Kamis, 23 Juni 2022, pukul 18.10 saya lihat HP. Ada panggilan tak terjawab. Dari Pak Andi. Saya telepon balik Pak Andi. 

Ternyata Pak Andi sedang perjalanan dari Madiun menuju Lampung. Hendak singgah di Semarang. Tepatnya di Susukan, Kabupaten Semarang. Di rumah Bu Iin, Kepala PAUD Islam Hidayatullah. Tadinya, Pak Andi berencana menginap di hotel atau penginapan. Namun, saat menghubungi Bu Iin, Pak Andi mendapat tawaran menginap di rumah Bu Iin. Kebetulan rumah Bu Iin yang di Susukan kosong. Bu Iin dan keluarganya tinggal di rumah yang satunya, bukan yang di Susukan. 

Semasa kecil Pak Andi tinggal di Madiun. Lalu bersama orang tuanya hijrah ke Lampung. Saat ini menjabat Kepala SMP IT Wahdatul Ummah di Metro, Lampung. SMP IT Wahdatul Ummah termasuk salah satu satuan pendidikan pelaksana PSP (Program Sekolah Penggerak) angkatan II.

Suatu ketika Pak Andi mengikuti kegiatan SLP (School Leadership Program). Demikian pula saya dan empat kepala sekolah di LPI Hidayatullah (Bu Iin, Bu Peni, Bu Nana, dan Bu Etik). Kami bertemu dan kenal di kegiatan SLP tersebut. Alhamdulillah, silaturahmi terus dilakukan dengan berbagai sarana.

Kamis malam itu saya belum bisa menemui Pak Andi di Susukan. Sebagai gantinya, Jumat pagi saya menemuinya di Susukan. Tiba di Susukan pukul 06.10. Pak Andi sudah di depan rumah. Menyambut kedatangan saya.

Di depan rumah, kami bincang-bincang banyak hal. Salah satunya tentang Kurikulum Merdeka. Dalam Kurikulum Merdeka, ada istilah pembelajaran berdiferensiasi. Pak Andi baru saja mendapat banyak hal tentang pembelajaran berdiferensiasi dari fasilitator. Memang sekolah yang mengikuti PSP (Program Sekolah Penggerak) difasilitasi oleh fasilitator. Kata Pak Andi, fasilitatornya adalah dosen. 

Pembelajaran berdiferensiasi itu menuntut banyak guru. Dalam satu kelas, bila ditemukan jenis karakter murid sebanyak lima jenis karakter, jumlah guru dalam kelas tersebut haruslah lima. Begitu pula, dengan kegiatan pembelajarannya, juga harus lima jenis kegiatan pembelajaran yang berbeda. Sehingga RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang dibuat juga sebanyak lima dalam sekali waktu pembelajaran tersebut. Demikian sekelumit penjelasan yang disampaikan Pak Andi pagi itu.

Sesaat saya terdiam. Sembari memandangi raut wajah Pak Andi. Sembari berpikir: orang ini serius atau bercanda. Lalu mulai saya gali informasi.

“Itu menurut pemahaman Pak Andi?”

“Bukan. Itu yang disampaikan oleh fasilitator.”

“Masa, begitu?”

“Iya. Waktu itu saya mendebatnya. Sebab saya tidak setuju. Apalagi yang tentang gurunya harus banyak dalam satu kelas. Tetapi, fasilitatornya tetap ngeyel seperti itu.”

Saya kesulitan untuk menanggapi penjelasan ini. Pak Andi adalah kepala sekolah penggerak, sedangkan saya, tidak. Namun, nalar saya belum bisa menerima penjelasan itu. Memang saya belum pernah ikut pelatihan tentang Kurikulum Merdeka, tetapi saya sudah beberapa kali membaca tulisan tentang Kurikulum Merdeka. Dari situ, saya punya pemahaman. Dan pemahaman saya berbeda dengan penjelasan Pak Andi—tepatnya, fasilitator Pak Andi. Bagaimana saya bisa meyakinkan Pak Andi.

Tiba-tiba saya teringat. 

Saya ambil tas. Dari tas tersebut saya keluarkan buku berwarna merah. Judulnya: Diferensiasi Memahami Pelajar untuk Belajar Bermakna & Menyenangkan. Penulisnya adalah Najelaa Shihab & Komunitas Guru Belajar. 

Saya buka salah satu tulisan di dalamnya. Tentang tiga miskonsepsi pembelajaran diferensiasi. Miskonnsepsi pertama: kelas diferensiasi perlu banyak guru karena masing-masing kebutuhan belajar pelajar harus dilayani secara individu. Yang kedua, diferensiasi berarti perlu banyak varian RPP, malah jangan-jangan satu anak harus dibuatkan satu RPP. Yang terakhir, terjebak dalam pengelompokan yang kaku, statis, tanpa usaha meningkatkan kemampuan pelajar. Itu tulisan Imelda Hutapea. 

Saya tunjukkan halaman 31—46 yang saya buka satu per satu. Pak Andi mencermati tulisan itu. Sesaat kemudian, Pak Andi ambil HP. Lalu memohon izin untuk memotret poin-poin penting dalam tulisan tersebut.

“Ini akan saya jadikan bahan argumentasi saya saat bertemu fasilitator. Buku ini beli di mana?”

“Yang beli, temanku. Namanya Bu Wiwik. Belinya, online.”

Alhamdulillah, lega rasanya. Setidaknya saya telah menyampaikan pemahaman dengan sudut pandang berbeda. Dengan dilengkapi referensinya. Soal tindak lanjut berikutnya, sepenuhnya Pak Andi yang akan menentukan. (A1)

Bagikan:
One thought on “Teman SLP”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *