Para siswa menyimak penjelasan Ustaz Adhit

Ini cerita di tahun ajaran 2022/2023.

“Simulasi POS BAK tadi, bagaimana pelaksanaannya?”

“Untuk siswa putra, Alhamdulillah berjalan dengan baik, Pak Kambali. Hanya saja, baru terlaksana satu kelompok,” jawab Ustaz Adhit.

“Yang kelompok lainnya bagaimana, Ustaz?”

“Di dalam kelas bersama Bu Wiwik, Pak Kambali.”

“Bagaimana Ustaz Adhit melakukannya?” 

“Kelompok pertama saya ajak ke toilet putra. Saya beri contoh dan penjelasan terlebih dahulu. Lalu anak-anak mempraktikkannya satu per satu.”

“Bagaimana dengan yang putri, Ustazah Layla?”

“Yang putri juga sama, Pak Kambali, baru satu kelompok. Kelompok lainnya di dalam kelas bersama Bu wiwik,” jawab Ustazah Layla. 

 “Siswa yang di kelas sudah saya beri penjelasan, tetapi belum mempraktikkannya, Bapak/Ibu,” Bu Wiwik ikut menimpali.

Percakapan tersebut berlangsung di ruang guru. Setelah pengabdi guru dan non-guru jemaah Zuhur dan tadarus bersama. Saya meminta laporan teman-teman mengenai pelaksanaan kegiatan pagi hari sekaligus mengevaluasinya.

Baca juga: Tak Mau Rugi

Senin (02/01/2023) itu hari pertama anak-anak masuk sekolah di semester 2. Anak-anak dipulangkan lebih awal, pukul 10.00—biasanya sampai dengan pukul 13.30. Termasuk dua hari berikutnya—Selasa dan Rabu—masih dipulangkan pukul 10.00. Ini dilakukan sebagai masa transisi. Sebelumnya, selama dua pekan, anak-anak libur sekolah. Bila hari pertama langsung dipulangkan pukul 13.30, ada risiko anak-anak kaget dan belum siap.

Salah satu kegiatan pada hari pertama, simulasi POS (prosedur operasi standar) BAK (buang air kecil). Dijadwalkan berdurasi 60 menit. Namun, ternyata waktu yang disediakan tersebut belum cukup. Masih menyisakan sejumlah anak yang belum mempraktikkan POS BAK. Penjelasan secara teori memang sudah selesai, tetapi teori tidaklah sama dengan praktik. 

Pada semester 1 anak-anak sebetulnya telah diajari cara melakukan BAK. Namun, penyegaran di awal semester 2 ini dipandang perlu dilakukan. Selain karena sudah dua pekan anak-anak libur, juga karena beberapa temuan pada semester 1 yang perlu ditidaklanjuti. Di antaranya, bau pesing yang diantisipasi dengan standar penyiraman, dan lantai toilet kotor yang diantisipasi dengan penggunaan sandal dalam toilet. Sehingga simulasi di awal semester 2 ini bukan hanya penyegaran, melainkan sekaligus penyempurnaan prosedur berdasarkan evaluasi pada semester sebelumnya.

Laporan dari teman-teman bahwa sejumlah anak belum mempraktikkan POS BAK pada hari pertama, perlu ditindaklanjuti. Sebenarnya pilihannya hanya dua: waktu simulasi dicukupkan atau ditambah. 

Bila dicukupkan, kegiatan berikutnya dapat dilakukan sebagaimana jadwal yang telah disusun sebelumnya. Tidak perlu penjadwalan ulang. Tidak perlu merencanakan ulang skenario kegiatan. Tidak perlu ada perubahan rencana di tengah jalan. Mudah dipahami, perubahan di tengah jalan memang merepotkan dan menambah capek guru. Belum lagi jika muncul hal-hal tak terduga yang menguras pikiran. Namun, pilihan ini berdampak positif bagi anak-anak. Mereka yang belum sempat mempraktikkan tentu tidak bisa disamakan dengan yang sudah mempraktikkannya. Harapan anak-anak melakukan BAK dengan tuntas sebagaimana yang telah ditetapkan guru sulit terpenuhi. Bahkan, kemungkinan besar anak-anak akan menggunakan cara lama yang biasa mereka lakukan. Bila demikian, ikhtiar guru untuk perubahan sikap—saat melakukan BAK—pada anak tidak akan berhasil.

Setelah saya bicarakan dengan Bapak/Ibu guru, akhirnya diputuskan waktu simulasi ditambah. Ada harapan besar anak-anak melakukan BAK dengan baik dan benar, mengikuti tutunan Rasulullah. Memang ini mengubah jadwal, skenario kegiatan ikut berubah, bahkan ada jam pelajaran yang harus dipakai untuk tambahan waktu simulasi. 

Kalau dalam fikih, BAK ini berkaitan dengan hadas dan najis. Suci dari hadas dan najis adalah salah satu syarat sah salat. Salat adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah saat Rasulullah mi’raj. Membekali anak dengan prosedur BAK dengan baik dan benar sama halnya membekali anak untuk menjalankan perintah Allah.

Saya cukup berbangga dengan Bapak/Ibu guru yang akhirnya memilih menambah waktu simulasi. Demi memastikan setiap anak berkesempatan mempraktikkan POS BAK. 

Saya juga berbangga dengan Bapak/Ibu guru yang lebih memprioritaskan keterampilan anak melakukan BAK, sehingga merelakan jadwal pelajarannya—kognitif—dipakai untuk tambahan waktu simulasi. Bukan berarti kognitif harus dikalahkan oleh psikomotorik, melainkan pendidikan tetap harus memperhatikan usia anak didik. Di kelas 1 ini, anak-anak jauh lebih membutuhkan keterampilan BAK dibanding kognitif pelajaran. 

Baca juga: Istinja

Memang tidak ada jaminan, tambahan waktu simulasi menjadikan anak-anak dapat melakukan BAK dengan baik dan benar. Namun, setidaknya itu saya pandang sebagai usaha sungguh-sungguh untuk mencapai hasil maksimal. Dan ada tugas berikutnya yang juga perlu dilakukan sungguh-sungguh: merawat dan menjaga pembiasaan anak-anak saat BAK. Bagaimana caranya? Itu PR bagi guru (termasuk orang tua, saat anak di rumah). Semoga Allah mempermudah para guru dan orang tua dalam menjalankan tugasnya mendidik anak-anak. (A1)

Baca juga: Teladan Orang Tua

Bagikan:
6 thoughts on “Teori dan Praktik”
  1. Secara realita, praktik memang adalah cara paling efektif untuk menerapkan teori yang telah di sampaikan. Dengan adanya praktik anak anak tentu saja akan lebih cepat dalam menerapkannya

  2. Praktik adalah cara yg paling efektif untuk mengajarkan kepada anak-anak, karena dengan praktik anak anak akan lebih mudah untuk memahami dan menerapkan di kehidupan mereka

  3. selain teori ternyata praktik lebih di butuhkan oleh anak. karena dengan praktik anak melihat dan mencontoh bagaimana BAK yg baik dan benar. semoga dengan simulasi BAK tersebut anak anak bisa menerapkannya di kehidupan sehari hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *