Entrepreneur Cilik. Itulah tajuk kegiatan yang akan dimulai pada Rabu (30/10/2024) esok. Sejak awal Oktober, Pak Kambali mulai mewacanakan kegiatan ini. Saya dan Bu Shoffa diamanahi untuk merancang desain kegiatannya. Saya menyusun grand design-nya, Bu Shoffa yang mengeksekusi. Sebelumnya, kami berdua menghadap Pak Kambali untuk menyampaikan hasil diskusi kami. Pak Kambali sepakat, tetapi tetap memberikan arahan. Sosialisasi internal pun segera dilakukan.

Jumat, 11 Oktober 2024, saya menyampaikan informasi terkait Entrepreneur Cilik di grup WhatsApp kelas 1—3. Disusul undangan untuk perwakilan orang tua murid dengan agenda sosialisasi teknis kegiatan. Alhamdulillah, tujuh wali murid hadir mewakili kelas masing-masing. Bunda Agny (kelas 3), Bunda Tiwi (kelas 2), dan Bunda Sarah (kelas 1) ditunjuk sebagai koordinator. Tugas beliau-beliau adalah menyampaikan informasi yang telah terbahas dan menghimpun penyedia jajanan.

Ya, penyedia jajanan ditawarkan kepada orang tua yang berminat. Kegiatan ini hanya dilakukan sepekan sekali, yakni setiap Rabu. Pada hari itu, anak-anak dianjurkan tidak membawa bekal makanan, melainkan uang saku. Uang yang dibawa tidak boleh lebih dari Rp10.000,00. Murid-murid kelas 3 bertugas sebagai penjual. Setiap pekan ada enam anak yang ditugasi. Bergiliran dengan sistem piket. Pembelinya adalah murid-murid kelas 1—3 dan Bapak Ibu Guru.

Kami meyakini bahwa kegiatan ini akan sangat bermanfaat bagi anak-anak. Setidaknya, mereka akan merasakan langsung edukasi tentang pengenalan mata uang, jual beli, kejujuran, jajanan aman, manajemen diri, serta budaya antre.

“Teman-Teman, Bu Wiwik hendak menyampaikan pengumuman penting,” ucap saya mengawali diskusi.

“Insyaallah, besok akan dimulai kegiatan Entrepreneur Cilik. Kalian menjadi pembeli. Penjualnya kakak kelas 3.”

Murid-murid riuh menyambut informasi ini dengan girang. Ano dan beberapa murid lain mengangkat tangan.

“Sebentar, ya, Mas Ano dan Teman-Teman, Bu Wiwik selesaikan dulu penjelasannya. Nanti akan ada kesempatan untuk bertanya,” jeda saya.

“Khusus besok, anak-anak tidak perlu membawa bekal makanan dari rumah. Tetapi membawa uang. Paling banyak Rp10.000,00. Anak-anak boleh jajan. Kakak kelas 3 akan berjualan di selasar. Saat jajan, anak-anak mengantre dalam dua barisan. Setelah itu, makannya di kelas,” jelas saya. “Ada yang ingin bertanya?”

Beberapa murid mengangkat tangan.

“Silakan, Mbak Muti.”

“Bu, bawa uangnya boleh lima ribu?”

“Boleh. Yang penting enggak lebih dari sepuluh ribu,” sergap Kaisar.

“Betul sekali, Mas Kaisar.”

“Itu jajannya waktu istirahat, Bu?” tanya Aqilaa setelah dipersilakan.

“Iya. Waktu istirahat pertama dan kedua. Kalau uangnya masih,” jelas saya sambil tersenyum.

Beberapa anak lain juga bertanya. Namun hanya sebatas konfirmasi.

Saat yang dinanti pun tiba. Begitu bel istirahat berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas. Mengantre untuk berbelanja. Anak-anak putra mengantre di stan depan kelas 3. Sementara yang putri di depan kelas 1. Meski harus menunggu cukup lama, anak-anak tetap patuh dalam antrean. Tidak tampak suasana rebutan ataupun desak-desakan.

Beberapa anak putri kelas 1 duduk melingkar di karpet sambil menikmati jajanan yang mereka beli.

“Eh, Bu Wiwik juga jajan,” celetuk Muti.

Saya membalasnya dengan senyuman. Saya pun bergabung dalam lingkaran.

“Uang saya masih empat ribu,” jelas Aqilaa.

Nirmala tak mau kalah.

“Kalau uang saya tinggal ini,” ucap Nirmala sembari meletakkan dua lembar uang dua ribuan di karpet.

“Ih, kita sama, Nir!” kata Aqilaa.

Sambil menikmati kudapan, saya menanyakan pengalaman jajan mereka. Saya fokus pada jumlah uang yang telah mereka belanjakan dan sisa uangnya. Diskusi masih berlangsung seru. Bel berbunyi.

“Teman-Teman boleh melanjutkan makannya. Persiapan wudunya sepuluh menit lagi.”

Saya dan Bu Eva sepakat untuk menambah waktu istirahat. Antrean saat jajan mengurangi waktu makan anak-anak.

“Bu, saya sudah kenyang,” ucap Reva. “Ini saya makan nanti waktu istirahat kedua, ya, Bu?” lanjutnya.

“Iya, Nak. Simpan di laci bawah, ya.”

Reva mengangguk. Ia berjalan berjingkat menuju kursinya. Setelah menyimpan sisa jajannya, Reva melipat lengan bajunya.

“Saya nanti mau jajan lagi,” lapor Fatih.

“Loh, uangmu, kan, tinggal lima ratus,” selidik Aqilaa, “Enggak cukup kalau buat beli jajan lagi,” lanjutnya.

Fatih berpikir sejenak. Ia lantas merengek. Hingga akhirnya menangis.

“Mas Fatih tadi jajan berapa?”

Fatih menjeda tangisnya. “Dua,” jawabnya singkat.

“Sama. Bu Wiwik tadi juga beli dua jajan. Sudah Bu Wiwik makan. Alhamdulillah, sekarang Bu Wiwik sudah kenyang. Fatih masih lapar?”

Kali ini, Fatih berhenti menangis, “Enggak, sih. Saya juga sudah kenyang.”

“Nah, kalau sudah kenyang, nanti istirahat kedua tidak perlu jajan lagi. Dan kalau Fatih pengin jajan lagi, pekan depan minta Umi membawakan uang sepuluh ribu, ya. Tadi Fatih bawa enam ribu, kan?

Fatih kembali berpikir. Kali ini cukup lama. Saya harap-harap cemas. Hingga akhirnya Fatih pun mengangguk. Lega rasanya.

Menjelang istirahat kedua, saya kembali khawatir. Jangan-jangan Fatih merajuk lagi minta jajan. Bersyukur, kekhawatiran saya tak terjadi. Fatih tak terlihat di dalam kelas. Entah apa yang dilakukannya di luar.

Kamis (31/10/2024), saya membersamai anak-anak saat istirahat. Kami menikmati kudapan di karpet.

“Kemarin, saya dikasih uang Mbak Naren, Bu,” jelas Muti.

“Berapa?” selidik saya.

“Seribu, Bu.”

“Saya mau jajan lagi, tapi uangnya kurang seribu. Akhirnya dikasih Mbak Naren,” jelas Mutiara.

“Alhamdulillah. Sudah bilang makasih ke Mbak Naren?”

“Sudah, Bu. Terus, saya juga kasih Fatih, biar dia enggak nangis lagi.”

“Mbak Muti kasih uang ke Fatih?”

“Enggak, Bu. Saya kasih jajan.”

“Masyaallah. Makasih, ya, Nak. Mbak Muti anak baik. Peduli banget sama temannya.”

Baca juga: Molor?

***

Hari pertama Entrepreneur Cilik diluncurkan, saya merasa sangat bombong. Setidaknya ada empat hal positif yang saya alami dan saksikan sendiri. Penguatan budaya antre, edukasi hitung uang, manajemen diri, dan kepedulian. Saya adalah bagian kecil dari pelaku kegiatan ini. Saya meyakini, masih banyak hal positif lain yang tidak saya alami dan saksikan. Tidak hanya saya, murid-murid dan guru-guru lain pasti juga punya pengalaman positif dari kegiatan ini. Semoga, Entrepreneur Cilik tak hanya sarat kesan, namun juga memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak-anak. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code