“Ustazah Amik maju tashih. Mohon doanya”

Itu takarir foto yang dikirim Ustaz Aris—Kepala Divisi QLC LPI Hidayatullah. Di grup LPI HIDAYATULLAH LEADERS.

“Alhamdulillah, lulus.”

Tak berselang lama, Ustaz Aris mengirim chat di atas. 

Itu saya baca di tengah-tengah rapat rutin Rabu. Ya, Rabu (08/11/2023) itu dilaksanakan tashih untuk sejumlah pengabdi LPI Hidayatullah. Dari SD Islam Hidayatullah 02 sebanyak empat pengabdi. Tempatnya, di SMA Islam Hidayatullah. Pengujnya, Ustaz Roghibi dari UMMI Foundation, Surabaya. Bareng dengan siswa SMA. Siswa yang telah menyelesaikan 6 jilid UMMI, ghorib, dan tajwid berkesempatan ditashih. 

Plong rasanya: Bu Amik lulus.

Ups, masih ada tiga lainnya: Pak Aruf, Bu Wiwik, dan Bu Eva. Bagaimana dengan ketiganya? Apakah tidak lulus sehingga Ustaz Aris tidak menyampaikannya? Atau karena belum maju dan masih mengantre? Saya tunggu beberapa saat. Lima menit, 10 menit, 15 menit, … tidak ada kabar. Saya mulai cemas. 

Saya tergoda: japri dan menanya Ustaz Aris. Namun, belum sempat mengetik, tiba-tiba saya membayangkan kesibukan Ustaz Aris. Bila saya tanya, bukankah itu akan makin menambah beban beliau? Apalagi jika benar-benar hasilnya adalah tidak lulus. Saya batalkan niat japri Ustaz Aris. Saya pilih: menahan diri sekalian berlatih sabar.

Walau saya sudah memantapkan diri untuk bersabar, kenyataannya pikiran saya terus terusik. Kalau lancar, tidak mungkin tashih melebihi 15 menit. Saya lihat jeda dua chat Ustaz Aris: kabar Bu Amik maju tashih dan kabar hasil tashih. Ternyata cuma berjeda empat menit. Berarti? Apakah yang lain memang tidak lulus? Bila demikian, masih menyisakan tiga guru yang harus mengulang. Itu berarti pembimbingan (tahsīn) harus dilakukan kembali untuk tiga guru tersebut. Terbayang, betapa saya harus menunda lagi agenda lanjutan yang sudah saya rencanakan. Dan yang paling saya khawatirkan: semangat dan motivasi teman-teman terjun bebas. Betapa susahnya saya untuk memulihkan kembali semangat dan motivasi teman-teman.

Tetapi jika itu kenyataannya, terus mau gimana lagi? Mau menghindar? Menghindar ke mana? Tidak ada pilihan lain, harus dihadapi. Apakah saya bisa? Ya, jika tidak bisa memulihkan semangat, setidak-tidaknya saya tidak boleh makin menurunkan semangat teman-teman. Maka, saya tidak boleh menyayangkannya, tidak boleh menyalahkannya, apalagi memarahinya. Cukup respons standar saja. Atau bila mampu, tunjukkan simpati. 

Astagfirullah, kenapa saya terlalu jauh berandai-andai? Jika konteksnya untuk antisipasi, salahkah yang saya pikirkan?

Setelah 26 menit sejak Ustaz Aris kirim chat di Grup, saya terima chat dari Bu Wiwik.

“Alhamdulillah, Bu Amik, Bu Wiwik, Bu Eva lulus, Pak.”

“Alhamdulillah. Pak Aruf?”

“Belum maju, Pak.”

Beberapa saat kemudian, saya sudah menerima kabar, Pak Aruf juga lulus.

Plong.

Keempat guru SD Islam Hidayatullah 02 lulus semua. Semua pengandaian dan kekhawatiran saya terbantahkan. Saya juga tak perlu khawatir dengan penurunan semangat teman-teman. Sebaliknya, justru saya yakin, teman-teman tambah bersemangat. 

Sebetulnya sejak awal pembimbingan (tahsīn) bersama Usatazah Noffa, saya sudah optimistik: teman-teman pasti lulus. Itu bukan untuk mbombong dan ngayem-ngayemi. Itu setelah saya beberapa kali mendengar langsung teman-teman membaca Al-Qur’an. Dengan tambahan bimbingan Ustazah Noffa berbulan-bulan, saya tambah yakin. Reputasi Ustazah Noffa sebagai guru andal tidak saya ragukan. Sepuluh tahun lebih saya bekerja sama dengan beliau. 

Namun, sekitar dua pekan menjelang tashih, keyakinan saya memudar. Saya bertanya kepada teman-teman tentang perkembangan tahsīn. Jawaban mereka membuat saya khawatir. Sekaligus memudarkan keyakinan saya. Tentu itu saya simpan. Tidak saya tunjukkan. Bahkan, saya menyemangati dan meyakinkan kepada teman-teman: pasti lulus. Adapun dalam hati, saya terus berdoa sekaligus mengembalikan keyakinan.

Alhamdulillah, kini semua sudah terlalui. Bu Amik, Bu Wiwik, Bu Eva, dan Pak Aruf telah lulus. Saya mengakui, keempatnya memang guru hebat. Sebelum itu, empat guru lainnya—Bu Layla, Pak Adhit, Bu Shoffa, dan saya—juga telah lulus tashih dari UMMI Foundation. Maka, seluruh guru saat ini sudah lulus. Tuntas. Berarti, sudah selesaikah? Belum. Justru ini baru awalan. Membaca Al-Qur’an itu baru tahap awal. Bukankah masih ada memahami, mengamalkan, dan menyebarluaskan? Belajar tidak boleh berhenti. Semoga Allah mempermudahnya. (A1) 

Bagikan:
One thought on “Guru Hebat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *