Antre telah membudaya di sekolah maupun luar sekolah

Done! Imunisasi berjalan lancar. Meski ada sedikit “drama”, alhamdulillah bisa diatasi. Ada seorang siswa yang menolak diimunisasi ketika tiba gilirannya. Urutan giliran imunisasi berdasarkan nomor presensi. Rayuan guru tak mempan.

Oke, biarkan saja dulu. Jika dipaksakan, ia akan menangis dan meronta. Hal itu akan menciutkan nyali teman-temannya yang belum disuntik,” batin gurunya.

Singkat cerita, anak tersebut disuntik pada urutan paling akhir. Berkat kesigapan para guru yang memangku serta memegang tangan dan kakinya, “drama” itu berakhir dengan happy ending.

“Anak-anak silakan baris di lorong. Tidak perlu lari, jalan saja!” ucap salah seorang guru yang mengawal kegiatan imunisasi.

Para siswa berjalan kembali ke sekolah mereka, SD Islam Hidayatullah 02. Kegiatan imunisasi ini dilaksanakan di ruang meeting SD Islam Hidayatullah. Lazimnya anak-anak, mereka ingin menjadi yang nomor satu. Maka, guru harus sering mengingatkan untuk tetap dalam barisan tanpa harus menyalip temannya.

Setelah menyeberang jalan Bina Remaja, tibalah kami di Sekolah.

“Anak-anak, silakan cuci tangan, lalu istirahat,” ucap salah seorang guru.

Guru tersebut lantas berjalan menuju kelas lalu mengambil botol minum kosong miliknya. Ia bermaksud mengisinya dengan air galon di ruang tata usaha. Belum juga sampai di pintu ruang TU, ia dibuat semringah oleh sebuah pemandangan indah.

Murid-muridnya otomatis mengantre! Tanpa diminta! Mengular ke belakang menunggu giliran mencuci tangan. Tak ada pemandangan siswa-siswa saling menyelip. Sungguh menyejukkan mata!

Segera, guru mereka mengabadikan gambar pemandangan indah itu dengan kamera ponselnya.

Para siswa mengantre sepulang dari SDIH

Pengenalan kegiatan antre telah dilakukan di kelas secara masif. Hampir setiap hari mereka harus mengantre. Setiap kegiatan mengantre itu pula mereka harus selalu diingatkan. Tak cukup hanya sekali. Tak cukup hanya gurunya, teman-teman mereka di kelas pun masih sering memprotes temannya yang belum antre. Jika protes itu tak mempan, barulah guru mereka turun tangan.

“Rasa-rasanya masih jauh murid-muridku ini akan bisa antre. Ataukah mereka belum paham manfaat antre?” gumam guru mereka suatu ketika.

Rupanya Sang Maha Pembolak-Balik hati turun tangan melukiskan pemandangan indah itu.

Terima kasih, Anak-Anak. Kalian membuktikan bahwa prestasi itu butuh proses. Ada kalanya harus jatuh dulu hingga tahu bagaimana rasa sakit. Tak jarang pula kalian bosan mendengar “ocehan” guru kalian mengingatkan hal yang sama setiap saat. Semoga kebaikan ini terus kalian bawa kapan pun dan di mana pun.

Para siswa membudayakan antre di dalam maupun luar sekolah

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *