Kalynn latihan menari dalam pelajaran SBDP.

“Teman-Teman, sejak pertama di sini, Bu Shoffa selalu memperhatikan kalian, lo. Mana yang tertib dan mana yang belum tertib. Nah, hari ini Bu Shoffa mau memberi bintang kepada anak-anak yang sudah tertib dan suaranya lantang saat mengaji. Menurut kalian, siapa saja yang dapat bintang dari Bu Shoffa?”

“Ridho, Cemara, Nadia,” jawab mereka serentak.

“Masyaallah, betul semua, tapi ada lagi nih, yaitu Mas Hafidz. Terima kasih buat Mas Ridho, Mas Hafidz, Mbak Nadia, dan Mbak Cemara yang sudah tertib dan suaranya lantang saat mengaji.”

Saya memperhatikan anak-anak yang saya sebut namanya. Terlihat senyuman terukir di bibir mereka.

“Saya juga mau dapat bintang, Bu Shoffa,” pinta Langit dan Itaf serentak.

“Coba ditunjukkan ke Bu Shoffa dan teman-teman lainnya, bahwa kalian bisa tertib. Tapi, tidak hanya satu hari, lo, ya. Terserah Bu Shoffa mau ngasih-nya kapan.”

“Yah,” jawab mereka dengan perasaan kecewa.

“Anak-Anak, sebelumnya, apa Bu Shoffa pernah bilang kalau yang tertib dan suaranya lantang akan dapat bintang?”

“Tidak.”

“Nah, itu. Jadi, seperti pesan Bu Wiwik dulu di kelas 1, ya, kalau kalian berbuat baik harus karena Allah, bukan karena ingin dapat ….”

“Bintang.”

“Masyaallah, anak-anak masih pada ingat semua, ya, dengan pesan Bu Wiwik. O, ya, kali ini Bu Shoffa akan kasih bintang lagi buat satu orang. Jadi, tiga hari kemarin dia sudah menunjukkan ke teman-teman dan Bu Shoffa dengan tidak sedih lagi, bahkan dia sudah hafal surah Asy-Syams dari rumah. Ada yang tahu, siapa dia?”

“Kalynn,” jawab mereka serentak.

Ya, memang di awal observasi, Bu Shoffa selalu melihat Kalynn tampak sedih. Sebelumnya, Kalynn dan teman-teman lainnya mengaji dengan Ustazah Nurul. Karena suatu hal, Ustazah Nurul resign. Empat hari sebelum Ustazah Nurul resign, Bu Shoffa diamanahi Kepala Sekolah untuk mengobservasi, sebelum nantinya menggantikan beliau membersamai anak-anak saat BAQ. Pada hari pertama observasi, semuanya terlihat bersemangat. Sampai pada sesi hafalan, ada salah satu anak yang sedih, yaitu Kalynn. Kalynn mengungkapkan, hafalannya belum lancar dan belum menandai Al-Qur’an.

Kalynn sudah mencapai Al-Qur’an. Ketika sudah mencapai Al-Qur’an, anak-anak diminta dari rumah sudah menandai tempat waqaf dan ibtida’, berhenti dan mengulang dari mana, sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Ustazah Nurul. Hari kedua, Kalynn pun masih sedih dengan alasan yang sama. Hari ketiga, tepatnya Senin, Kalynn tidak berangkat karena sakit. Hari keempat pun masih sama, tidak masuk sekolah.

Kini tiba giliran Bu Shoffa membersamai anak-anak untuk pertama kalinya. Kala itu, Kalynn juga masih sedih dengan alasan yang sama. Hari kedua, Kalynn izin ke kamar mandi dengan alasan wudu. Bu Shoffa mengizinkan. Tiba-tiba saat masuk kelas, Kalynn ditemani oleh Ustazah Layla dengan wajah sedih. Perasaan sedih Kalynn pun terbaca oleh teman-teman satu kelompok. Dan itu sempat membuat kelas BAQ tidak kondusif.

Akhirnya Bu Shoffa bilang, “Kalynn, kalau masih mau nangis, nangis dulu aja gak pa-pa, nanti kalau sudah tenang baru bilang ke Bu Shoffa.”

Yang diberi tahu pun mengganguk. Dan kegiatan BAQ kondusif kembali.

Sepuluh menit sebelum BAQ selesai, Kalynn mengungkapkan bahwa dirinya sudah tenang.

Dan Bu Shoffa pun mengonfirmasinya, “Sebentar, ya, Nak.”

Setelah BAQ selesai, Bu Shoffa pun bertanya, “Kalynn kenapa nangis? Bu Shoffa galak, ya?”

“Enggak, Bu Shoffa.”

“Terus kenapa? Kalynn belum belajar?”

“Iya, Bu Shoffa,” jawabnya sembari menangis kembali.

Gak pa-pa, yang penting Kalynn memperhatikan Bu Shoffa, nanti pasti bisa.”

“Tapi, susah.”

“Ya udah deh, nanti Bu Shoffa kasih tahu caranya, biar ngafalin-nya jadi mudah. Sekarang Kalynn makan snack dulu, nanti ngobrol sama Bu Shoffa lagi.”

Kala itu, Bu Shoffa meminta Kalynn untuk membaca ayat 11 lima kali. Setelah membaca lima kali, Kalynn pun diminta untuk membaca kembali tanpa melihat mushafnya.

Gimana? Mudah, kan?”

“Iya, Bu Shoffa.”

Keesokan harinya, tiba-tiba Kalynn melapor ke Bu Shoffa dengan perasaan bahagia, “Bu Shoffa, aku sudah hafal. Sudah menandai juga, lo.”

“Wah, masyaallah, nanti tunjukkan ke Bu Shoffa, ya.”

Hari berikutnya, Kalynn pun melapor kembali dengan ucapan yang sama. Begitu seterusnya, hingga hari keempat. Kalynn pun mendapat apresiasi bintang dari Bu Shoffa. Alhamdulillah, Kalynn sudah berhasil mengalahkan kekhawatiran dan ketakutan ketika belajar Al-Qur’an.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *