Suara kibor dari laptop Bu Eva turut membersamai suara mengaji anak-anak di kelas 1. Sesekali Bu Eva juga mengamati anak-anak yang sedang mengaji. Bu Eva mendapati Shaqueena tengah melepas kaus kaki. Sudah pasti ia mau izin ke toilet.

“Harus bersiap diri,” batin Bu Eva.

Tebakan Bu Eva benar. Shaqueena mendekat, lalu berbisik.

“Bu Eva, tolong antar saya ke toilet, ya, please,” pintanya lirih, tak lupa dengan ekspresi memohonnya.

“Bu Eva, lagi ngapain?” lanjutnya.

“Bu Eva lagi mengerjakan tugas. Mbak Shaqueena berani sendiri, ya,” ujar Bu Eva.

“Tapi saya belum yakin, Bu,” jawabnya.

“Shaqueena kan anak berani. Shaqueena setiap hari mengaji, salat, insyaallah dijaga Allah,” bujuk Bu Eva.

Ia masih memelas minta diantar.

Please, sekali ini aja, Bu Eva. Terakhir, deh,”

“Kemarin Shaqueena juga bilang begitu,” seloroh Bu Eva.

“Di belakang kan ada Pak Slamet, Nok. Nanti kalau ada apa-apa, kamu teriak aja, nanti Bu Eva langsung lari.”

Ia masih terdiam seolah enggan sendiri.

“Ya sudah, Bu Eva awasi dari sana, ya,” tawar Bu Eva.

Telunjuk Bu Eva mengarah ke kaca jendela kelas yang terdekat dengan toilet. Terdapat lingkaran kecil yang sengaja tidak dicat. Mungkin awalnya memang bertujuan untuk memantau ketika anak-anak bermain di belakang.

Beneran, ya, Bu. Tapi jangan kelihatan kacamatanya aja, ya, Bu,” pinta Shaqueena.

“Iya, deh, nanti Bu Eva lepas kacamatanya.”

Keduanya telah bersepakat.

“Berdoanya di sini aja, ya, Bu. Takut lupa lagi,” pintanya.

Bu Eva mengiyakan permintaan Shaqueena.

Kemudian Bu Eva berusaha meyakinkannya kembali kalau tidak ada apa-apa, apalagi kalau sudah berdoa.

Sebenarnya, dalam hati tidak tega. Bu Eva sangat bisa meluangkan waktunya sebentar. Tetapi Bu Eva terpikir jika selalu dituruti akan ada risikonya. Bisa jadi ia tidak belajar lebih berani lagi karena merasa selalu ada yang bisa diandalkan.

Hari-hari sebelumnya, Bu Eva telah berupaya meyakinkan kalau ia tidak sendiri. Ada Pak Slamet yang biasanya di belakang. Bu Eva ajak ia survei ke tempat istirahatnya Pak Slamet, yang pintunya selalu dilewati saat menuju toilet putri.

Awalnya ia terlihat begitu takut ketika Bu Eva ajak ke ruang dapur yang tembus ke ruangan Pak Slamet. Tetapi begitu terbukti kalau itu ruangan Pak Slamet, wajahnya tampak lebih lega.

Ternyata cara itu tak bertahan lama. Baru beberapa hari berani, ia kembali minta diantar. Bu Eva percaya jika sebenarnya Shaqueena anak pemberani dan percaya diri. Namun, menjadi ciut ketika hendak ke toilet. Belum diketahui apa penyebab pastinya. Kata sang bunda, di rumah pun begitu.

Shaqueena sudah berusaha menepis overthinking-nya, tetapi terkadang masih harus diintip dari jendela. Tanpa disadari, ia juga belajar untuk meyakini kekuatan doa.

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *