Vano (paling depan) dan Rafa (belakang Vano) sedang bermain kereta-keretaan.

Tahfiz telah usai. Waktunya mengaji (BAQ). Anak-anak berhamburan ke luar kelas. Sambil membawa buku ngaji dan minum mereka. Mereka selalu ingin jadi yang pertama. Alamiahnya anak-anak memang begitu. Namun, mereka juga paham dan sadar: dilarang berlari. Jika ada yang berlari, teman yang lain akan melapor ke guru. Jika sudah begitu, si “pelari” harus mengulang. Berjalan dari titik awal dia berlari.

Kelompok BAQ Bu Wiwik terdiri atas tujuh anak. Akbar, Vano, Gibran, Keenan, Elora, Icha, dan Inara. Dari ketujuh anak itu, Akbar-lah yang paling akhir masuk ruang BAQ. Bu Wiwik sengaja memperlambat diri. Ia ingin memberi kesempatan lebih lama bagi murid-muridnya untuk bersiap. Keenam anak itu menata dampar masing-masing. Menatakan meja untuk gurunya. Menyiapkan peraga. Menyalakan lampu dan AC. Entah sejak kapan kebiasaan itu terbangun. Yang pasti, Bu Wiwik tidak pernah meminta murid-muridnya melakukan itu.

Rupanya, murid-murid kecil itu mengamati kebiasaan gurunya. Beberapa kali mereka melihat Bu Wiwik mengangkat meja, menyiapkan peraga, serta menyalakan lampu dan AC. Pengamatan mereka menumbuhkan kepedulian. Kini, Bu Wiwik tak perlu lagi mengangkat meja dan menyiapkan sendiri semuanya. “Prajurit-prajurit” kecilnya itu sigap tanpa diperintah.

“Teman-Teman, insyaallah hari ini kita akan membaca dua halaman. Menurut Bu Wiwik, halaman 24 ini mudah. Jadi, nanti kita tambah halaman 25, ya,” jelas Bu Wiwik setelah pengondisian kelas.

“Aku, eh, saya sudah baca halaman 25, Bu,” ucap Gibran.

“Saya juga sudah, Bu,” seru anak-anak lain tak mau kalah.

“Masyaallah. Hebat! Oke, karena hari ini kita membaca dua halaman, jadi, Bu Wiwik minta anak-anak lebih fokus lagi, ya, supaya waktunya cukup. Saat ada yang membaca, teman-teman yang lain harus menyimak, karena dengan menyimak, sebenarnya kalian juga belajar.”

Tahapan pembelajaran BAQ terlaksana. Semua anak telah mendapat giliran membaca halaman yang dipelajari hari itu. Tak disangka, waktu masih tersisa. Bu Wiwik menggunakan kesempatan itu untuk mengulang hafalan surah Al-Humazah. Bu Wiwik juga sempat membekali murid-muridnya membaca bersama halaman 26.

Masih tersisa waktu lima menit. Bu Wiwik merasa pembelajaran perlu dicukupkan.

“Teman-Teman, masih ada waktu lima menit. Kalian bisa bermain dulu sambil menunggu bel.”

Yeay!”

Bu Wiwik menyerahkan tumpukan buku ngaji semua murid kepada Elora. Ia kapten ngaji hari ini. Salah satu kesepakatan di kelompok ini, kapten-lah yang membawakan buku ngaji semua anak. Nanti dibagikan di kelas. Demi efektivitas. Setiap selesai mengaji, anak-anak harus mengembalikan dampar ke tempatnya. Bisa dibayangkan betapa repotnya: mengembalikan dampar sambil membawa botol minum dan buku ngaji. Jika buku ngaji dibawakan oleh kapten, setidaknya anak-anak tidak mengalami kerepotan setiap hari.

Elora meletakkan buku-buku itu di meja depan kelas. Ruang kelas masih tertutup. Tanda kelompok BAQ Ustaz Aruf belum selesai. Elora dkk. paham, mereka dilarang mengetuk-ngetuk pintu jika pintunya masih tertutup. Mereka menggunakan waktu sela itu untuk bermain. Anak-anak putra bermain kejar-kejaran. Sementara anak-anak putri bermain lompat-lompat di area gerbang depan.

Ketika bel berbunyi, pintu kelas sudah terbuka. Anak-anak bersegera masuk kelas.

“Bu Wiwik, Elora jatuh. Tangannya berdarah,” lapor Icha.

Bu Amik lebih dekat dengan Elora. Beliau dengan sigap memberi pertolongan. Bu Amik mengajak Elora ke UKS dan mengobati luka muridnya itu.

Bu Wiwik melirik ke arah meja depan kelas. Tersisa dua buku. Milik Elora dan Vano. Juga ada sebuah botol minum berwarna biru. Bu Wiwik sengaja membiarkan. Ia lantas masuk kelas. Vano menenteng dua buku dan botol minumnya. Rafa menenteng dua botol minum dan buku ngaji.

Vano meletakkan sebuah buku di atas salah satu meja di kelompok “nanas”. Pun Rafa. Ia meletakkan botol minum berwarna biru di meja yang sama. Rupanya itu meja Elora. Senyum tipis tersungging di kedua sudut bibir Bu Wiwik.

Vano (paling depan) dan Rafa (belakang Vano) sedang bermain kereta-keretaan.

“Elora tangannya berdarah,” lapor Vano kepada teman-temannya.

“Iya, sekarang dia di UKS,” timpal Rafa.

Akbar kaget. Pun anak-anak lain. Mereka khawatir dan menanyakan kondisi Elora.

“Aku mau nengok Elora,” ucap Akbar sembari mengambil sandal lalu bergegas keluar kelas.

Bu Eva menjelaskan bahwa Elora tidak apa-apa. Luka kecil saja. Saat ini sedang dirawat oleh Bu Amik. Pembelajaran berikutnya berlanjut. Tak berselang lama, Akbar, Elora, dan Bu Amik kembali ke kelas.

Luar biasa anak-anak ini. Bagaikan satu tubuh: satu bagian sakit, yang lain berempati. Tak hanya sekadar empati. Vano, Rafa, dan Akbar juga membuktikan kepedulian tingkat tinggi. Tak hanya mereka bertiga. Inara, Icha, Gibran, dan Keenan juga tak kalah peduli. Mereka bersedia mengalah mengambil buku ngaji masing-masing, yang mestinya itu adalah tugas Elora.

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *