gunungan tempat bekal yang telah tercuci

“Bu Wiwik akan memberikan sebuah bintang hari ini. Bintang itu diberikan kepada satu-satunya anak yang mencuci tempat bekal,” jelas Bu Wiwik mengawali jam terakhir siang itu.

“Rendra!” seru para murid.

“Iya, betul. Selamat, Mas Rendra.”

Si empunya nama tersipu.

“Yah, tahu gitu aku tadi mencuci tempat bekalku.”

Beberapa murid kecewa tadi tak mencuci tempat bekal.

“Anak-anak, berbuat baik itu tidak untuk mengharapkan bintang. Mangkanya, Bu Wiwik tidak akan bilang kalau mau memberi bintang. Berbuat baik, ya, berbuat baik saja. Biar Allah yang membalas,” jelas Bu Wiwik.

“Mencuci tempat bekal itu bisa dibilang hal sederhana. Namun, ternyata manfaatnya banyak, lo.”

“Iya. Bisa melatih motorik,” Daffa menyeletuk.

“Betul sekali, Mas Daffa. Kalau Anak-Anak rajin mencuci tempat bekal dan piring, jari-jari tangan kalian akan semakin kuat, sehingga kalau menulis tidak gampang capek.”

“Selain itu, kegiatan ini juga bisa meringankan pekerjaan Bunda di rumah. Setiap hendak menata bekalmu, Bunda nggak perlu lagi mencuci tempatnya.”

“Oiya, siapa yang di rumah selalu mencuci peralatan makan sendiri?” tanya Bu Wiwik.

“Sayaaa!” seru separuh murid di kelas sambil mengangkat tangan mereka.

“Alhamdulillah. Hebat! Masih kecil tapi sudah bisa membantu Bunda.”

“Kalau aku piringnya dicucikan Mbak Ning,” celoteh Daffa.

“Kalau aku ada Bunda,” Langit menimpali.

“Iya, sekarang ini memang ada Bunda, Mbak, atau Nenek yang membantu kita di rumah. Namun, suatu saat nanti, kalau Anak-Anak sudah besar, kalian bisa jadi tidak tinggal di rumah lagi. Mungkin ada yang masuk pesantren, kuliah di luar kota, bahkan di luar negeri. Maka dari itu, sejak kecil membiasakan untuk mandiri. Insyaallah kalau Anak-Anak sudah dewasa akan bisa menyelesaikan sendiri tugas-tugas pribadi kalian,” jelas Bu Wiwik mengakhiri diskusi siang itu.

Itulah sekelumit refleksi menjelang kepulangan murid-murid. Dalam sehari bisa terjadi berkali-kali diskusi semacam itu. Setiap ada kejadian yang perlu diperbaiki, pasti akan dibicarakan bersama. Nyatanya, meski selalu dibahas, masih saja perlu penguatan di sana sini.

Sepulang anak-anak, Pak Kambali menanyakan perkembangan kegiatan “Kemah Mandiri”. Fokus pembahasan kali ini tentang kegiatan mencuci tempat bekal.

Nggih, Pak. Jumlah anak yang mencuci tempat bekalnya makin berkurang. Bahkan hari ini hanya Rendra saja yang mencuci (tempat bekal),” jelas Bu Wiwik.

“Harus dikuatkan lagi itu, Bu Wiwik. Kalau membudaya mungkin belum bisa. Jadi, sebaiknya disampaikan lagi ke anak-anak untuk mencuci tempat bekal mereka. Kalau perlu, bisa menggunakan jam mata pelajaran,” saran Pak Kambali.

“Iya, Pak. Coba besok saya kuatkan lagi ke anak-anak,” jawab Bu Wiwik.

***

Bel istirahat kedua berbunyi. Para murid berhamburan keluar kelas.

“Bu Wiwik, bekalku sudah habis. Aku mau mencuci tempatnya,” seru Sabrina.

“Iya, Sabrina hebat!”

Naren mendekati Bu Wiwik sembari menjinjing tas bekalnya.

“Naren hari ini bekalnya banyak. Sudah habis belum?” tanya Bu Wiwik.

Naren menggelengkan kepalanya. Ia membawa dua kotak bekal berisi spageti dan roti tawar isi cokelat.

“Ayin, sini! Makan bekal bareng Naren,” panggil Bu Wiwik kepada Kalynn.

Kalynn mendekat sembari membawa kotak bekalnya.

“Nanti kalau sudah kenyang, Naren bisa berbagi bekal dengan Kalynn, ya.”

“Bu Wiwik, aku udah kenyang. Kalynn juga nggak mau” ucap Naren menunjukkan sisa bekalnya.

“Itaf tadi bilang kalau dia tidak membawa bekal. Aku kasih ke Itaf, ya, Bu?

“Apa itu? Oh, spageti. Mau,” jawab Itaf.

“Makasih, Naren,” respons Itaf.

“Nanti Itaf yang cuci tempat bekal ini, ya,” pinta Bu Wiwik.

“Oke, Bu,” jawab Itaf.

Bel berbunyi. Tanda masuk kelas di jam terakhir. Bu Wiwik menuju kelas. Mendekati pintu kelas, ia menoleh ke kiri. Senyum tipis tersungging di sudut bibir.

Gunungan tempat bekal yang telah tercuci

Alhamdulillah, tempat bekal yang tercuci menggunung lagi di keranjang penirisnya. Bahkan, tidak muat menampung kotak bekal yang telah tercuci. Dengan sedikit pancingan dan pemahaman, murid-murid kembali bersemangat melakukan kebaikan. Tak hanya gunungan kotak bekal saja yang membuat gembira, budaya antre pun menjadi bonusnya. Satu lagi bonusnya: kemauan berbagi. Hattrick!

Memang, menumbuhkan suatu kebiasaan butuh trial and error. Cara Bu Wiwik kali ini bisa jadi tak mempan lagi dilakukan di hari lain. Eror itu akan memantik kreativitas guru. Yang penting konsisten pada tujuan awal.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *