Rabu, 6 Agustus 2025. Littlepreneur perdana di tahun ajaran baru. Sejak sepekan sebelumnya, Bu Indah dan Bu Iin sudah intens berkomunikasi dengan Bu Shoffa—penanggung jawab kegiatan tahun lalu. Tahun ini, Bu Indah dan Bu Iin-lah yang menggantikan Bu Shoffa.

Littlepreneur mulai diluncurkan pada 30 Oktober 2024. Saat itu, nama kegiatannya adalah Entrepreneur Cilik. Hingga kini, kami masih memfokusi tujuan utamanya, yakni: memfasilitasi murid-murid dengan pengalaman nyata tentang pengenalan uang dan transaksi jual beli. Sejak pertama kali diluncurkan hingga saat ini, Littlepreneur dilaksanakan tiap sepekan sekali. Kami ingin memberi kesan kepada anak-anak bahwa “jajan” itu tidak perlu dilakukan setiap hari.

Selasa sore, wali kelas 1—4 mengumumkan informasi tentang Littlepreneur di grup kelas. Sebelumnya, informasi yang sama juga telah disampaikan kepada anak-anak. Bagi muri-murid kelas 1, ini merupakan kali pertama mereka mengikuti Littlepreneur. Meski Bu Eva telah menjelaskannya di kelas, anak-anak masih tampak kebingungan.

Bapak/Ibu Guru sudah stand by di kantin—tempat pelaksanaan Littlepreneur. Kami menempatkan diri di posisi strategis untuk mengarahkan anak-anak. Rombongan murid kelas 1 mulai berdatangan. Mereka tampak kebingungan. Saya mengarahkan anak-anak kelas 1 putra menuju antrean. Dari sorot matanya, terlihat anak-anak ini mengamati situasi dengan saksama.

“Mereka sedang belajar. Simulasi sekaligus praktik,” batin saya.

Area kantin terdiri atas dua bagian. Sisi utara digunakan untuk kantin putri. Sisi selatan untuk kantin putra. Di antara keduanya terdapat pembatas berupa dinding setinggi kira-kira 1,5 meter. Di dalam area penjual putra ada Qaleed, Iqbal, dan Naufal yang bertugas. Ketiganya tampak sibuk melayani pembeli.

Meski antrean cukup panjang, anak-anak yang mengantre tidak berdesakan. Antrean diatur hanya enam anak yang berdiri di depan meja penjual. Anak-anak lain yang mengantre, diminta duduk di bangku yang berada tepat di belakang antrean berdiri. Cara ini kami pandang masih efektif untuk dilakukan. Demi kenyamanan anak-anak.

Suasana menjadi riuh saat bel masuk sudah berbunyi. Masih ada antrean yang belum mendapat giliran untuk jajan. Kami berupaya untuk menenangkan mereka.

Lo, Bu, spagetinya sudah habis,” keluh Itaf.

“Iya, Mas Itaf jajan yang lainnya saja,” respons saya.

Itaf dan para pengantre lainnya terlihat waswas. Mereka khawatir jajanan yang diincar habis terbeli oleh pengantre yang ada di depan mereka. Saya tidak mendapati Itaf dkk saat bertransaksi. Ketika saya kembali ke area kantin putra, Itaf dkk sudah menikmati kudapan yang mereka beli. Tak terlihat ekspresi kecewa di wajah mereka. Mereka berbesar hati menerima kenyataan bahwa jajanan incarannya telah habis terjual.

Kami memberikan tambahan waktu supaya anak-anak menikmati makanan yang mereka beli. Ini akan menjadi bahan evaluasi kami untuk Littlepreneur berikutnya. Beberapa hal telah terbahas dalam pembicaraan informal di sela-sela Littlepreneur hari ini. Salah satunya sudah disepakati: penambahan area penjual dan petugasnya.

Baca juga:Molor?

Bu Indah dan Bu Iin berkolaborasi dengan wali kelas 3 merencanakan untuk menambah petugas penjual. Dari yang awalnya tiga anak menjadi empat. Empat anak tersebut diambil dari dua anak kelas 3 dan dua anak kelas 4. Harapannya, murid-murid kelas 4 dapat menjadi mentor bagi adik kelasnya. Meski demikian, para guru juga tak tinggal diam. Kami tetap mendampingi dan memfasilitasi.

Bersyukur, Littlepreneur perdana tahun ini berjalan lancar. Meski masih ada kekurangan, kami menjadikannya sebagai bahan belajar. Belajar untuk perbaikan ke depan. Mendapati ini, saya jadi teringat macam-macam fungsi asesmen. Apa yang Bu Indah dan Bu Iin lakukan bisa jadi merupakan praktik dari assesment for learning. Penilaian/evaluasi untuk perbaikan.  Dan saya meyakini, jika kami—para guru—konsisten mempraktikkan assesment for learning, semua kegiatan yang dilaksanakan akan senantiasa menuju proses perbaikan. Semoga. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code