Judul di atas sejatinya saya siapkan untuk pemanasan besok pagi. Sabtu, 21 Oktober 2023, saya diajak berbincang-bincang dengan guru-guru di sekolah ini. Topiknya berat: seputar anak berkebutuhan khusus.

Saya tidak punya banyak pengetahuan tentang topik itu. Karena diajak, saya manut saja. Toh saya tidak harus jemawa berbagi pengetahuan. Teman-teman berbincang saya besok itu juga sudah hafal: saya tidak pernah malu untuk berbagi ketidaktahuan.

Apa profesi guru? Pertanyaan naif. Sudah jelas guru, kok masih ditanyakan apa profesinya?

Pak Taruna, Rektor IKIP PGRI Semarang (sekarang: UPGRIS) era 1990-an awal (mungkin sejak 1980-an) pernah menyatakan, “Di dunia ini hanya ada dua profesi: guru dan lain-lain.”

Saya terperangah mendengarnya.

“Karena profesi-profesi yang lain itu hanya produk guru,” lanjutnya, menjelaskan.

Kelak, 30-an tahun kemudian, saya menemukan fakta lain. Guru tidak hanya menghasilkan profesi-profesi lainnya. Yang lebih menakjubkan, guru juga menghimpun aneka profesi sekaligus dalam tugasnya.

Pagi ini saya dijawil Pak Kambali, Kepala Sekolah. Beliau minta izin untuk memasukkan saya ke grup percakapan yang beranggotakan para guru. “Daily Activity” label grupnya.

“Silakan,” jawab saya singkat.

Semestinya bukan saya yang dimintai izin. Teman-teman penghuni gruplah yang lebih berhak menentukan: boleh ada penyusup atau tidak. Saya tidak menanyakan itu. Saya paham, Pak Kambali jauh lebih mengerti adab daripada saya. Permintaan izinnya kepada saya itu juga menjadi bukti tawaduknya.

Ups, ternyata ada dua grup: kelas 1 dan kelas 2. Saya buka dua-duanya. Anggota kedua grup itu sama: Kepala Sekolah, staf tata usaha, dan seluruh guru. Yang berbeda, isinya. Grup kelas 1 berisi catatan peristiwa harian yang dialami anak-anak kelas 1. Kejadian-kejadian yang dialami murid-murid kelas 2 dicatat di grup kelas 2.

“Pagi-pagi, Naren dan Nadia berinisiatif menghapus tulisan di papan tulis,” catat Bu Shoffa, guru kelas 2, pada 5 Oktober 2023 di grup kelas 2.

“Aza mengingatkan Rama, yang lewat di depan Bu Amik tidak menundukkan badan,” tulis Bu Amik, guru kelas 2, pada 21 September 2023 di grup kelas 1.

Saya jadi paham mengapa semua guru ada di kedua grup. Semua guru adalah guru bagi semua murid. Bu Amik, yang guru kelas 2, juga merasa bahwa Aza (kelas 1) adalah muridnya. Demikian juga guru-guru yang lain. Bu Eva dan Bu Wiwik (guru kelas 1) tidak sungkan mencatat temuannya di grup kelas 2. Tentu, isinya perilaku anak-anak kelas 2.

Bu Shoffa dan Bu Amik (guru kelas 2) rajin menyumbangkan catatan di grup kelas 1, tentang perilaku anak-anak kelas 1. Bu Layla, Pak Adhit, dan Pak Aruf (guru Al-Qur’an), masing-masing menorehkan catatan perilaku anak-anak kelas 1 dan 2, tidak peduli mereka ikut kelompok mengaji yang diampu sendiri atau bukan.

Saya belum tahu apakah Mbak Ambar (staf TU) juga melakukan hal serupa. Saya belum sempat membaca seluruh tulisan di kedua grup. Dugaan saya, Mbak Ambar pun tidak mau ketinggalan: melaporkan hasil temuannya di grup kelas 1 dan kelas 2.

Yang saya juga belum tahu, temuan Pak Kambali atas perilaku guru-guru tertuang di sana atau tidak. Saya berani bertaruh, itu tidak beliau lakukan.

Catatan anekdotal. Itulah isi dua grup percakapan di sebuah platform media sosial yang mereka (sekarang: kami) ikuti. Kalau dikembangkan menjadi beberapa paragraf, catatan-catatan itu bisa menjadi anekdot. Lima dari sembilan personel sekolah ini sudah rutin menulis anekdot berangkat dari catatan anekdotal semacam itu. Yang empat sudah rutin juga memajang tulisan mereka di situs web Sekolah. Dua di antaranya bahkan sudah membukukan sebagian tulisan mereka.

Catatan anekdotal di kedua grup percakapan itulah yang membuka mata saya: aneka profesi terhimpun di dalam tugas guru.

Pada 18 Oktober 2023 Pak Adhit mencatat, “Naufal membuat Rayya dan Rendra menangis saat jam BAQ.”

Tidak diragukan, Pak Guru Adhit adalah juga wartawan. Lebih dari sekadar jurnalis, tentu Pak Adhit tidak hanya mencatat kejadian itu. Beliau pasti juga mengadili “perkara” antara Naufal dan dua temannya. Pak Adhit guru cum hakim. Pengadilannya bukan untuk mengganjar (tidak ada hubungannya dengan pilpres, lo!) hukuman kepada yang bersalah. Orientasinya adalah mendamaikan pelaku dan korban. Pak Adhit guru yang juga diplomat. Tugas belum selesai. Pak Adhit masih harus mengoreksi perilaku Naufal sekaligus memulihkan kepercayaan diri Rayya dan Rendra. Bukankah Pak Adhit guru yang psikolog sekaligus konselor?

“Kalynn berulang kali menyampaikan bahwa dia takut jika ke toilet sendiri. Kali kedua Bu Layla menguatkan Kalynn dengan mendoakan, ‘Ya Allah, lindungilah anak ini, kuatkanlah anak ini.’ Akhirnya Kalynn berani ke toilet tanpa ditemani,” tulis Bu Layla (10/10/2023) di grup kelas 2.

Aha! Doa Bu Layla tidak kalah mujarab daripada mantra dukun. Beliau juga sanggup menghadirkan rasa aman dalam diri Kalynn, seperti polisi yang baik hati. Ya, Bu Layla guru cum dukun plus polisi.

Masih banyak profesi lain yang dijalankan guru. Biarlah sisanya itu kami bincangkan besok.

Terngiang di kepala saya, pernyataan Pak Adim Dimyati (almarhum): “Pemerintah ini harus dikoreksi. Semestinya, guru SD digaji lebih besar daripada dosen.”

Pensiunan dosen Fakultas Ekonomi (sekarang: FEB) Undip mengemukakan kritiknya itu ketika menghadiri sosialisasi kurikulum baru di sekolah cucunya, belasan tahun silam.


Tabik.

Bagikan:

By Teguh Gw

Pekerja serabutan yang ingin bisa terus belajar dan belajar terus bisa

One thought on “Guru: Apa Profesinya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *