka kalau Sultan memiliki sifat semulia itu. Ia tidak egois. Yang dipikirkan tidak hanya dirinya sendiri, saudaranya, teman-temannya, atau keluarganya. Yang ia pikirkan adalah keselamatan seluruh manusia di muka bumi. 

Bagikan:

By Suparmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *