“Ustazah Wiwik, silakan dilanjutkan,” pinta Ustazah Noffa.

Deg. Ada rasa sedikit gugup mendengar nama saya dipanggil. Saya melanjutkan bacaan dari teman sebelumnya. Huruf demi huruf harus terbaca jelas. Setiap huruf harus mendapatkan haknya. Begitu kira-kira yang sering diingatkan oleh Ustazah Noffa.

Ustazah Noffa adalah divisi internal QLC (Qur’anic Learning Center) Hidayatullah. Beliau bertanggung jawab atas pelaksanaan BAQ PAUD dan SD di LPI Hidayatullah. Selama kurang lebih tiga bulan ini, Ustazah Noffa membimbing kami—saya, Bu Amik, Bu Eva, Bu Shoffa, Pak Aruf, Pak Asyiq, dan Bu Faridah—belajar mengaji dengan metode UMMI. Sepekan dua kali, kami mengikuti tahsin bersama beliau.

Tidak mudah. Terkhusus untuk saya. Saya tidak pernah mengenyam pendidikan di institusi Islam. Sekolah dan perguruan tinggi negeri selalu menjadi pilihan saya. Terus terang, saya sangat tidak percaya diri mengikuti tahsin ini. Namun, begitu kembali pada niat awal—belajar—, rasa tidak nyaman itu sedikit terkikis.

Huruf demi huruf saya lantunkan. Ustazah Noffa sengaja mengambil jarak yang jauh dari murid-muridnya. Kami harus bersuara lantang. Suara kami harus terdengar jelas seantero penjuru ruangan berukuran 7 × 7 meter tersebut.

“Astagfirullah,” sela Ustazah Noffa dan beberapa teman.

Saya menyadari kesalahan saya. Saya mengulang kembali. Saya memfokuskan diri pada bacaan yang salah. Baru juga mulai, kalimat istigfar kembali saya dengar. Saya makin gugup. Saya baca ulang. Kesalahan saya makin banyak.

“Tenang, Ustazah. Jangan buru-buru,” nasihat Ustazah Noffa.

Saya berusaha menenangkan diri. Teman-teman yang lain turut memotivasi. Beruntung, saya berhasil menyelesaikan tugas saya. Meski tidak dengan sempurna.

Apa yang saya alami tak jauh beda dari Vano. Seperti biasa, setelah penanaman konsep dan membaca klasikal, setiap anak berkesempatan membaca mandiri. Saya menunjuk anak-anak yang lebih siap untuk membaca lebih dulu. Siap dalam arti menguasai materi. Saat membaca klasikal, guru bisa mengategorikan murid-muridnya.

Hari itu, Vano mendapat giliran paling akhir. Hingga baris ketiga, Vano masih lancar membaca. Pada baris keempat, bacaan Vano tersendat. Beberapa kali teman-temannya mengucap istigfar. Kesalahan Vano makin banyak. Jika sudah demikian, saya akan menjeda dulu sebentar. Mengajak Vano bercanda, sekadar untuk memecahkan “kebekuan”.

“Mas Vano sudah siap melanjutkan? Tarik nafas, tenang.”

“Vano, tenang, ya. Jangan buru-buru,” ucap Elora menyemangati temannya.

***

Menjadi murid Ustazah Noffa sangat membantu saya memosisikan diri sebagai Vano. Tidak mudah, tapi harus tetap dilalui. Saya dan Vano butuh pengalihan. Butuh jeda sejenak sekadar untuk menarik napas panjang. Suntikan semangat dari guru dan teman-teman juga sangat berarti bagi kami berdua.

Setelah tahu bagaimana rasanya jadi murid, saat saya berperan sebagai guru, saya jadi lebih paham apa yang murid butuhkan. Menulis ini, saya jadi teringat akan hadis Arba’in An-Nawawi tentang niat.

“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat.”

Tahsin saya niati untuk belajar. Itu pula yang saya dapatkan: pelajaran.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *