Jemaah Zuhur musala A telah berkumpul. Murid-murid kelas 1 dan 2. Ya, selain musala A, ada pula musala B. Diperuntukkan bagi jemaah Zuhur kelas 3 dan 4. Pembagian tempat salat tersebut didasarkan pada jenjangnya. Secara psikologis, anak-anak kelas 1 dan 2 tidak jauh berbeda. Begitu pun dengan kelas 3 dan 4.

Saya tiba di musala A pkl 12.13. Karpet musala sudah hampir penuh diduduki. Saya mencari area yang safnya belum rapat. Dapat. Di saf ketiga bagian tengah. Anak-anak melantunkan selawat busyra. Biasanya, jika selawat dilantunkan, azan telah dikumandangkan sebelumnya. Pun Selasa (09/09/2025) siang itu. Saya menanya kepada salah seorang jemaah putri untuk memastikan. Sebagian besar jemaah sudah melaksanakan salat sunah rawatib.

Sembari memakai mukena, saya melihat sekeliling. Beberapa anak kelas 1 memasuki musala. Mereka adalah anak-anak yang berwudu pada “kloter” terakhir. Di antara anak-anak tersebut, terdapat dua anak putri. Salah satunya telah mendapatkan tempat.

Baca juga: Membangun Kepercayaan Murid

Clemira masih terpaku. Wajahnya menyiratkan kebingungan. Matanya menyapu seluruh penjuru saf putri. Saya megangkat tangan. Clemira menangkap angkatan tangan saya. Saya lantas mengisyaratkan untuk mengajaknya duduk di samping saya. Clemira mendekat mengikuti isyarat saya.

Sehari sebelumnya, saya berinteraksi dengan Clemira di kelas. Bu Eva mendapat tugas dinas luar. Saya turut mendampingi Bu Yeni di kelas. Pada kesempatan itu, terdapat satu kejadian yang mengharuskan saya berinteraksi secara personal dengan Clemira. Saat itu, salah seorang anak keserimpet tali tas Clemira. Temannya itu terjatuh dan kepalanya terbentur.

“Mbak Clemira, tadi Mas Rayyan keserimpet tali tasnya Mbak Clemira. Lalu jatuh dan dahinya terbentur,” jelas saya.

Clemira tampak berpikir. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan dan rasa bersalah.

“Menurut Clemira, supaya lebih aman, sebaiknya tasnya ditaruh di mana, Nak?”

“Di loker,” jawab Clemira.

“Iya, betul. Mulai besok, tasnya dimasukkan ke loker, ya.”

Clemira mengangguk.

Interaksi personal tersebut cukup mengesankan bagi saya. Terlebih, beberapa kali, saya dapati Clemira mengamati saya di kelas. Setidaknya Clemira mulai memercayai saya—simpulan saya. Bagi saya, kepercayaan merupakan salah satu pintu masuk untuk memengaruhi.

Baca juga: Membangun Kepercayaan

***

Clemira duduk di sebelah kiri saya. Saya sengaja memperlambat diri. Setelah gadis kecil itu selesai mengenakan mukenanya, saya berdiri. Menunaikan salat rawatib. Clemira ikut berdiri. Saya manfaatkan kesempatan itu. Ia mengikuti gerakan takbiratul ihram saya.

Biasanya, anak-anak melaksanakan salat sunah rawatib dengan tergesa-gesa. Bersyukur, salat kabliah Clemira kali ini dilakukan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Ia mengikuti gerakan saya. Sejak awal hingga salam. Sesekali Clemira menoleh ke kanan. Melihat gerakan saya. Lalu menirukannya. Menggemaskan sekali tingkahnya.

Interaksi personal kedua saya dengan Clemira ini kian memperkuat keyakinan saya. Kepercayaan berbanding lurus dengan keterpengaruhan.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code