Azan Zuhur berkumandang di ruang sebelah: ruang kelas yang difungsikan sebagai musala. Para siswa bersiap melaksanakan wudu. Lengan baju dan celana dilipat. Kapten kelas memimpin tepuk dan niat wudu. Rutinitas siang yang tak pernah terlewat.

Di tempat wudu, para siswa yang telah lulus tes rukun wudu melaksanakan wudu secara mandiri. Kelompok wudu A dan B telah selesai berwudu. “Kloter” wudu ketiga memasuki tempat wudu.

Siswa-siswa yang lain duduk sambil menunggu giliran. Rayya berjalan dari kamar mandi. Ia baru saja menyelesaikan hajatnya. Ia kemudian duduk di tempat duduk paling barat. Di depannya, teman-temannya tengah berwudu dengan bimbingan Ustaz Adhit. Ia melihat beberapa pasang sandal belum tertata rapi. Tanpa diminta, Rayya menata sandal-sandal itu.  Ia memastikan semua sandal berjajar rapi. Kejadian ini berulang setiap hari. Rayya istikamah melakukannya.

Tiga pekan berikutnya.

“Kloter” ketiga telah usai berwudu. Sandal-sandal peserta wudu kloter ini telah tertata rapi. Rayya yang menata. Rayya dan teman-temannya memakai sandal mereka lalu berbaris untuk berdoa sesudah wudu bersama Miss Afiifah.

Peserta “kloter” terakhir memasuki tempat wudu. Ada seorang gadis kecil yang menata sandal teman-temannya. Valda, namanya. Rupanya ia mengamati apa yang Rayya lakukan. Mungkin ia merasa nyaman jika semua sandal berjajar rapi. Seulas senyum tersungging di sudut bibir seorang guru yang mengamati tindakan Valda.

“Masyaallah, keistikamahan Rayya berbuah manis,” batin guru itu. “Semoga suatu hari nanti ada Rayya-Rayya dan Valda-Valda berikutnya”. (A2)

Bagikan:
One thought on “Istikamah”
  1. Saya masih ingat pernyataan dari guru saya: Istiqomah itu lebih baik dari 1000 karomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *