Haqqi saat simulasi mencuci tempat bekal

Ini kali ketiga saya menjumpai. Saya tidak boleh berdiam diri. Saya harus menindaklanjutinya. Sempat bimbang: pasrah ke guru (di kelas masing-masing) atau saya tindak lanjuti sendiri. 

Sebetulnya kalau meminta bantuan guru kelas, saya mendapat keuntungan lain: sekaligus mengingatkan guru agar masalah di kamar mandi juga tetap mendapat perhatian. Namun, saya juga menyadari, pelakunya belum bisa dipastikan kelas berapa. Dengan demikian, ada kemungkinan saling lempar dan mengaku tidak menemukan pelakunya. 

Saya pilih bicara langsung dengan semua kelas. Memang tetap berpeluang gagal menemukan pelakunya, tetapi setidaknya meminimalkan peluang saling lempar atau saling tunjuk. 

Jemaah Zuhur diikuti semua kelas. Usai salat bakdiah, anak perempuan sengaja saya persilakan keluar musala terlebih dahulu. Tersisa anak laki-laki. Ups, ada satu anak laki-laki yang keluar musala bareng anak perempuan. Saya minta bantuan salah satu temannya. Untuk memanggilnya. Tak berselang lama, anak laki-laki sudah lengkap kembali. Ibu-ibu guru saya persilakan ke kelas. Menemani anak perempuan yang sudah di kelas. Bapak-bapak guru tetap di musala.

Saya memang hendak bicara dengan anak laki-laki saja. Sebab kejadiannya di toilet putra. Hampir mustahil, anak perempuan ke toilet putra.

“Anak-Anak, tadi Pak Kambali ke toilet putra. Saya lihat ada ember. Di sebelah ember ada gayung. Gayungnya ditaruh di lantai. Siapakah yang tadi menaruh gayung di lantai?” tanya saya.

Hening. Tak ada yang menjawab. Juga tidak ada yang saling tunjuk. Terkadang, anak yang tahu pelakunya spontan menyebut nama temannya. Kali ini benar-benar senyap. Saya coba mengulang pertanyaan beberapa kali. Nihil. Tidak ada jawaban. 

Akhirnya saya ubah target. Bukan menemukan pelaku, melainkan menasihati anak-anak agar tidak melakukannya di kesempatan berikutnya.

“Anak-Anak, kalau gayung ditaruh di lantai, bagian bawahnya tersentuh lantai sehingga kotor dan bisa jadi kena najis. Kalau kemudian dipakai untuk mengambil air tanpa disucikan terlebih dahulu, airnya jadi ikut kena najis. Nah, mulai sekarang, gayung mohon tidak ditaruh di lantai. Tapi ditaruh di dalam ember. Sanggup, Anak-Anak?”

“Sangguuup!”

Beberapa saat kemudian, anak-anak saya persilakan masuk kelas masing-masing. Saya menuju ke ruang saya. Hingga bel kepulangan, saya masih di ruangan. 

“Asalamualaikum,” seru seorang anak di depan pintu ruang saya.

Setelah menjawab salam, saya mempersilakan ia masuk. Ternyata Haqqi. Anak kelas 2. Haqqi mendekati saya. Lalu mengajak salim.

“Maaf, Pak Kambali, tadi yang menaruh gayung di lantai itu saya,” aku Haqqi.

Saya terkejut. Juga senang. Haqqi mau mengaku. Dan saya bisa melihat rasa penyesalan di wajah Haqqi. Matanya masih tampak berkaca-kaca. 

“Oh, Mas Haqqi? Coba Mas Haqqi duduk dulu!”

Haqqi duduk. Lalu saya ajak bicara. Saya apresiasi kejujurannya. Sekaligus saya kuatkan, agar tidak mengulangi lagi. Saya juga penasaran, bagaimana akhirnya ia mengakui.

“Tadi saya ditanya Bu Wiwik,” jelas Haqqi.

Setelah beberapa saat, Haqqi saya persilakan keluar ruangan. Sebetulnya saya masih penasaran, kok bisa Bu Wiwik bertanya. Bukankah Bu Wiwik tidak di musala saat saya membahas hal itu? Tetapi saya pikir lebih baik tanya langsung kepada Bu Wiwik. Sesaat kemudian Bu Wiwik kirim chat.

“Tadi Haqqi sudah menghadap Pak kambali?”

Sampun. Matur nuwun, Bu.”

“Alhamdulillah. Sami-sami, Pak.”

“Lama atau cepet, ngakunya, Bu?”

“Berbelit, Pak. Awalnya sempat berbohong. Saya kuatkan kalau tidak dimarahi, tapi supaya bisa dinasihati.”

Saya jadi tahu, mengapa mata Haqqi tampak berkaca-kaca. Namun, saya masih penasaran, dari mana Bu Wiwik tahu. Bahkan kemudian menindaklanjutinya. Hingga ketemu pelakunya.

“Saya tadi tidak melihat Bu Wiwik di musala, kok Bu Wiwik tahu tentang gayung yang saya bicarakan dengan anak-anak putra?”

“Setelah anak-anak kembali, saya tanya ke Fathir dan Rafa, Pak.”

Alhadulillah. Terima kasih, Bu Wiwik, telah menindaklanjuti tanpa harus saya minta. Semoga menguatkan anak-anak untuk bersikap jujur dan berbuat baik di mana pun berada. (A1)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *