Jalanan Rabu (01/11/2023) itu begitu padatnya dengan lalu lalang kendaraan. Setiap pengendara seolah ingin segera sampai ke tujuannya masing-masing. Saya tetap berusaha santai, meski jam keberangkatan agak lebih siang dari biasanya. Apalagi jalanan memang tak bisa diprediksi. Dibutuhkan kesabaran, karena keselamatan tetaplah nomor satu.

Setibanya di sekolah, saya menyalami Bu Wiwik dan murid-murid yang sudah tiba di sekolah. Selepas itu, saya hendak ke musala. Tiga anak mengekor: Elora, Salma, dan Kinan.

“Salat Duha, yuk, Teman-Teman,” ajak Elora kepada dua temannya, sesampainya di pintu musala.

“Enggak, ah,” sahut Kinan.

Salma diam tanpa jawaban.

“Izin mau wudu dulu, ya, Bu,” ucap Elora kepada saya.

Saya menyetujuinya. Saya tinggal masuk ke musala.

Selang beberapa menit, Elora, Salma, dan Rama masuk ke musala mengucapkan salam. Elora tampak mencari-cari mukenanya, tetapi tak kunjung menemukan. Saya tawarkan meminjam mukena temannya. Ia memegang mukena Rara.

“Tapi belum izin, Bu,” ucap Elora.

“Nanti Bu Eva izinkan ke Rara, ya.”

Elora menurut. Ia segera mengenakan alat salatnya dan bersiap untuk salat. Begitu pun dengan Salma dan Rama.

“Hafal niatnya, kan?” tanya saya kepada mereka.

“Hafal, Bu. Udah bisa,” sahut Salma dan Rama.

Tak lama kemudian, Rara dan Kinan menyusul. Saya penasaran, apa yang membuat Kinan kemudian mengalihkan niatnya? Mengapa ada Rara juga? Ditambah lagi dengan Rama? Saya memprediksi, mereka berpapasan lalu terjadi dialog.

***

Yah, tapi Bu Eva udah selesai salatnya,” ucap Kinan di ambang pintu musala.

Udah, gak pa-pa, ayo,” jawab Rara meyakinkan Kinan.

Melihat Rara masuk, Elora langsung mengungkapkan permintaan maaf karena telah memakai mukena Rara. Ia juga menceritakan kalau mukenanya tidak ada di boks alat salat. Saya merasa keliru dengan tindakan menyuruh anak memakai barang temannya tanpa izin secara langsung.

Kini bergilir, Rara dan Kinan yang melaksanakan salat Duha. Selesai salat, Rara membantu Elora mencarikan mukenanya.

“Mukenanya Elora sudah ketemu, Bu,” lapor Rara kepada saya di kelas.

Kepedulian Rara sangat kentara. Ia tidak marah ketika Elora memakai mukenanya tanpa izin. Justru ia membantu Elora.

Bel sudah berbunyi. Tandanya, kegiatan belajar harus dimulai. Seperti biasa, kami mengawali dengan doa dan tahfiz pagi.

“Besok mau salat Duha lagi, ya, Bu, sama Elora,” kata Rama.

Saya hanya mengangguk, karena tahfiz sedang berlangsung. Anak-anak yang melaksanakan Duha tadi saling melapor dan bercerita kepada temannya. Saya tak ingin cepat mengambil kesimpulan kalau itu pamer. Pamer yang berujung memotivasi tidak mengapa kan?

Terbukti keesokan harinya, episode ini masih berlanjut.

“Elora mana?” tanya Rama sembari mengamati sepatu Elora yang sudah bertengger di petak rak nomor 6.

“Salat Duha,” jawab Aza.

“Lo, kok, aku enggak diajak!”

Bergegas, Rama dan Aza berwudu lalu melaksanakan salat Duha. Percakapan tersebut ditulis oleh Bu Wiwik di grup Daily Activity kelas 1. Wow, pasukan salat Duha sebelum bel bertambah. Alisha, Icha, Gibran, dan Bintang. Saya meyakini mereka termotivasi oleh teman-temannya. Meski salat Duha sudah terjadwal setiap harinya, mereka tak enggan menunaikannya sebelum bel. Senang rasanya mendengar mereka izin berwudu pagi-pagi. Bahkan, beberapa anak izin salat Duha lagi ketika jam istirahat.

Terbukti, kalau tutor sebaya sebegitu ampuhnya. Guru yang ceriwis saja belum tentu mampu memotivasi anak sampai melahirkan pasukan dalam kebaikan.

Ini jadi momen awal bulan November yang sangat mengesankan. Harapannya, kebaikan-kebaikan ini terus bersambung. Pastilah ini terjadi atas campur tangan Allah Swt., yang telah mengetuk pintu hati anak-anak.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *