“Pak Kambali nemenin Pak Aidil, ya! Saya mau ke atas, mengondisikan yang di musala,” pinta Pak Harno.

Oke,” jawab saya.

Saya membersamai Pak Aidil. Dari tempat wudu yang terletak di lantai 1. Menuju musala yang berada di lantai 3. Selama perjalanan, saya mengajak Pak Aidil bicara tentang banyak hal. Terutama tentang keberadaan beliau di SMP Islam Al-Azhar Cairo Palembang Indonesia. 

Baru sedikit hal yang saya tanyakan, ternyata kami sudah tiba di musala. Kami cukupkan percakapan. Beralih persiapan jemaah Zuhur. Ups, saya sempat melihat pemandangan yang menyejukkan hati: semua guru SD 02 telah hadir di musala dan siap berjemaah. Bahkan, dalam hal urutan kedatangan, saya berada di belakang mereka. Alhamdulillah. Semoga Allah mengistikamahkan kebaikan mereka. 

Rangkaian jemaah Zuhur usai. Saya dan Pak Harno membersamai Pak Aidil menuju ruang Kepala Sekolah. Makan siang Pak Aidil sudah disiapkan di ruang tersebut. Saya dan Pak Harno menemani Pak Aidil makan siang. Ups, bukan. Hari itu (18/12/2023) hari Senin. Sudah saya duga, Pak Harno puasa. Pak Harno pun memohon maaf. Sekaligus mempersilakan Pak Aidil menikmati makan siang yang telah disediakan.

Sesi berikutnya terjadwal mulai pukul 12.30. Saya lihat jam. Masih ada waktu. Saya (dan Pak Harno) melanjutkan pembicaraan dengan Pak Aidil. Tentang Al-Azhar Cairo. Ada tiga unit sekolah di bawah Yayasan Al-Azhar Cairo Indonesia: TK, SD, dan SMP. Belum ada SMA. Tepatnya: sedang dipersiapkan pendiriannya. Pak Aidil sempat menceritakan konsep SMA yang hendak didirikan. Berbeda dari SMA pada umumnya. Kesan saya: begitu matang persiapannya. Dari awal sudah sangat jelas diferensiasi keunggulan yang dibidik.

Pak Aidil saat mengisi materi Pelatihan.

Pak Aidil mengajar Bahasa Inggris di SMP Islam Al-Azhar Cairo. Saat ini beliau hanya mengajar satu kelas. Ups, sedikit sekali? Iya, kalau saya memandang Pak Aidil sebagai guru Bahasa Inggris, saya pun mengatakan hal yang sama: sedikit sekali. Namun, setelah mengetahui faktanya, saya justru mengatakan sebaliknya: banyak sekali. 

Pak Aidil itu wakil ketua Yayasan. Yang membawahkan TK, SD, dan SMP. Mengetahui jabatan ini, saya sudah bisa membayangkan kesibukan beliau. Apalagi saat ini, yang sedang merancang pendirian SMA. Belum lagi, terkait urusan sekolah afiliasi (Pagar Alam, Banda Aceh, Yogyakarta, dan Bandung).  Begitu padatnya tugas dan kegiatan beliau. Masih harus mengajar satu kelas.

“Mengapa masih harus mengajar di SMP?” selidik saya.

“Supaya kami yang di Yayasan bisa langsung tahu kondisi riil di bawah. Seperti dulu ada masalah PPPK dan PPG, kami bisa menyikapi dan mengantisipasinya, karena kami tahu kondisi riil.”

Tidak hanya Pak Aidil yang begitu. Ada empat wakil ketua Yayasan. Mereka semua tetap mengajar. Demikan pula ketua yayasannya. 

Sebelum ini, saya menduga Pak Aidil hanya sebagai guru. Namun, faktanya: Pak Aidil itu guru sekaligus pengurus yayasan. 

Ternyata …. Selama ini begitu dangkalnya pengetahuan saya. Cuma permukaan saja yang tampak oleh pikiran saya.

Ada lagi fakta yang menyadarkan saya bahwa betapa saya selama ini baru melihat secara parsial. Saya belum mampu melihat secara utuh. Saya baru mampu melihat kulit luar. Belum bisa melihat isi.

Di Al Azhar Cairo ada lima pilar utama: kurikulum keagamaan, fun learning, iPad/teknologi, pembiasaan baik, dan pilar pemersatu bangsa. Mendengar penjelasan Pak Aidil tentang lima pilar ini, otomatis saya makin penasaran. Tiap pilar harus saya pahami. Tapi saya harus prioritaskan dari yang paling tidak saya kuasai. 

Sekaligus saya merasa seperti orang dungu. Saya kira iPad itulah program unggulannya. Ternyata ada pilar lain yang sangat esensial.  

Satu pilar saya tanyakan. Alhamdulillah, begitu gamblang Pak Aidil menjelaskannya. Di tengah-tengah penjelasan Pak Aidil, masuklah dua pejabat LPI Hidayatullah: Pak Adi dan Pak Nasyriel. Kepala Divisi Pengembangan Sumber Daya Insani dan Kepala Biro Teknologi dan Informasi. Secara struktural, LPI adalah atasan saya. 

Saya harus tahu diri. Saya harus menahan diri. Penasaran yang makin menjadi-jadi harus saya kelola dengan baik. Tidak boleh merusak suasana. 

Saya sudah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga: selama ini saya baru melihat kulit saja, belum bisa melihat isinya. Setidaknya dua hal saya catat. Pertama, di sana Pak Aidil tidak hanya sebagai guru, tetapi sekaligus pengurus yayasan. Kedua, Al-Azhar Cairo bukan hanya tentang iPad, melainkan lima pilar yang dikawal secara bersamaan. (A1)

Guru-guru sedang mengikuti Pelatihan.
Bagikan:
One thought on “Ternyata …”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *