Bel penanda usainya pelajaran BAQ (Baca Al-Qur’an) berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar dari ruang mengaji. Mereka menuju kelas. Pintu ruang kelas masih tertutup. Pertanda kelompok 3 belum selesai mengaji. Pembelajaran BAQ kelompok 3 dilaksanakan di ruang kelas 1.

“Bu Wiwik, boleh main dulu?” tanya Vano.

Bu Wiwik mengangguk.

“Kita main kejar-kejaran, yuk!” seru Elora.

Anak-anak dari kelompok 2 memanfaatkan kesempatan itu untuk bermain kejar-kejaran. Vano, Elora, Akbar, Keenan, dan Inara asyik bermain.

Mereka telah paham, jika pintu masih tertutup berarti kelompok 3 belum selesai mengaji. Murid-murid dari kelompok 1 dan 2—jika sudah selesai mengaji di ruang terpisah—belum  disilakan masuk kelas. Tidak perlu mengetuk dan membuka pintu. Bersyukur, dalam waktu yang relatif singkat, anak-anak telah memahami dan melaksanakan kesepakatan tersebut. Benar-benar pembelajar!

Beberapa menit kemudian, Bu Eva membuka pintu kelas. Disusul Ustaz Aruf–guru BAQ kelompok 3–keluar dari kelas.

“Teman-Teman, ayo masuk!” seru Inara.

Dengan sigap, teman-teman Inara bergegas mengikuti ajakan Inara. Bu Wiwik mengekor di belakang mereka.

Rupanya, kelompok 1 juga belum selesai mengaji. Sambil menunggu kelompok 1, Bu Wiwik merefleksi jurnal PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) bersama murid-muridnya. Bu Wiwik mengamati isian jurnal tiap anak mulai dari nomor presensi 1. Kali ini, fokus refleksi adalah pada bagian salat lima waktu. Patut disyukuri, sebagian besar murid-murid telah melaksanakan salat wajib itu.

Semua anak telah berkumpul di kelas. Jurnal PPK juga telah selesai direfleksi bersama. Banyak anak yang termotivasi setelah mengetahui teman-teman mereka ada yang bisa full salat lima waktunya. Jiwa kompetisi anak-anak seusia mereka masih tinggi.

“Hello kids. How are you today?” sapa Bu Wiwik mengawali pelajaran Bahasa Inggris.

“I’m fine, thank you. And you?” respons murid-murid.

“I’m fine too. Thank you for asking.”

Bu Wiwik mengulas kembali materi pelajaran pekan lalu. Menggunakan pola tepuk tangan dan tepuk paha, anak-anak antusias mengucapkan: my name is …, diikuti penyebutan nama masing-masing, dilanjutkan: what’s your name?

“Baik. Sekarang Bu Wiwik akan mengajak Anak-Anak bermain Stand up, Hand up, Pair up.”

Ketika mengucapkan “stand up”, Bu Wiwik berdiri. Saat mengucap “hand up”, Bu Wiwik mengangkat lengan kanannya. Dan sewaktu mengucapkan “pair up”, Bu Wiwik melakukan tos dengan Fathir. Saat itu Fathir duduk di barisan paling depan.

Bu Wiwik mengulang kembali ketiga prosedur di atas. Ia lantas menjelaskan cara bermainnya. Bu Wiwik memastikan pemahaman murid-muridnya.

“Bu Wiwik, nanti menulisnya di mana?” tanya salah seorang murid.

“Nanti Bu Wiwik bagikan kertas. Anak-Anak cukup siapkan pensil.”

“Saat bermain, Bu Wiwik harap Anak-Anak tidak perlu berteriak-teriak. Cukup gunakan level suara satu. O, iya, Bu Wiwik juga meminta tolong kepada Anak-Anak untuk membantu teman yang belum lancar membaca. Anak-Anak bisa memberi tahu mereka cara menuliskan nama kalian,” jelas Bu Wiwik, “Jangan lupa untuk tos dan ucapkan “thank you” setelah selesai,” lanjutnya.

Sempat terlintas dalam benak Bu Wiwik, apakah mereka bisa mengikuti permainan ini sesuai prosedur. Keraguan itu nyatanya tak terbukti! Kali pertama mereka mempraktikannya, hasilnya sungguh di luar dugaan! Anak-anak kecil itu paham dan melakukan apa yang harus dilakukan. Kembali terbukti, mereka pembelajar sejati.

Anak-anak bermain dengan ceria. Saat hand up, mereka berjalan berjingkat tanda happy.

“Bu Wiwik, cara menulis ” Shaqueena” itu gimana?” tanya Rara, “Tadi, saya belum selesai menulis, tapi Shaqueena ninggalin saya.”

Bu Wiwik membimbing Rara dengan mengeja nama yang ditanyakan. Rara kembali bermain.

Setelah dirasa cukup, Bu Wiwik menghitung mundur mulai 10. Anak-anak diajak duduk kembali di karpet. Bu Wiwik menanyakan kepada tiap anak, berapa nama yang didapat. Jawabannya beragam. Rentang empat hingga 17 nama. Bu Wiwik tak mempermasalahkan banyak/sedikitnya nama yang didapat. Namun, apresiasi tetap diberikan kepada semua anak.

“Teman-Teman semua keren! Baru sekali bermain, tetapi sudah bisa. Are you happy to play stand up hand up pair up?”

“Happy,” seru semua murid penuh semangat.

“Alhamdulillah. Lain waktu, kita main lagi, ya. Ada satu hal yang perlu Bu Wiwik kuatkan. Kita ini bersaudara. Saudara sesama muslim. Jadi, saat bermain, kita harus saling membantu. Tadi, Mbak Rara belum bisa menulis nama Mbak Shaqueena. Jadi, sebaiknya Mbak Shaqueena membantu Mbak Rara dulu, ya.”

Shaqueena mengangguk sembari tersenyum.

Bu Wiwik sangat bangga atas pencapaian murid-muridnya. Keceriaan mereka saat belajar pun menjadi motivasi tersendiri bagi Bu Wiwik. Anak bahagia saat belajar merupakan kepuasan tersendiri bagi guru. Apalagi jika mereka memahami apa yang diajarkan. Teruslah belajar, fast learners. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *